
Oleh: Zidna Ilma
Pemuda Ideologis
Dikutip dari Detik, Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 kemarin diwarnai temuan praktik perjokian. Dua kampus besar di Jawa Timur, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Universitas Airlangga (Unair), melaporkan adanya upaya kecurangan dari peserta.
Rabu (22/4/2026), di Unesa, panitia berhasil mengamankan seorang joki yang mencoba mengelabui petugas dengan dokumen palsu. Sementara di Unair, identitas terduga joki sudah terendus sehingga ia memutuskan untuk tidak hadir di lokasi ujian.
Kejadian seperti ini bukan pertama kali terjadi di negeri ini. Fenomena ini bahkan hampir menjadi tradisi tahunan setiap kali UTBK-SNBT digelar. Hal ini menegaskan kegagalan implementasi peta jalan pendidikan, yang seharusnya membentuk generasi berkarakter. Saat ini, banyak pelajar justru cenderung sekuler, liberal, dan pragmatis, jauh dari predikat kaum intelektual yang beradab dan bermoral.
Sistem pendidikan sekuler kapitalistik turut menyumbang kondisi ini. Sistem ini menghasilkan individu yang ingin sukses secara instan tanpa melalui proses belajar dan kerja keras. Banyak pula yang rela menghalalkan segala cara demi meraih keuntungan materi.
Kasus kecurangan berulang ini juga diperparah oleh longgarnya sanksi negara terhadap pelaku yang masih berstatus pelajar. Mayoritas mereka masih di bawah umur, sehingga tindakan kriminal sering dianggap sekadar kenakalan anak-anak. Akibatnya, mereka tidak pernah merasa jera dan cenderung mengulang perbuatannya.
Lebih jauh, pendidikan sekuler saat ini minim menanamkan nilai-nilai agama yang benar. Karena asasnya memisahkan agama dari kehidupan, ruang kebebasan pelajar menjadi luas tanpa batas. Hal ini mengikis moral dan kepribadian mereka, sekaligus mempermudah mereka terseret pada tindak kejahatan dan kemaksiatan.
Berbeda dengan sistem pendidikan Islam, yang menempatkan pendidikan sebagai hal mendasar dan penting. Negara memiliki kewajiban menjamin pemenuhan pendidikan bagi seluruh rakyatnya. Pendidikan Islam tidak berfokus pada keuntungan semata, tetapi berasaskan akidah. Sistem ini mampu melahirkan insan kamil yang cerdas sekaligus bertakwa, serta menolak kecurangan demi meraih kesuksesan.
Selain mengajarkan ilmu, pendidikan Islam juga membentuk karakter pelajar. Karakter yang ditanamkan adalah karakter Islam (syakhsiyah Islamiyah), sehingga pola pikir dan sikap pelajar selaras dan konsisten dengan nilai-nilai agama.
Islam juga menerapkan sistem sanksi yang tegas bagi semua pelaku kejahatan, termasuk pelajar. Dengan adanya sanksi ini, para pelaku akan merasa jera dan tidak mengulangi perbuatannya.
Wallahu a'lam bishshawwab

0 Komentar