
Oleh: Darul Iaz
Penulis Lepas
Ada satu kegelisahan yang jarang disadari: kita menjalani Ramadan seperti robot. Segalanya diukur, tetapi tidak semuanya dirasakan. Sejak kecil, kita diajarkan menghitung, berapa hari puasa, berapa rakaat tarawih, berapa kali hadir di masjid, bahkan tak jarang disertai tanda tangan sebagai bukti kehadiran.
Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang luput: kematangan mental dalam beribadah tidak dirawat.
Ibadah dilakukan sebagai rutinitas, bukan sebagai proses pembentukan jiwa. Kita tahu apa yang harus dilakukan, tetapi tidak selalu memahami mengapa kita melakukannya. Akibatnya, Ramadan sering kali berlalu sebagai serangkaian aktivitas, bukan sebagai perjalanan perubahan.
Antara Ibadah dan Realitas Perilaku
Fenomena ini tampak nyata dalam keseharian. Di masjid, tarawih tetap berlangsung, tetapi di sudut lain, sebagian orang justru sibuk dengan gawai, bahkan bermain gim di sela-sela ibadah.
Hal ini bukan sekadar persoalan disiplin, melainkan cerminan dari sesuatu yang lebih dalam, yaitu ketidakdewasaan dalam regulasi emosi dan kebiasaan.
Banyak orang yang secara kognitif memahami mana yang benar dan salah, tetapi secara perilaku tetap terjebak dalam kebiasaan lama. Dalam istilah psikologi, otak rasional mengetahui larangan, tetapi pola kebiasaan yang tertanam tetap menarik seseorang kembali pada pelarian, entah itu hiburan berlebihan, kecanduan, atau bahkan perilaku yang merusak diri.
Kecanduan, Luka Batin, dan Pelarian
Tidak sedikit perilaku menyimpang berakar dari luka yang tidak disadari. Seseorang mungkin tahu bahwa sesuatu itu salah, tetapi tetap melakukannya karena ada kekosongan yang ingin diisi.
Ada kisah tentang seseorang yang tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis. Secara materi, ia tidak kekurangan. Namun, secara emosional, ia kehilangan arah. Konflik orang tua, kurangnya perhatian, dan ketegangan di rumah membentuk luka yang tidak terlihat. Pada akhirnya, ia mencari pelarian, bahkan pada hal-hal yang merusak dirinya sendiri.
Di titik ini, jelas bahwa masalahnya bukan sekadar pada perilaku, tetapi pada kondisi mental yang tidak pernah ditangani.
Metode Rasulullah: Perubahan yang Bertahap
Dalam sejarah Islam, fenomena kecanduan bukan hal baru. Masyarakat Arab pra-Islam memiliki kebiasaan yang kuat terhadap khamr. Namun, Rasulullah ï·º tidak menghapusnya secara instan.
Larangan diturunkan secara bertahap, dimulai dari peringatan, pembatasan, hingga akhirnya pengharaman total. Mengapa demikian? Karena yang diubah bukan hanya perilaku, tetapi juga kebiasaan yang telah menahun.
Rasulullah ï·º membangun ekosistem yang memungkinkan perubahan itu terjadi. Ada cinta, ada kesadaran, ada kesiapan untuk taat. Ketika ketaatan sudah lebih kuat daripada dorongan hawa nafsu, barulah larangan ditegaskan secara penuh.
Hal ini menunjukkan bahwa perubahan sejati tidak dapat dipaksakan secara instan. Perubahan membutuhkan proses, pemahaman, dan pendampingan.
Kesalahan Pendekatan Dakwah Hari Ini
Sayangnya, pendekatan ini sering kali tidak diikuti pada masa kini. Banyak pihak yang langsung menekankan hukum tanpa memahami kondisi manusia.
Segala sesuatu dipandang secara hitam-putih: halal atau haram, boleh atau tidak. Padahal, manusia bukan mesin yang dapat berubah hanya dengan satu perintah.
Akibatnya, muncul dua kutub dalam dakwah:
- Satu pihak terlalu kaku, menuntut perubahan instan tanpa empati.
- Pihak lain terlalu longgar hingga kehilangan arah.
Keduanya sering kali tidak bertemu, bahkan saling menyalahkan. Sementara itu, umat justru tidak mendapatkan solusi yang utuh.
Manusia Bukan Robot: Pentingnya Proses dan Empati
Perubahan perilaku adalah proses yang kompleks. Proses ini melibatkan kebiasaan, emosi, lingkungan, dan pengalaman hidup. Bahkan dalam banyak kasus, seseorang membutuhkan waktu panjang untuk benar-benar berubah.
Ada orang yang ingin berubah, tetapi terikat oleh lingkungannya. Ada yang sadar, tetapi belum mampu keluar dari kebiasaan lama. Bahkan ada yang sudah memiliki niat, tetapi tidak sempat mewujudkannya.
Di sinilah peran empati menjadi sangat penting. Dakwah bukan sekadar menyampaikan kebenaran, tetapi juga menemani proses menuju kebenaran.
Pertanyaannya bukan hanya “apa yang benar?”, tetapi juga “apakah kita siap membersamai mereka yang sedang berjuang menuju kebenaran?”
Ramadan sebagai Momentum Perbaikan Mental
Ramadan sejatinya adalah ruang untuk melatih diri, bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga membentuk ulang kebiasaan dan mental.
Bahkan secara ilmiah, perubahan kebiasaan dapat mulai terbentuk dalam kurun waktu sekitar 30 hari. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Ramadan menjadi momen yang tepat untuk memulai transformasi tersebut.
Namun, hal itu hanya akan terjadi jika Ramadan dijalani dengan kesadaran, bukan sekadar rutinitas.
Kembali Merawat Fitrah
Pada akhirnya, masalah utama yang kita hadapi bukan sekadar kurangnya ibadah, tetapi kurangnya pemahaman dan perawatan mental dalam beribadah.
Kita terbiasa menjalankan ritual, tetapi belum tentu memahami maknanya. Kita terbiasa menghitung amal, tetapi belum tentu membangun jiwa.
Ketika orang tua memilih diam, ketika lingkungan tidak mendidik, dan ketika dakwah kehilangan empati, maka manusia akan mencari jalannya sendiri, yang belum tentu benar.
Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk kembali pada fitrah: memahami diri, merawat jiwa, dan membangun kebiasaan yang sehat.
Karena sejatinya, manusia tidak diciptakan sebagai robot yang hanya menjalankan perintah, tetapi sebagai makhluk yang tumbuh melalui proses, kesadaran, dan bimbingan.
Wallahu a'lam bish-shawab.

0 Komentar