
Oleh: Rya
Penulis Lepas
Pemerintah tidak main-main dalam menangani kesehatan jiwa anak setelah maraknya kasus anak mengakhiri hidupnya. Pemerintah baru-baru ini mengeluarkan SKB sembilan menteri yang meliputi Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menteri PPPA) Arifah Fauzi, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN (Mendukbangga/Kepala BKKBN) Wihaji, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid, serta Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Menurut data healing119.id dan KPAI, terdapat empat hal yang menjadi pemicu anak mengakhiri hidupnya, yaitu konflik keluarga, faktor psikologis, perundungan, dan tekanan akademik (Kompas, 07/03/2026).
Masalah demi masalah selalu menghantui negeri ini, tak terkecuali masalah anak. Mulai dari tawuran, pergaulan bebas, narkoba, minuman keras, perundungan, kekerasan fisik, pembunuhan, mengakhiri hidup, dan sebagainya.
Jika diamati, sumber masalah yang termasuk di dalamnya adalah masalah kesehatan mental anak yang berasal dari sistem kehidupan sekuler liberal. Sistem ini menjauhkan individu dari aturan Pencipta. Manusia tidak mau diatur oleh agama, melainkan ingin mengatur hidupnya sendiri dengan akalnya. Padahal, akal manusia lemah dan terbatas. Kelemahan dan keterbatasan akal mengakibatkan aturan yang dibuat tidak memberikan kebaikan kepada manusia. Justru, aturan ini merusak manusia.
Sistem sekuler liberal inilah contoh aturan buatan akal manusia. Sekuler berarti memisahkan agama dari kehidupan. Agama hanya mengatur ibadah ritual semata, sedangkan dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak mau diatur oleh agama. Sementara itu, liberal berarti bebas, yaitu manusia bebas tanpa batas melakukan apa pun tanpa mempertimbangkan halal dan haram.
Sungguh dahsyat dampak sistem sekuler liberal ini terhadap kehidupan manusia, yang semakin tergerus dengan adanya media kapitalis global. Generasi saat ini sangat mudah mengakses media tanpa filter, seperti konten gaya hidup bebas, kekerasan, bunuh diri, dan konten negatif lainnya. Tidak hanya melihat, tetapi juga mengikuti apa yang ditontonnya.
Selanjutnya, yang tak kalah penting adalah pendidikan di sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat yang tidak berlandaskan akidah Islam. Sistem pendidikan saat ini hanya fokus mengejar nilai akademik dan materi semata. Pelajaran agama diabaikan dengan porsi yang sedikit, hanya untuk memenuhi kewajiban kurikulum. Tidak ada pemahaman yang benar tentang akidah Islam, tujuan hidup, dan profil muslim sejati. Alhasil, hal ini tidak mampu membentuk generasi yang cemerlang. Ketika ada masalah kecil, hal tersebut bisa menjadi besar bahkan berakibat pada tindakan negatif, tidak takut kepada Allah, bersikap anarkis, mudah putus asa, hingga menganggap nyawa tidak berharga.
Keluarga dan lingkungan juga berperan dalam membentuk generasi yang bermental kuat. Keluarga menjadi tempat bertanya dan berlindung bagi generasi. Namun, ketika orang tua sibuk bekerja, mereka tidak memiliki cukup waktu untuk membina anak-anaknya. Lingkungan tempat tinggal pun tidak memberikan teladan yang baik. Banyak aktivitas yang melanggar norma agama ataupun sosial, tetapi hal tersebut dianggap biasa.
Dampak sistem sekuler liberal kapitalistik sangat merusak generasi, sehingga sistem ini perlu dihilangkan dan dijadikan sebagai musuh bersama. Oleh karena itu, diperlukan upaya dakwah untuk menggantinya dengan sistem Islam, karena hanya sistem Islam yang mampu memberikan solusi atas berbagai permasalahan tersebut. Sistem ini bersumber dari Zat Yang Maha Benar, yaitu Allah ï·».
Dalam Islam, negara akan melindungi anak beserta keluarganya dari kerusakan nilai sekuler-liberal-kapitalistik. Negara berfungsi sebagai ra’in (pengurus) dan junnah (pelindung) bagi kaum muslimin. Pengurusan negara (ri’ayah) didasarkan pada akidah Islam dalam sistem pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan aspek lainnya.
Dalam sistem pendidikan Islam, negara akan mencetak generasi yang berkepribadian Islam. Mereka takut kepada Penciptanya sehingga selalu terikat dengan syariat Islam. Mereka memahami bahwa tujuan hidup adalah beribadah kepada Allah. Dalam sistem kesehatan, negara akan menjaga kesehatan mental generasi serta melarang konten-konten yang merusak.
Dalam sistem ekonomi, negara menjamin pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan papan setiap individu. Negara juga menyediakan lapangan pekerjaan yang luas serta memberikan gaji yang layak sehingga kepala keluarga mampu mencukupi kebutuhan keluarganya. Selain itu, negara memberikan bantuan modal tanpa riba bagi yang membutuhkan. Dengan demikian, syariat Islam mampu melindungi generasi dari berbagai bentuk kerusakan.

0 Komentar