GAGALNYA NEGARA KAPITALIS DALAM MENYEDIAKAN FASILITAS UMUM, NYAWA PUN JADI TARUHANNYA


Oleh: Ermawati
Aktivis Dakwah

Apa jadinya jika sarana umum yang setiap hari digunakan untuk lalu lalang masyarakat sekaligus menjadi pusat perputaran ekonomi rakyat justru tidak mendapat perhatian serius dari negara? Banyak jalan yang rusak dan berlubang, sehingga sering terjadi kecelakaan lalu lintas. Salah satunya adalah kecelakaan saat hendak mudik yang menelan korban satu keluarga. Padahal, semua ini seharusnya sudah bisa diantisipasi oleh negara agar tidak terus berulang setiap musim mudik tiba.

Kecelakaan maut terjadi di Tol Pejagan-Pemalang (PPTR) KM 290 jalur B antara bus dan mobil LCGC Toyota Calya. Peristiwa itu terjadi pada Kamis (19/3) pagi. Saat itu, jalur kecelakaan sedang digunakan untuk one way arah Pemalang.

Empat orang penumpang meninggal dunia dan satu orang lainnya mengalami luka-luka,” demikian keterangan Kapolres Tegal AKBP Bayu Prasatyo, Kamis (Kumpuran, 19/3/26).

Kurangnya kualitas fasilitas umum yang disediakan negara menimbulkan berbagai kecelakaan, baik pada kendaraan roda dua maupun roda empat. Nyawa pun sering menjadi taruhannya. Jalan yang rusak dan berlubang, ditambah minimnya lampu penerangan jalan, sangat membahayakan para pengendara. Namun anehnya, negara tetap diam. Dari sekian banyak kecelakaan lalu lintas yang terjadi, seharusnya negara sudah mampu mengatasinya dan bertindak cepat agar setiap musim mudik tidak lagi memakan korban.

Sering kali kita berpikir, rakyat diwajibkan membayar pajak dengan jumlah yang tidak sedikit. Setiap bulan dan setiap tahun, pajak dibayarkan secara rutin. Namun, mana dampaknya? Jalan-jalan masih banyak yang rusak dan berlubang. Fasilitas umum seperti toilet pun banyak yang jauh dari kata layak. Lalu, sebenarnya pajak yang dibayarkan rakyat itu untuk kepentingan siapa? Sementara sampai hari ini, rakyat belum juga bisa menikmati fasilitas umum dengan aman dan nyaman.

Nyatanya, upaya negara dalam memperbaiki jalan terkesan lamban, padahal jalan yang rusak dan berlubang sangat membahayakan pengguna jalan, apalagi saat musim mudik. Jangan sampai negara baru bergerak setelah ada korban jiwa, lalu bersikap cepat dan sigap seolah ingin mendapatkan simpati rakyat. Padahal, sejatinya tidak perlu menunggu ada korban terlebih dahulu. Jalan adalah fasilitas umum yang wajib dijaga demi keselamatan rakyat.

Negara tampak abai terhadap keselamatan rakyat. Negara lebih mementingkan keuntungan dengan mendahulukan pembangunan infrastruktur daripada memperbaiki jalan yang rusak. Kalaupun rakyat ingin menikmati jalan yang bagus dan tidak berlubang, mereka harus mengeluarkan uang dengan menggunakan jalan tol. Inilah wajah negara dengan sistem kapitalis. Semua diukur dengan materi. Dalam sistem kapitalis, keuntungan menjadi salah satu hal yang paling penting, bahkan lebih penting daripada keselamatan rakyat.

Gagalnya negara dalam menyediakan fasilitas umum yang berkualitas, bahkan sampai nyawa menjadi taruhannya, tidak lain disebabkan oleh sistem kapitalis yang kufur dan rusak. Sistem ini banyak melahirkan pemimpin yang curang dan rakus. Sayangnya, masih banyak orang yang percaya dan terus mempertahankannya. Padahal, sistem ini hanya membawa kerusakan dalam berbagai aspek kehidupan. Karena sistem ini pula, umat hari ini terpecah belah, terdiskriminasi, terzalimi, dan tersiksa karena tidak ada perisai yang benar-benar melindungi mereka.

Sejarah kepemimpinan Islam justru memberikan standar moral yang sangat tinggi. Khalifah Umar bin Khattab pernah mengungkapkan kegelisahan yang masyhur:

لو عثرت بغلة بالعراق لخشيت ان يسألني الله عنها لم لم تسو لها الطريق يا عمر؟
Seandainya seekor keledai terperosok di Irak, aku takut Allah akan menanyakanku, “Mengapa engkau tidak meratakan jalan untuknya, wahai Umar?”

Berbeda dengan sistem Islam. Negara bertanggung jawab atas seluruh fasilitas umum dan berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi rakyatnya. Sekolah, pasar, dan jalan tidak luput dari perhatian pemerintah. Demi mencegah kecelakaan, pemerintah akan memperhatikan kondisi jalan di setiap daerah agar tidak ada jalan yang rusak dan berlubang. Pemimpin bertanggung jawab penuh atas keselamatan rakyatnya. Yang paling penting, seorang pemimpin benar-benar menyadari bahwa amanah yang diembannya sangat besar di hadapan Allah.

Negara harus berlaku adil dalam melayani rakyat dengan sepenuh hati. Negara juga harus bertindak cepat, tepat, dan sigap dalam menangani seluruh urusan rakyat agar kehidupan yang aman, damai, dan sejahtera dapat terwujud. Karena itu, sudah saatnya umat bersatu untuk menegakkan kembali kehidupan Islam dengan menjalankan syariat Islam di setiap aspek kehidupan, hidup di bawah naungan khilafah Islamiyah, mengakhiri seluruh kezaliman yang menimpa umat selama ini, serta mendakwahkan Islam hingga ke seluruh penjuru dunia.

Allahu a'lam bish shawab

Posting Komentar

0 Komentar