PENIKAM PERJUANGAN


Oleh : Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik

Sejak dahulu kala, ada saja barisan pengkhianat yang mencari 'berkah' dari momentum perjuangan, mengabaikan mereka yang berada di benteng terdepan pertempuran. Mereka, menjadi 'utusan musuh' untuk menghentikan perlawanan, dengan meminta para pejuang melunak, melakukan gencatan senjata, dan menghadiri 'jebakan' meja perundingan.

Para pengkhianat mengais rezeki, diantara keringat, darah dan air mata perjuangan. Mereka mengobarkan narasi berdamai, mengikat perjanjian, padahal pertempuran sedikit lagi dimenangkan.

Mereka, awalnya berada didalam barisan perjuangan, ikut meneruskan seruan melawan kezaliman, lalu melemahkan perlawanan. Mereka, seperti Abdulah Bin Ubay Bin Salul yang menebar narasi yang melemahkan perjuangan.

Mereka, menikam perjuangan dari dalam. Mereka, menyiapkan cawan-cawan, untuk menampung darah pengkhianatan. Mereka, meminum setiap cawan darah perjuangan, seperti unta kehausan ditengah padang pasir.

Mereka tak peduli, pengkhianatan itu berbau anyir. Mereka, telah memenuhi dahaga akan dunia, dengan menggorok leher perjuangan, dan meminum setiap tetes darah hingga paling penghabisan.

Mereka berdiri di dua kaki, dan akan berpindah sesuai kepentingan. Saat rezim belum memberi roti, mereka terlihat garang. Saat rezim melempar tulang, tiba-tiba mereka menjadi jinak seperti anjing piaraan.

Wahai kaum pejuang, wahai aktivis buruh dan mahasiswa, wahai umat seluruhnya, Sungguh, saya telah menasehati kalian, untuk tetap teguh di parit-parit perjuangan. Sungguh, saya telah mengingatkan bahaya berunding dengan rezim zalim lagi khianat.

Saya tak akan pernah menerima keluhan kalian, sebab adanya pengkhianatan rezim, setelah kalian mampu dijebak dan masuk perangkapnya. Saya tak akan mengulangi seruan kedua kalinya, karena sesal atas kesalahan itu tiada guna.

Sekali lagi saya tegaskan, apakah kalian lebih mempercayai rezim yang terbukti berulangkali zalim dan khianat, ketimbang seruan saya pada banyak waktu dan kesempatan ? Apakah kurang, penjelasan yang saya sampaikan, hingga kalian tak mampu menunjuk makna perjuangan dengan ujung jari kalian ?

Apakah kalian, memiliki banyak nyawa untuk dipersembahkan dalam pengkhianatan dan digorok sia-sia ? Apakah, akal kalian tak mampu menyelami kebenaran dan hakekat perjuangan yang sesungguhnya ?

Tinggalkan ! Siapapun diantara kalian yang menyeru ke meja perundingan. Putus hubungan, kepada siapapun yang melemahkan perlawanan.

Tetap teguh dan istiqamah di garis depan. Tetaplah siaga diparit parit perjuangan. Sungguh, semburat cahaya kemenangan itu telah terlihat, sabarlah untuk menyelesaikan pertempuran untuk waktu yang tinggal sedikit lagi. [].

Posting Komentar

0 Komentar