MERAIH KEBERUNTUNGAN DUNIA-AKHIRAT


Oleh: Abd. Mukti
Pemerhati Kehidupan Beragama

Setiap manusia tentu ingin hidup beruntung, baik di dunia ini, lebih-lebih di akhirat. Untuk itu, kita jangan bingung tentang apa yang harus dipersiapkan dan diamalkan. Inilah panduan dari Al-Qur'an Surat Al-'Ashr yang dapat menjadi pedoman praktis bagi setiap Muslim.

Firman Allah Ta'ala:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran." (QS. Al-'Ashr)

Kita perhatikan firman Allah di atas. Betapa pentingnya tema ini, sampai Allah bersumpah, yakni dengan wawu qasam dalam lafaz والعصر, bahwa semua manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Surat Al-Qur'an ini menekankan pentingnya waktu sebagai modal utama kehidupan untuk meraih keberuntungan di dunia ini dan di akhirat kelak.

Ada empat syarat yang harus dipenuhi seseorang yang ingin meraih keberuntungan, alias kebahagiaan di alam dunia yang terbatas ini dan di alam akhirat yang kekal abadi hingga dapat masuk surga. Dalam Surat Al-'Ashr itu disebutkan:


Pertama: Iman

Iman merupakan modal dasar terpenuhinya keberuntungan. Tanpa iman, mustahil seseorang akan dapat meraih keberuntungan dunia-akhirat.

Iman adalah:

تصد يق باالقلب واقرار باالسان وعمل بالجوارح
"Membenarkan dengan hati, ikrar dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan."

Iman itu yakin seratus persen terhadap apa yang terkandung dalam Al-Qur'an maupun hadis. Karena itu, iman akan memotivasi seseorang untuk beramal ibadah dan mencegahnya dari perbuatan maksiat.

Begitu vitalnya iman bagi seorang Muslim dalam meraih kebahagiaan dunia-akhirat, yaitu:

  • Iman merupakan prasyarat amal manusia diterima di sisi Allah
Tanpa iman, amalan sebanyak dan sebaik apa pun tidak akan mendapat pahala dari Allah Ta'ala, sebagaimana firman-Nya:

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ ۢ بِقِيْعَةٍ يَّحْسَبُهُ الظَّمْاٰنُ مَاۤءًۗ حَتّٰٓى اِذَا جَاۤءَهٗ لَمْ يَجِدْهُ شَيْـًٔا
"Orang-orang yang kufur, amal perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar. Orang-orang yang dahaga menyangkanya air, hingga apabila ia mendatanginya, ia tidak menjumpai apa pun." (QS. An-Nur: 39)

Subhanallah, amaliah orang kafir itu laksana fatamorgana di tanah datar. Dari kejauhan dipandang seolah ada airnya, tetapi setelah didekati, ternyata tidak ada apa-apanya alias kosong. Ini merupakan tamsil bagi orang kafir yang beramal, tetapi tidak ada nilai pahalanya karena tidak beriman.

  • Nilai iman sangat mahal
Menurut Al-Qur'an, nilai keimanan itu lebih mahal daripada emas sepenuh bumi. Nilai keimanan atau keislaman ini setara dengan nyawa kita. Al-Qur'an menyatakan:

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَمَاتُوْا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْ اَحَدِهِمْ مِّلْءُ الْاَرْضِ ذَهَبًا وَّلَوِ افْتَدٰى بِهٖۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ وَّمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَࣖ ۝٩١
"Sesungguhnya orang-orang yang kufur dan mati sebagai orang-orang kafir tidak akan diterima tebusan dari seseorang di antara mereka, sekalipun berupa emas sepenuh bumi, sekiranya dia hendak menebus diri dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang pedih dan tidak ada penolong bagi mereka." (QS. Ali 'Imran: 91)

Iman adalah anugerah termahal, lebih berharga daripada dunia dan seisinya, karena ia adalah satu-satunya bekal keselamatan di akhirat. Iman tidak bisa dibeli dengan emas sepenuh bumi, melainkan harus diperjuangkan dengan ketaatan, ujian kesabaran, dan menjaga hati dari berbagai fitnah dunia.

  • Penangkal kemaksiatan
Jika seseorang imannya kokoh, insyaallah hal itu akan menjadi penangkal kemaksiatan, sebagaimana hadis berikut:

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وزاد في رواية: وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً ذَاتَ شَرَفٍ يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ أَبْصَارَهُمْ فِيهَا حِينَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ
"Abu Hurairah r.a. berkata, Nabi ﷺ bersabda: Tidaklah seorang pezina berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman, tidak pula seseorang meminum khamar ketika ia meminumnya dalam keadaan beriman, dan tidak pula seorang pencuri mencuri ketika ia mencuri dalam keadaan beriman. Dalam riwayat lain ditambahkan: dan tidak pula seseorang merampas barang berharga yang membuat orang-orang memandang kepadanya ketika ia merampasnya dalam keadaan beriman." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, mafhum mukhalafah-nya, jika seseorang imannya luntur dan tidak kokoh, ia akan rentan terjebak dalam kemaksiatan karena tidak ada daya penangkalnya.

Agar imannya kokoh, seseorang harus tekun beribadah, membaca dan merenungkan kandungan Al-Qur'an, rajin menghadiri majelis taklim, serta bergaul dengan orang-orang saleh.


Kedua: Beramal Saleh

Agar seseorang beruntung dunia-akhirat, ia harus tekun beramal saleh atau beribadah. Ini merupakan buah dari iman.

Ibadah itu ada yang wajib dan ada yang sunah.

Ibadah wajib dalam Islam adalah serangkaian kewajiban yang berdasar pada rukun Islam, yang jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan berdosa. Ibadah utama meliputi syahadat, salat lima waktu, puasa Ramadan, zakat, dan haji bagi yang mampu. Ibadah ini mencakup aspek qalbiyyah, lisan, fisik, dan harta.

Ibadah sunah adalah amalan yang dianjurkan (mustahab) oleh Rasulullah ﷺ selain ibadah wajib, yang apabila dikerjakan akan mendapat pahala dan keuntungan besar. Fungsi utamanya adalah menyempurnakan kekurangan ibadah wajib, seperti salat dan puasa, serta menjadi benteng pelindung agar seseorang konsisten menjaga amalan fardu.


Ketiga: Saling Berwasiat dalam Kebenaran

Syarat ketiga ini identik dengan tugas dakwah dan amar makruf nahi mungkar.

Sebagai Muslim yang ingin sukses dunia-akhirat, mau tidak mau, harus melaksanakan dakwah dan amar makruf nahi mungkar.

Jika umat Islam siap melaksanakan tugas di atas, insyaallah akan menjadi umat terbaik, sebagaimana firman Allah:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik." (QS. Ali 'Imran: 110)

Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ
"Barang siapa di antara kamu melihat suatu kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim)

Hadis ini juga menunjukkan bahwa setiap Muslim wajib beramar makruf nahi mungkar, sejalan dengan yang disebut dalam surah Al-'Ashr di atas, yaitu saling menasihati dalam kebenaran.


Keempat: Saling Menasihati dalam Kesabaran

Orang yang sukses adalah orang yang dapat memegang sikap sabar. Karena itu, kita harus memberi perhatian terhadap kesabaran ini. Di antaranya, kita harus mengikuti petunjuk Al-Qur'an untuk saling menasihati dalam kesabaran.

Kalau beramal saleh itu merupakan aspek hablun minallah, maka saling menasihati sesama dalam kebenaran dan kesabaran adalah aspek hablun minannas.

Karena itu, manusia dapat dikatakan bertakwa jika hablun minallah dan hablun minannas dapat dilaksanakan dengan baik sesuai petunjuk syariat Islam.

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ ٱلذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوٓا۟ إِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ ٱللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ ٱلنَّاسِ
"Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali agama Allah dan tali perjanjian dengan manusia." (QS. Ali 'Imran: 112)

Itulah pedoman praktis surah Al-'Ashr yang harus kita pelajari dan amalkan untuk meraih keberuntungan dunia-akhirat.

Nashrun Minallah wa Fathun Qarib.

Posting Komentar

0 Komentar