MOHON MAAF, TELAT. INI CUMA INFO RASA KOPI TALIWANG


Oleh : Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik

Saat menunggu proses persidangan di pengadilan, tadi istri info via voice note WhatsApp. Saya diberitahu, kalau kiriman sudah datang. Iya, kiriman kopi Taliwang yang tempo hari saya ceritakan.

Hanya saja, saya belum bisa menikmati. Menunggu selesai pekerjaan (maklum, kuli tinta di pengadilan), selepas ketemu klien, barulah sore hari tiba di rumah. Suasana sore dengan hujan yang deras di Bekasi, menambah nikmat menikmati kopi.

Segera saja, istri saya instruksikan (tanpa ancaman pemecatan, seperti instruksi Mendagri), untuk menyeduh kopi Taliwang kiriman Bang Hatta Taliwang. Tentu, dengan seduhan tanpa gula. Cara menikmati kopi agar mengetahui karakteristik rasanya, ya harus tanpa gula. Tapi sebagian orang, juga merasa nikmat dengan campuran gula.

Ketika saya mencicipi kopi Taliwang, lidah, ruang mulut dan kerongkongan saya fokus pada keasaman dalam kopi yang segar, menusuk, tajam, tapi pas sekali untuk dinikmati. Saya memastikan, bahan dasarnya kopi jenis kopi Arabika. Kenikmatan rasa kopi Arabika terasa alami pada after taste. Dilangit mulut pasca menyeruput, sensasinya terasa melekat (Jawa : nyetak).

Cita rasa kopi memang mengkonfirmasi bahan yang digunakan : kombinasi kopi, beras, cengkeh, pala, kacang ijo, kayu manis, dan jahe. Rasanya nano nano ? Nggak juga, rasa khas kopinya tetap dominan. Tidak ada rasa manis, asam, asin seperti rasa 'Candy' yang kondang tahun 90 an.

Rasa beras, cengkeh, pala, kayu manis, dan jahe mampu saya indera dengan ujung lidah dan pangkalnya. Namun rasa kacang ijo ? Itu saya yang 'Lost Taste'.

Sewaktu kecil, kami di Lampung biaya mencampur kopi dengan beras atau jagung. Bukan demi rasa, tapi demi keawetan.

Daerah kami di Way Jepara Lampung Timur (dahulu Lampung Tengah) penghasil lada dan kakao, tak ada kopi. Saudara kami di daerah Banjit dan Sekincau, Lampung Utara penghasil kopi. Jika bersilaturahmi ke rumah, atau kami yang ke Lampung Utara, selalu di bawakan oleh-oleh bijih kopi.

Nah, kopi tadi di goreng sangrai dengan beras atau jagung, ditumbuk halus (Jawa : Dideplok), di ayak, dan jadilah bubuk kopi siap seduh. Kopi ini, biasanya bisa nyambung dari musim ke musim. Karena awetnya.

Kembali ke Kopi Taliwang. Citra rasanya mirip kopi Lampung, terutama dari daerah Liwa, Lampung Barat.

Meski tak memiliki kadar kepekaan yang presisi seperti penikmat kopi sejati, tapi insyaallah saya mampu mengenali, membedakan dan membandingkan antara satu jenis kopi dengan jenis lainnya.

Misalkan, saya diminta menikmati kopi Taliwang, dengan mata tertutup kain, niscaya dengan aroma dan rasanya saya tahu bahwa yang saya nikmati kopi Taliwang, sepanjang ada yang menginformasikan sebelumnya. Hehe.

Sebenarnya, me-review kopi semestinya sejak saat kopi diseduh. Aroma kopi yang muncul akan berbeda-beda tergantung asal kopinya. Namun sayang, saya tidak memperhatikan proses menyeduhnya. Cintaku (baca: istri) yang menyeduhkan kopi kiriman bang Hatta Taliwang untuk ku.

Seduhan istri, itu menambah rasa yang berjuta. Beda kalau yang menyeduhkan Jokowi, mungkin langsung saya buang kopi seduhan itu.

Sebenarnya melalui cara yang sederhana yaitu dengan mencium aroma dan merasakan seduhan kopi, kita mampu membedakan rasa kopi. Apalagi kopi kiriman Bang Hatta Taliwang, rasanya RASAH MBAYAR (Jawa : tidak perlu membayar alias gratisan). Kopi gratis, juga memberikan sensasi tersendiri.

Coba kita ke sebuah kedai makan, saat makan mungkin enak, tapi begitu tagihan makan mahal, rasanya ingin semua isi perut dimuntahkan. Tapi jika kita bertanya, berapa harganya pak semua hidangan tadi ? Kemudian si empunya kedai menjawab : oh sudah pak, tadi tagihannya sudah ada yang melunasi. Rasanya lega sekali, perut seolah kosong kembali dan ingin makan lagi.

Kopi yang memiliki body yang kental seperti kopi Sumatra termasuk kopi Lampung, memiliki citra rasa khas. Saya menilai, kopi Taliwang memiliki body kental. Sementara itu, kopi yang memiliki body ringan seperti kopi Mexico saya agak kurang berselera. Ini cuma soal selera ya, bukan soal rasa.

Untuk menilai kopi, semestinya semua aspek meliputi flavor, after taste, acidity, body yang seimbang disebut balance. Jadi jika ingin objektif, coba beli kopi Taliwang, seduh dan raskakan aromanya, seruput rasanya, kemudian silahkan review sesuai selera Anda.

Yang jelas, Bang Hatta Taliwang telah mampu mengindera selera rasa yang saya suka. Yakni kopi gratisan. Aspek gratis itulah, yang membuat hati ini berbunga bunga saat menyeruputnya. [].

Posting Komentar

0 Komentar