ILUSI KEMANDIRIAN MANUSIA MODERN: KETIKA KEBERSAMAAN KEHILANGAN MAKNA


Oleh: Hamzah Al Fatih
Penulis Lepas

Ada satu ironi besar yang diam-diam sedang kita jalani: manusia hari ini semakin canggih dalam memahami dunia, tetapi justru semakin gagal memahami sesamanya. Di satu sisi, kita dikelilingi narasi tentang cinta (dari lagu, film, hingga media sosial) namun di sisi lain, realitas menunjukkan arah yang berlawanan. Angka pernikahan menurun, angka kelahiran merosot, dan kehidupan semakin menjauh dari kebersamaan.

Fenomena di Korea Selatan dengan angka fertilitas yang sangat rendah bukan sekadar data statistik, melainkan potret dari perubahan cara pandang manusia terhadap hidup. Cinta tetap dibicarakan, tetapi komitmen dihindari. Relasi tetap diinginkan, tetapi keterikatan ditakuti. Manusia modern seolah ingin merasakan hangatnya kebersamaan tanpa harus menanggung konsekuensinya.


Ilusi Kemandirian Manusia Modern

Dalam kondisi seperti ini, pertanyaan mendasarnya bukan lagi apakah manusia membutuhkan orang lain, melainkan mengapa manusia mulai merasa cukup dengan dirinya sendiri. Di sinilah kita perlu melihat lebih dalam: ada yang berubah bukan hanya pada sistem sosial, tetapi juga pada cara manusia memahami dirinya, orang lain, dan bahkan agamanya.

Salah satu gejala paling nyata adalah kecenderungan manusia untuk berhenti pada permukaan. Ketika melihat seseorang berbuat baik, kita sibuk mengagumi tanpa berusaha memahami proses di baliknya. Sebaliknya, ketika melihat kejahatan, kita cepat menghakimi tanpa mencoba menelusuri sebabnya. Padahal, memahami alasan di balik suatu tindakan jauh lebih penting daripada sekadar merespons hasilnya.

Tidak ada manusia yang melakukan kejahatan tanpa keyakinan bahwa apa yang ia lakukan memiliki dasar pembenaran. Begitu pula kebaikan, tidak lahir secara tiba-tiba tanpa proses panjang yang membentuknya. Namun, di era serba instan ini, manusia cenderung mengabaikan proses dan hanya mencari kesimpulan cepat. Bahkan dalam urusan agama, yang dicari sering kali hanya jawaban singkat: boleh atau tidak, halal atau haram.


Krisis Pemahaman dalam Beragama

Padahal, para ulama sejak dahulu telah mengingatkan pentingnya memahami proses berpikir di balik suatu hukum. Abu Hanifah, misalnya, menegaskan bahwa memahami alasan di balik suatu hukum lebih penting daripada sekadar mengetahui hasil hukumnya. Ketika proses diabaikan, agama tidak lagi melahirkan kedalaman, melainkan hanya menghasilkan sikap kaku yang mudah menghakimi.

Di saat yang sama, perkembangan teknologi turut mempercepat lahirnya manusia yang merasa tidak lagi membutuhkan orang lain. Hampir semua kebutuhan dapat dipenuhi secara mandiri: belajar, bekerja, bahkan bersosialisasi. Interaksi manusia perlahan bergeser dari kebutuhan menjadi pilihan. Akibatnya, hubungan sosial kehilangan makna esensialnya.


Individualisme dan Pudarnya Relasi Sosial

Kehidupan di kota-kota besar menunjukkan perubahan ini dengan sangat jelas. Orang dapat tinggal berdampingan tanpa pernah saling mengenal. Sapaan sederhana terasa asing. Bahkan sikap ramah kadang justru dicurigai. Dalam kondisi seperti ini, individualisme bukan lagi sekadar gaya hidup, tetapi telah menjadi cara bertahan.

Padahal, jika kita kembali pada fitrah manusia, kebersamaan bukanlah pilihan tambahan, melainkan kebutuhan dasar. Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Hal ini menunjukkan bahwa relasi sosial merupakan bagian dari desain penciptaan, bukan sekadar konstruksi budaya.


Agama yang Kehilangan Daya Pemersatu

Masalahnya, ketika manusia mulai menjauh dari fitrahnya, maka yang terjadi bukan sekadar perubahan sosial, melainkan kerusakan cara pandang. Hal ini semakin diperparah ketika agama yang seharusnya menjadi solusi justru dipahami secara keliru.

Dahulu, masyarakat Arab mampu bertikai tanpa Al-Qur’an, tetapi mereka tidak mampu bersatu tanpa Al-Qur’an. Kitab ini datang untuk meruntuhkan sekat-sekat fanatisme dan membangun persatuan di atas dasar yang kokoh. Namun, hari ini fenomena yang terjadi justru sebaliknya: Al-Qur’an tetap dibaca, tetapi tidak lagi menyatukan.

Ayat yang sama dapat memicu perdebatan. Dalil yang sama digunakan untuk saling menyalahkan. Seolah-olah Al-Qur’an hadir bukan untuk meredam konflik, melainkan untuk membenarkan posisi masing-masing. Padahal, jika tujuan seseorang adalah bertengkar, tanpa Al-Qur’an pun ia mampu melakukannya.


Akar Masalah: Arogansi dan Ketidaktahuan

Di titik ini, jelas bahwa persoalannya bukan terletak pada teks, melainkan pada cara manusia memahaminya. Al-Qur’an tidak berubah, tetapi hati manusia yang membacanya mengalami pergeseran. Ketika hati dipenuhi oleh ego, maka ayat pun dapat berubah fungsi menjadi alat pembenaran diri.

Akar dari semua ini tidak lain adalah dua penyakit klasik manusia: arogansi dan ketidaktahuan. Arogansi membuat seseorang merasa lebih benar, lebih paham, dan lebih berhak menentukan kebenaran. Sementara itu, ketidaktahuan membuat seseorang enggan belajar dan tidak peduli terhadap dampak dari sikapnya.

Ketika dua hal ini bertemu, lahirlah perpecahan yang sulit disatukan. Orang tidak lagi mencari kebenaran bersama, tetapi sibuk mempertahankan posisinya masing-masing. Bahkan dalam lingkup yang sama (sesama Muslim) perbedaan kecil dapat berubah menjadi konflik besar.


Dunia Tanpa Ikatan Sosial

Lebih jauh lagi, hilangnya rasa kebersamaan berdampak langsung pada cara manusia berinteraksi. Di dunia nyata, jarak semakin lebar. Di dunia maya, batasan semakin hilang. Orang berbicara tanpa tanggung jawab, berkomentar tanpa empati, dan menyerang tanpa rasa bersalah. Hal ini terjadi karena manusia tidak lagi merasa terikat satu sama lain.

Berbeda dengan kehidupan komunal di masa lalu, di mana hubungan sosial menuntut adab dan tanggung jawab. Bahkan dalam kondisi tidak suka, seseorang tetap menjaga ucapannya karena sadar akan adanya hubungan yang berkelanjutan. Hari ini, hubungan itu terputus, sehingga kata-kata kehilangan nilai moralnya.


Kembali pada Fitrah Kebersamaan

Padahal, dalam berbagai aspek kehidupan, manusia tetap saling membutuhkan. Dalam keluarga, laki-laki dan perempuan saling melengkapi. Dalam masyarakat, setiap individu memiliki peran yang tidak dapat digantikan sepenuhnya. Bahkan dalam skala global, ancaman sering kali menjadi faktor yang menyatukan manusia lintas batas.

Ironisnya, kesadaran akan pentingnya kebersamaan justru sering muncul ketika manusia berada dalam tekanan. Ketika merasa aman, manusia cenderung kembali pada ego dan individualismenya. Hal ini menunjukkan bahwa kebersamaan belum benar-benar dipahami sebagai kebutuhan, melainkan hanya sebagai respons terhadap keadaan.

Islam sebenarnya telah meletakkan fondasi yang jelas: manusia tidak didesain untuk hidup sendiri. Hampir tidak ada perintah dalam Al-Qur’an yang bersifat sepenuhnya individual. Bahkan dalam ibadah sekalipun, banyak yang menekankan aspek kebersamaan, mulai dari salat berjamaah hingga kehidupan sosial secara luas.


Kembali Memahami Hakikat Manusia

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa hidup bersama bukan sekadar anjuran moral, melainkan konsekuensi logis dari keberadaan manusia itu sendiri. Ketika manusia mencoba hidup sendiri, ia sebenarnya sedang melawan fitrahnya.

Pada akhirnya, kita perlu kembali bertanya secara jujur: apakah masalah yang kita hadapi hari ini benar-benar karena kurangnya ilmu, atau justru karena cara kita memahami dan menggunakan ilmu itu sendiri? Sebab, jika Al-Qur’an yang dahulu mampu menyatukan musuh bebuyutan kini tidak lagi mampu menyatukan kita, maka yang perlu diperiksa bukanlah ajarannya, melainkan diri kita sendiri.

Kita mungkin akan mati sendiri dan mempertanggungjawabkan amal masing-masing. Namun, selama hidup, kita tidak pernah dirancang untuk berjalan sendirian. Jika hari ini manusia merasa cukup dengan dirinya sendiri, maka itu bukan tanda kemajuan, melainkan tanda bahwa ia mulai kehilangan arah.

Dan ketika Al-Qur’an tidak lagi menjadi pemersatu, maka itu bukan karena ia kehilangan kekuatannya, tetapi karena manusia telah kehilangan cara untuk kembali kepada-Nya dengan benar.

Posting Komentar

0 Komentar