BACAAN SHOLAWAT ITU KEMBALI BERGEMA


Oleh : Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik 

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأَشْغِلِ الظَّالِمِيْنَ بِالظَّالِمِيْنَ وَأَخْرِجْنَا مِنْ بَيْنِهِمْ سَالِمِيْنَ وَعَلَي الِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
(Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa asyghilizh zholimin bidz zholimin wa akhrijna min bainihim salimin wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in).

“Ya Allah, berikanlah sholawat kepada pemimpin kami Nabi Muhammad, dan sibukkanlah orang-orang zalim dengan orang zalim lainnya. Selamatkanlah kami dari kejahatan mereka. Dan limpahkanlah sholawat kepada seluruh keluarga dan para sahabat beliau,”.

Bacaan diatas, adalah bacaan sholawat Al Asyghil. Sholawatnya orang tertindas, kaum mustad'afin, kaum termarjinalkan, kaum terzalimi. Sholawat ini, adalah aduan dari seorang hamba, yang bersholawat terhadap Nabi, memohon pertolongan Allah SWT, agar Allah SWT adu domba kaum yang zalim, disibukan satu dengan yang lain, saling bermanuver, membuat makar, dan saling menzalimi diantara para penzalim.

Sholawat yang diwariskan Imam Ja’far Ash-Shodiq, yang juga diamalkan oleh Habib Ahmad bin Umar Al-Hinduan Ba 'Alawy. Sholawat ini, pertama kali kembali bergema dan terngiang di telinga penulis, pasca pembacaan putusan zalim PTUN Jakarta, yang mengesahkan pencabutan BHP HTI, sebuah ormas Islam yang hanya menjalankan aktivitas dakwah Islam, yang memiliki visi ingin melanjutkan kehidupan Islam dengan menegakkan Khilafah.

Khilafah sebagai ajaran Islam, dituding ajaran kriminal dan menjadi dasar pencabutan BHP HTI. Padahal, kader HTI tidak pernah korupsi, tidak mabuk, tidak main perempuan, tidak judi, tidak berbuat kriminal, gemarnya bikin pengajian, kumpul di masjid, dan aktif mengingatkan masyarakat dan penguasa, agar mentaati syariat Allah SWT.

Ya, itulah saat penulis benar-benar meresapi makna sholawat ini dan terlibat dalam pengalaman spiritual dan politik, dizalimi oleh rezim Jokowi. Padahal, sejak kecil penulis telah karib dengan bacaan sholawat ini, dan sering melantunkannya menjelang azan atau pasca azan sambil menunggu iqomat.

Penulis adalah saksi, bahwa mereka yang terhimpun dalam perjuangan untuk menegakkan khilafah adalah kumpulan orang baik, yang menginginkan negeri ini menjadi baik, dengan menerapkan hukum dari dzat yang maha baik. Itulah syariat Islam.

Kini, sholawat Al Asyghil ini kembali hilir mudik di lini masa sosial media, mengiringi sejumlah aksi massa yang mendatangi sejumlah kantor polisi di berbagai daerah, untuk menuntut pembebasan HRS. ya, lantunan sholawat ini membawa penulis pada perasaan betapa pilunya dizalimi, padahal ingin berbuat kebajikan untuk negeri.

HRS tidak korupsi, tidak melakukan kejahatan apapun. Satu-satunya kesalahan HRS adalah tidak mau tunduk pada rezim ini. Andaikan HRS mau berunding dan menyepakati syarat yang diajukan rezim, sudah pasti penangkapan dan penahanan HRS tidak akan pernah terjadi.

Penulis jadi teringat pesan dari Ust Ismail Yusanto dalam pertemuan beberapa tokoh ormas di bilangan Tebet, tiga tahun yang lalu. Pasca pengumuman Perppu Ormas, Jubir HTI ketika itu menyatakan HTI akan menjadi target pertama. Selanjutnya, ormas Islam lainnya.

Saat itu, pasca pertemuan Ust Ismail juga melantunkan sholawat Al Asyghil. Seolah, HTI telah merasakan begitu dekat, rezim akan menimpakan kezaliman terhadap mereka.

KH Tengku Zulkarnain juga pernah mengingat kepada KH Ma'ruf Amien, bahwa kezaliman rezim bukan hanya kepada HTI. Tapi, akan merembet ke FPI, NU hingga MUI.

Mari, dalam ketidakberdayaan kita, memohon kepada Allah SWT, agar Allah SWT sibukkan sesama penzalim, agar pecah kongsi mereka, agar tercerai berai persatuan mereka. Kita baca lagi sholawat Al Asyghil.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأَشْغِلِ الظَّالِمِيْنَ بِالظَّالِمِيْنَ وَأَخْرِجْنَا مِنْ بَيْنِهِمْ سَالِمِيْنَ وَعَلَي الِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
[].

Posting Komentar

0 Komentar