
Oleh: Ummu Zaid
Penulis Lepas
Ramadan tidak hanya merupakan bulan latihan menahan diri dari lapar, dahaga, dan hawa nafsu semata, tetapi juga bulan perjuangan bagi umat Islam. Perjuangan untuk mengembalikan kehidupan Islam hingga kini belum tercapai; karena itu, dibutuhkan usaha yang semakin besar untuk meraih kemenangan hakiki. Umat Islam masih terpecah dalam berbagai negara, bahkan tidak sedikit yang bersekutu dengan negara kafir harbi.
Kesadaran umat Islam dalam memaknai Ramadan sebagai bulan perjuangan pun belum sepenuhnya mencapai kesadaran ideologis. Perjuangan umat masih dominan bersifat praktis-pragmatis. Akibatnya, posisi politik umat Islam terus berada dalam kondisi lemah, padahal Allah ﷻ telah memberikan predikat sebagai sebaik-baik umat. Allah ﷻ berfirman:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُم ۚ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, serta beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS. Ali Imran: 110)
Di sisi lain, umat Islam sesungguhnya memiliki potensi yang sangat besar. Hal ini terlihat dari melimpahnya sumber daya alam, besarnya jumlah sumber daya manusia, serta posisi geopolitik dan geostrategis wilayah yang sangat strategis. Selain itu, umat Islam juga memiliki Islam sebagai ideologi yang komprehensif. Oleh karena itu, upaya mengembalikan kehidupan Islam membutuhkan partai politik Islam ideologis yang sahih.
Dalam konteks tersebut, prioritas dakwah seharusnya diarahkan pada pembangunan kesadaran politik ideologis umat dengan Islam kaffah. Dengan demikian, menjadi urgen untuk membangun kesadaran akan kebutuhan persatuan hakiki di bawah institusi khilafah. Hal ini harus diperjuangkan secara serius bersama hizb yang tulus berjuang demi izzul Islam wal muslimin, bukan hizb semu yang justru menempuh jalan yang menjauhkan umat dari kebangkitan hakiki. Ramadan dan Idulfitri semestinya menjadi momentum awal untuk mengonsolidasikan dan memobilisasi kekuatan serta kesatuan umat Islam.
Sudah cukup negeri-negeri Islam terpecah belah menjadi beberapa nation-state. Kini saatnya Islam menyongsong fajar kemenangan di hari yang fitri dengan bersatunya umat Islam di bawah satu kepemimpinan, yaitu khilafah.

0 Komentar