KECELAKAAN DAN MACET PARAH SAAT MUDIK BERULANG TIAP TAHUN


Oleh: Alpa Dilla, S.Sos.
Penulis Lepas

Arus mudik tahun ini di jalur selatan Nagreg mengalami peningkatan signifikan menjelang Hari Raya Idulfitri 2026. Kemacetan panjang terpantau di sejumlah titik. Kemacetan terjadi di kawasan Cicalengka dengan antrean kendaraan yang mencapai lima kilometer. Penyebabnya adalah lonjakan volume kendaraan pemudik, ditambah adanya penyempitan jalur di beberapa titik krusial. Selain itu, banyaknya persimpangan menuju permukiman warga serta aktivitas keluar-masuk kendaraan di rest area turut membuat arus lalu lintas tersendat.

Berdasarkan data Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung, lebih dari 190 ribu kendaraan telah melintasi jalur selatan Nagreg pada puncak arus mudik tahun ini. Kendaraan pribadi, baik mobil maupun sepeda motor dari arah Bandung dan Jakarta, mendominasi jalur menuju Jawa Barat selatan hingga Jawa Tengah (Metrotvnews, 19/03/2026).

Korlantas Polri menyampaikan angka kecelakaan yang terjadi selama arus mudik Lebaran 2026 mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Meski begitu, angka korban jiwa mengalami penurunan. Jumlah korban luka akibat kecelakaan justru meningkat dibanding 2025. Korban meninggal dunia turun sebesar 13,50%. Sementara itu, korban luka berat naik 9,42% dan luka ringan meningkat 19,63% dalam kasus kecelakaan lalu lintas. Sebanyak 22 kecelakaan di antaranya terjadi pada ruas tol, dengan jumlah terbanyak di ruas tol daerah Subang, Jawa Barat (Kumparan, 19/03/2026).

Setiap tahunnya, kecelakaan mudik Lebaran sering terjadi, bahkan banyak memakan korban sehingga hal ini harus menjadi fokus utama pemerintah. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kecelakaan, di antaranya faktor kelelahan. Namun, faktor ini sebenarnya dapat diantisipasi dengan istirahat yang cukup. Selain itu, kondisi kendaraan dan faktor jalan yang rusak sering menjadi penyebab utama kemacetan panjang dan kecelakaan. Oleh karena itu, hal ini perlu penanganan serius agar kecelakaan dapat diminimalkan.

Fakta yang ditemui di lapangan menunjukkan belum adanya upaya serius dari pemerintah untuk mengatasi kecelakaan dan kemacetan parah yang terjadi setiap musim mudik. Upaya yang dilakukan masih bersifat teknis, belum menyentuh akar masalah, dan belum mampu menjamin keamanan secara menyeluruh.

Permasalahan mudik juga berkaitan erat dengan minimnya layanan transportasi massal yang nyaman dan terjangkau sehingga penggunaan kendaraan pribadi meningkat dan menyebabkan kemacetan yang panjang di jalan. Kondisi jalan juga seharusnya menjadi perhatian agar tidak banyak yang rusak dan risiko kecelakaan dapat diminimalkan. Dari banyaknya kecelakaan dan jalan yang rusak, dapat dilihat bahwa negara seharusnya menyediakan infrastruktur jalan yang layak dan memperbaiki kerusakan agar aman bagi pengguna jalan. Jalan umum merupakan kebutuhan masyarakat yang wajib dipenuhi oleh negara.

Belum lagi, kondisi negara saat ini yang menerapkan sistem kapitalisme dinilai belum mewujudkan fungsi raa’in (pengurus rakyat). Negara cenderung mempertimbangkan untung rugi dalam mengurus kebutuhan publik serta yang terjadi saling lempar tanggung jawab.

Berbeda dengan negara yang berlandaskan Islam. Islam mewujudkan fungsi raa’in yang mengurus rakyat dan menyelesaikan masalah yang mereka hadapi, termasuk memastikan keselamatan. Masyarakat juga dihimbau untuk menjaga keselamatan diri dan orang lain, termasuk tertib berlalu lintas serta mematuhi aturan untuk menghindari kecelakaan.

Jalan umum merupakan kebutuhan umat yang wajib dipenuhi oleh negara. Negara memastikan rakyatnya aman dalam bepergian, baik saat mudik maupun tidak. Selain itu, negara menyediakan layanan transportasi massal yang aman, nyaman, dan terjangkau dalam jumlah yang mencukupi.

Belajar dari kisah Umar bin Khattab, beliau berkata, “Seandainya ada seekor keledai terperosok ke dalam lubang di Irak, aku khawatir Allah akan menuntut pertanggungjawaban dariku di hari kiamat dan berkata, ‘Mengapa engkau tidak meratakan jalan untuknya, wahai Umar?’

Posting Komentar

0 Komentar