
Oleh: Darul Iaz
Pemerhati Sosial
Di tengah arus informasi yang begitu deras, kita justru dihadapkan pada satu ironi besar: manusia semakin banyak berbicara tentang seks, tetapi semakin sedikit yang memahami hakikatnya. Seksologi dipersempit menjadi sekadar pembahasan hubungan intim, bahkan sering dicurigai sebagai sesuatu yang tabu dan tidak pantas diajarkan. Padahal, jika ditarik ke makna dasarnya, seksologi justru berbicara tentang hal yang paling fundamental, yaitu identitas manusia sebagai laki-laki dan perempuan.
Kesalahpahaman ini bukan sekadar persoalan istilah. Hal ini telah melahirkan dampak nyata, generasi yang tumbuh tanpa pemahaman yang benar tentang dirinya sendiri.
Ketika Fitrah Dibiarkan Tanpa Bimbingan
Banyak dari kita merupakan produk dari pendidikan yang menghindari pembahasan ini. Kita tumbuh tanpa pernah benar-benar dijelaskan apa yang terjadi pada tubuh saat memasuki masa balig. Perubahan fisik terasa asing, dorongan biologis terasa membingungkan, dan rasa ingin tahu sering kali dijawab oleh sumber yang keliru.
Akibatnya, anak tidak hanya kehilangan arah secara fisik, tetapi juga secara psikologis dan emosional. Ketertarikan terhadap lawan jenis, rasa penasaran terhadap tubuh sendiri, hingga dorongan seksual, semua itu hadir tanpa panduan. Dalam kondisi seperti ini, anak sangat rentan mencari jawaban di tempat yang tidak tepat, seperti media, internet, atau lingkungan yang tidak terkontrol.
Lebih berbahaya lagi, kekosongan ini membuka pintu bagi terbentuknya orientasi dan perilaku yang menyimpang dari fitrah. Hal tersebut bukan semata karena faktor biologis, tetapi juga karena ketiadaan fondasi pendidikan yang benar sejak awal.
Kerusakan yang Lebih Dalam dari Sekadar Perilaku
Dalam perspektif Islam, kerusakan terbesar bukan hanya terletak pada tindakan, tetapi pada rusaknya tatanan fitrah manusia. Ketika laki-laki tidak lagi memahami perannya sebagai laki-laki dan perempuan kehilangan jati dirinya sebagai perempuan, maka yang rusak bukan sekadar individu, melainkan peradaban.
Al-Qur’an dalam Surah Al-Isra’ ayat 32 menggambarkan kerusakan tersebut sebagai “perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.” Ungkapan ini tidak hanya bermakna literal, tetapi juga mengandung makna simbolik, yaitu rusaknya generasi sebagai konsekuensi dari rusaknya identitas dasar manusia.
Hari ini, kita dapat melihat bagaimana standar maskulinitas dan feminitas dibentuk bukan oleh nilai, melainkan oleh industri dan media. Sosok “laki-laki ideal” atau “perempuan ideal” tidak lagi merujuk pada akhlak atau peran, tetapi pada citra yang dibangun secara artifisial. Dari sinilah kebingungan identitas mulai tumbuh perlahan, tetapi pasti.
Tarbiyatul Jinsi: Pendidikan yang Terlupakan
Islam sebenarnya telah memiliki konsep pendidikan yang sangat jelas dalam hal ini, yaitu tarbiyatul jinsi (pendidikan seksual berbasis fitrah). Namun, sayangnya konsep ini sering disalahpahami atau bahkan diabaikan.
Padahal, pendidikan ini bukan mengajarkan “cara berhubungan”, melainkan membangun kesadaran tentang:
- Fitrah penciptaan—anak memahami bahwa dirinya adalah laki-laki atau perempuan.
- Peran kehidupan—laki-laki sebagai pemimpin dan penanggung jawab, perempuan sebagai pengasuh dan pendidik generasi.
- Batasan syariat—apa yang boleh dan tidak boleh dalam interaksi, aurat, hingga adab pergaulan.
Semua ini diajarkan secara bertahap, bahkan sejak usia dini. Bukan dengan vulgaritas, tetapi dengan kejujuran dan kebijaksanaan.
Sayangnya, banyak orang tua justru menyerahkan pendidikan ini kepada lingkungan. Padahal, di era digital, lingkungan terbesar anak adalah layar di tangannya.
Orang Tua yang Harus Belajar Ulang
Kita adalah generasi yang unik. Kita tidak diajari, tetapi dituntut untuk mengajari. Kita tumbuh dalam keterbatasan informasi, namun kini hidup di tengah ledakan informasi.
Masalahnya, tanpa bekal ilmu, orang tua cenderung memilih diam. Padahal, diam bukan solusi, melainkan membuka ruang bagi kesalahan yang lebih besar.
Mendidik anak tentang seksualitas bukanlah pilihan, tetapi kewajiban. Bukan untuk merusak kepolosan mereka, melainkan untuk menjaga fitrah mereka. Sebab, jika orang tua tidak menjelaskan, dunia luar akan mengambil alih, dengan cara yang jauh dari nilai yang kita yakini.
Mengembalikan Standar yang Hilang
Pada akhirnya, persoalan ini kembali pada satu hal mendasar, yaitu standar. Anak akan tumbuh sesuai dengan apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan setiap hari.
Jika ia melihat ayah sebagai sosok yang bertanggung jawab, ia akan memahami makna menjadi laki-laki. Jika ia merasakan kasih sayang ibu yang tulus, ia akan memahami makna menjadi perempuan.
Sebaliknya, jika standar itu tidak ada, maka anak akan mencarinya di luar, dan sering kali menemukannya dalam bentuk yang keliru.
Maka, mendidik fitrah bukan sekadar mengajarkan teori. Hal ini merupakan proses menghadirkan teladan, membangun komunikasi, dan menanamkan nilai sejak dini.
Karena sejatinya, krisis terbesar hari ini bukanlah krisis informasi, melainkan krisis pemahaman tentang siapa kita sebenarnya sebagai manusia.

0 Komentar