BOP BUKAN SOLUSI HAKIKI


Oleh: Shabira Azka
Penulis Lepas

Kabar duka kembali datang dari Palestina. Untuk kesekian kalinya, Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan melakukan pembantaian tanpa menyisakan bangunan sekalipun. Tareq Abu Azzoum, kontributor Al Jazeera Gaza, melaporkan bahwa Israel tidak mengecualikan rumah warga dari daftar bidikan (CNN Indonesia, 05/02/2026). Parahnya, mereka melakukan hal demikian sesaat setelah menandatangani keikutsertaan dalam BoP.

Tak henti-hentinya pengkhianatan Israel terhadap Palestina menunjukkan bahwa tindakan tersebut memang sengaja dilakukan, terlebih dengan sikapnya yang masih terus melakukan pembantaian setelah bergabung dengan BoP. Fakta ini seharusnya membuka pemikiran kita semua, terutama negara-negara Muslim, bahwa gencatan senjata ataupun BoP bukanlah solusi yang dapat menuntaskan penjajahan ini. Namun, entah apa yang dipertimbangkan, negara-negara Muslim justru berpartisipasi dalam propaganda-propaganda tersebut. Hal ini bisa saja disebabkan oleh sikap naif atau bahkan kecenderungan untuk meraup keuntungan tertentu.

Gencatan senjata dan BoP hanyalah bentuk sandiwara Amerika Serikat dan Israel guna meneruskan penjajahan mereka dengan cara yang terkesan lebih “ramah”. Apabila Palestina benar-benar jatuh ke tangan musuh, maka akan mudah bagi pihak tersebut (Israel) untuk mengeksploitasi warga Palestina tanpa mengkhawatirkan kecaman dari luar. Mengingat sikap Amerika Serikat dan Israel selama ini, besar kemungkinan pengkhianatan semacam itu akan terus terjadi. Selain itu, secara umum, tidak ada pihak yang menginginkan lawannya hidup damai di bawah kekuasaannya, terlebih dalam kehidupan dengan tatanan kapitalis yang menekankan keuntungan individu. Dugaan ini diperkuat dengan adanya janji Amerika Serikat terkait hak paten “New Gaza” kepada para partisipan.

Fakta yang lebih menyedihkan, negara-negara Muslim dinilai belum memiliki kekuatan untuk melawan Amerika Serikat dan Israel. Mereka berlindung di balik alasan menjaga keamanan kawasan dan mencegah meluasnya konflik, bahkan terkesan menjadi pelengkap dalam skenario penjajahan tersebut. Kini, hanya sebagian umat yang masih menjaga nalar kritis untuk menganalisis mana yang dibutuhkan dan mana yang tidak. Oleh karena itu, umat perlu bersikap tegas dalam menolak narasi yang dipropagandakan oleh pihak penjajah, seperti gencatan senjata dan BoP.

Apabila umat bersatu, mereka akan memiliki kekuatan besar yang tidak dapat dipandang remeh. Oleh sebab itu, persatuan umat sangat dinantikan, mengingat kondisi saat ini membutuhkan kontribusi besar, terutama dalam aspek politik dan kepemimpinan, guna menghadapi hegemoni Barat sebagai pihak penjajah. Di sinilah peran hamlud dakwah dibutuhkan untuk memberikan pemahaman kepada umat dan para penguasa Muslim mengenai urgensi jihad, serta mendorong bersatunya negara-negara Muslim di bawah naungan khilafah. Semoga Allah memberikan pertolongan-Nya dalam upaya menegakkan kehidupan di bawah naungan Islam. Aamiin.

Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar