
Oleh: Irohima
Penulis Lepas
Gelombang aksi protes besar-besaran melanda Amerika Serikat pada akhir Maret 2026. Aksi protes yang bertajuk "No Kings" ini diikuti oleh sekitar 8 juta warga Amerika Serikat di lebih dari 3.300 lokasi di berbagai negara bagian. Mata dunia pun tertuju ke sana, dengan media yang ramai memberitakan tentang aksi yang meledak di tengah tensi politik dan kebijakan imigrasi pemerintahan Donald Trump.
Aksi "No Kings" ini merupakan yang pertama sejak pecahnya perang gabungan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sebulan yang lalu. Aksi ini juga menandai gelombang ketiga protes nasional sejak Trump kembali menjabat untuk masa jabatan kedua (Idnfinancials, 29/03/2026).
Aksi "No Kings" bertujuan menentang apa yang disebut peserta sebagai penyalahgunaan kekuasaan dan ancaman terhadap demokrasi oleh pemerintahan Trump. Aksi ini meluas hingga ke beberapa kota di Eropa dan diikuti oleh banyak orang, termasuk beberapa tokoh publik seperti Robert de Niro. Aksi ini juga mencerminkan kemarahan publik atas kebijakan dalam negeri dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Kemarahan publik atas kebijakan pemerintahan Trump dipicu oleh beberapa isu, seperti kebijakan imigrasi yang ketat, kepemimpinan yang otoriter, isu anti-perang, serta kebijakan ekonomi terkait pajak korporasi dan perdagangan internasional. Seperti yang kita ketahui, akibat kebijakan ekonomi pemerintahan Trump, utang nasional Amerika Serikat pada Maret 2026 telah menembus angka USD 39 triliun atau setara dengan Rp 661.440 triliun.
Utang yang membengkak ini disebabkan oleh lonjakan pengeluaran akibat konflik AS-Israel-Iran, yang membuat penduduk Amerika Serikat kini menanggung utang sebesar USD 113.875 atau sekitar Rp 1,93 miliar per individu. Dengan utang yang meningkat pesat sejak awal pemerintahan Donald Trump, Amerika Serikat kini menjadi negara dengan beban utang terbesar di dunia dan berada di ambang kebangkrutan.
Kondisi Amerika Serikat yang mengalami perpecahan politik dan ekonomi yang semakin sulit tidak lepas dari ambisi Trump yang ingin menguasai dunia melalui kebijakan militernya. Sikap Trump yang secara terang-terangan mendukung Israel untuk menguasai Palestina serta bersekutu dengan Eropa dan negara-negara Teluk untuk menyerang Iran telah membuka mata dunia, termasuk rakyat Amerika Serikat, terhadap kejahatan yang dilakukan oleh Trump dan hegemoni kapitalisme Amerika Serikat.
Amerika Serikat, yang dulu dipuja sebagai negara superpower dan menjadi kiblat dalam segala hal, kini tengah terseok-seok menuju kehancuran. Sistem kapitalisme yang mereka propagandakan nyatanya justru membawa kesengsaraan. Lihatlah, negara yang mengampanyekan sistem kapitalisme ini justru tidak mampu menangani berbagai kekacauan yang terjadi di dalam negeri mereka sendiri.
Di tengah eskalasi konflik Iran-AS-Israel, kita seharusnya sudah bisa melihat dengan jelas arah yang ingin dicapai oleh Amerika Serikat. Namun sayangnya, banyak pemimpin negeri-negeri Muslim yang masih saja bersekutu dengan Amerika Serikat, berharap bantuan darinya.
Padahal, AS dengan sistem kapitalismenya terbukti telah gagal dan kini mendapatkan penolakan keras dari rakyatnya sendiri. Namun, para pemimpin negeri Muslim justru memilih berseberangan dengan negeri yang seharusnya mereka bela. Betapa menyakitkan ketika mereka turut berperan dalam kebijakan Trump yang penuh dengan ambisi kekuasaan dan penjajahan. Pengkhianatan mereka harus kita hentikan, karena bisa menjadi api dalam sekam.
Umat harus disadarkan dan membuka mata lebar-lebar bahwa Amerika Serikat dan hegemoni kapitalisme serta politik demokrasinya telah merusak tatanan dunia dan kehidupan antar bangsa. Kita, umat Muslim, hanya dijadikan alat adu domba untuk meraih dan mengamankan kepentingan mereka. Selama ini, kita hidup di bawah kendali kaum penjajah, kita tak memiliki kemandirian apalagi kedaulatan. Kemiskinan dan kezaliman seakan menjadi menu keseharian, nyawa umat Muslim pun terasa murah sekali untuk dikorbankan.
Semua kerusakan, penderitaan, dan kezaliman sejatinya lahir dari berbagai kebijakan politik yang diterapkan sebagai standar yang harus kita ikuti. Sayangnya, banyak dari kita yang belum menyadari, bahkan terkadang tidak peduli, bahwa sebenarnya kebijakan politik sangat mempengaruhi setiap aspek kehidupan kita, baik itu sosial, pendidikan, kesehatan, maupun ekonomi.
Maka, atas dasar ini, penting bagi kita untuk memahami politik, karena dengan mengerti politik, kita tidak akan mudah dikendalikan apalagi dijajah. Umat mesti disadarkan akan bobroknya politik dalam sistem demokrasi saat ini, yang hanya menghasilkan kesengsaraan.
Islam bukan hanya agama yang mengatur aspek ibadah saja, tetapi juga memiliki sistem politik dan pemerintahan yang mampu menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan keamanan. Islam adalah satu-satunya solusi atas kegagalan sistem saat ini. Berbagai kebijakan politik yang lahir dari sistem Islam akan dilandasi oleh berbagai pertimbangan dan selalu memprioritaskan kepentingan umat daripada korporasi. Al-Qur'an dan Sunnah senantiasa menjadi pedoman dalam menetapkan kebijakan di seluruh aspek kehidupan.
Wallahu a'lam bish-shawab.

0 Komentar