RAMADAN ADALAH BULAN PAHALA BERLIPAT


Oleh: Wiwit
Pegiat Dakwah

Ramadan adalah bulan yang senantiasa dirindukan. Bulan yang diandaikan seperti seorang tamu agung yang datang ke rumah. Layaknya seorang tamu yang akan datang ke rumah, maka kita pasti membersihkan dan membereskan rumah, serta melakukan segala sesuatu yang bisa membuat tamu merasa betah, nyaman, dan senang. Begitu pula dengan bulan Ramadan yang sudah ditunggu jauh-jauh hari kedatangannya oleh orang-orang beriman yang meyakini keutamaan dan keistimewaannya.

Rasulullah ﷺ pernah menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya:

ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ
Telah datang kepada kalian bulan yang diberkahi (Ramadan). Allah telah mewajibkan atas kalian untuk berpuasa. Pada bulan Ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu jahim ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Di sisi Allah ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang terhalang dari kebaikannya, sungguh dia merugi.” (HR. Ahmad dan an-Nasa’i)

Begitulah di antara keutamaan dan keistimewaan bulan Ramadan. Bulan penuh berkah, bulan pahala berlipat, dan puasa Ramadan menjadi penghapus dosa, yang satu malamnya lebih baik dari seribu bulan. Bulan Ramadan juga menjadi momentum untuk membersihkan diri dengan bertobat. Tobat seperti apa yang harus dilakukan? Pertama, menyesali dan menyadari semua dosa yang telah diperbuat dengan meminta ampun kepada Allah ﷻ serta berjanji untuk tidak mengulanginya. Kedua, meminta maaf kepada sesama manusia dan menyelesaikan muamalah yang masih tertunda.

Allah ﷻ selalu memberi harapan kepada hamba-Nya. Harapan akan ampunan, perubahan, dan kebangkitan jiwa menuju ketakwaan. Ketakwaan adalah memiliki rasa takut kepada Allah ﷻ, mengamalkan apa yang telah diturunkan Allah ﷻ (Al-Qur’an), merasa cukup dengan rezekinya, serta mempersiapkan bekal untuk akhirat. (Muhammad Shaqr, Dalil Al-Wa’izh, 1/546)

Mengamalkan apa yang telah diturunkan Allah ﷻ, yaitu Al-Qur’an, merupakan salah satu tanda takwa. Ketakwaan seorang muslim tidak membeda-bedakan hukum Allah ﷻ; semuanya wajib ditaati. Termasuk hukum dalam pemerintahan/politik, ekonomi, budaya, pendidikan, dan kehidupan sosial. Allah ﷻ berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu adalah musuh nyata bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 208)

Bukti ketakwaan seorang muslim dilihat pada saat Ramadan. Karena Ramadan adalah madrasah takwa. Saat puasa Ramadan dijalani dengan kesungguhan, hanya mengharap rida Allah ﷻ, bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga diri dari maksiat dan dosa, menjaga lisan dari gibah, menjaga pendengaran dan penglihatan, menjauhi transaksi riba, menjaga diri dari hasrat dan dengki, memperbanyak sedekah, menyayangi anak yatim, menjalin silaturahmi dengan kerabat dekat maupun jauh, serta menjaga diri dari melakukan kezaliman.

Kezaliman terbesar yang dilakukan oleh penguasa sebagai pemilik kekuasaan adalah ketika enggan berhukum dengan hukum Allah ﷻ. Sebagaimana firman-Nya:

وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
Siapa yang tidak berhukum dengan wahyu yang Allah turunkan, mereka itulah kaum yang zalim.” (QS. Al-Ma’idah: 45). Dari kezaliman penguasa tersebut, banyak kerusakan terjadi di darat dan di laut.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS. Ar-Rum: 41)

Seperti yang terjadi pada bencana alam di Sumatra dan Aceh, hal itu menjadi bukti bahwa penguasa tidak mengurus alam dan kekayaan alam dengan baik. Sampai saat ini, keadaan di sana masih belum terselesaikan dan belum ada penanganan yang tepat agar rakyat merasakan kenyamanan di bulan Ramadan ini. Hal ini sebenarnya bisa diatasi hanya dengan menjalankan kehidupan sesuai tuntunan syariah. Syariah sendiri mencakup interaksi manusia dengan Penciptanya, yaitu Allah ﷻ, interaksi manusia dengan sesama manusia, dan interaksi manusia dengan dirinya sendiri.

Interaksi manusia dengan Allah dilaksanakan secara individu. Interaksi manusia dengan sesama manusia, seperti muamalah (sistem pemerintahan, ekonomi, pergaulan, pendidikan, dan politik luar negeri) serta uqubat (sanksi hukum), seharusnya dilaksanakan oleh negara. Namun, untuk saat ini hal itu tidak dapat dilaksanakan karena sistem yang berjalan bukan sistem Islam. Adapun interaksi manusia dengan dirinya sendiri dilaksanakan secara individu.

Puasa termasuk interaksi antara manusia dengan Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
Setiap amal anak Adam adalah untuk dirinya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk Diri-Ku dan Aku pula yang akan langsung memberikan balasannya.” (HR. Al-Bukhari)

Untuk itu, marilah kita isi bulan Ramadan dengan ragam amal kebajikan, memperbanyak membaca, menghafal, dan mengamalkan Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, meningkatkan kepedulian bersama, serta bersemangat memperjuangkan syariah-Nya agar bisa diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan.

Posting Komentar

0 Komentar