TEKANAN HIDUP SEMAKIN TAK TERKENDALI, BUNUH DIRI JADI SOLUSI


Oleh: Ummu Hafidz
Penulis Lepas

Sebuah video yang diambil oleh pengendara motor saat melintas di Jembatan Cangar tiba-tiba menjadi viral di media sosial. Hal ini terjadi karena pemotor tersebut secara tidak sengaja merekam detik-detik terakhir seorang pemuda yang diduga berniat untuk mengakhiri hidupnya.

Kasat Reskrim Polres Batu, AKP Joko Suprianto, membenarkan bahwa sosok dalam video tersebut adalah korban. Pemuda berinisial MMA (24), warga Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, diketahui bekerja sebagai karyawan percetakan.

"Memang benar dari ciri-ciri yang ada di video dan temuan setelah olah TKP bahwa itu memang korban yang terekam sebelum ditemukan tewas di bawah jembatan," ungkap Joko, Selasa (7/4/2026).

Dari hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), korban diduga tewas akibat melompat dari atas jembatan. Pada tubuh korban ditemukan luka parah di bagian kepala dan telinga (Detik, Rabu, 08/04/2026).

Peristiwa ini menambah daftar panjang kasus bunuh diri yang kian mengkhawatirkan. Fenomena ini menjadi sinyal bahwa kondisi kesehatan mental masyarakat sedang tidak baik-baik saja, tidak hanya di kalangan dewasa, tetapi juga anak-anak.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2026 telah tercatat empat kasus bunuh diri pada anak di Indonesia, yang tersebar di beberapa daerah.

"Dalam tahun 2026 ini sudah ada 4 orang yang meninggal. Empat anak yang meninggal itu ada di NTT, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan Timur," kata Menkes dalam konferensi pers Senin (9/3/2026).

Dari data Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Menkes juga menyinggung bahwa 115 anak dilaporkan bunuh diri pada periode 2023–2025. Mayoritas kasus terjadi pada anak usia 11 hingga 17 tahun. Dilansir dari Detik Senin, 09/03/2026. Fakta ini menunjukkan adanya krisis kesehatan mental yang serius di tengah masyarakat.


Mengapa Bunuh Diri Terjadi?

Dalam pandangan Islam, bunuh diri merupakan perbuatan yang dilarang keras. Allah ﷻ berfirman dalam surah An-Nisa ayat 29–30 yang melarang manusia mengakhiri hidupnya sendiri:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْۗ وَلَا تَقْتُوْلُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا ۝٢٩
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang batil (tidak benar), kecuali berupa perniagaan atas dasar suka sama suka di antara kamu. Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ عُدْوَانًا وَّظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيْهِ نَارًاۗ وَكَانَ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرًا ۝٣٠
Siapa yang berbuat demikian dengan cara melanggar aturan dan berbuat zalim, kelak Kami masukkan dia ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

Larangan serupa juga terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 195:

وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِۛ وَاَحْسِنُوْاۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ ۝١٩٥
Berinfaklah di jalan Allah, janganlah jerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Rasulullah ﷺ pun memberikan peringatan tegas bahwa pelaku bunuh diri akan mendapatkan balasan sesuai dengan perbuatannya di akhirat.

من قتل نفسه بشيء عذب به يوم القيامة
Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu, ia akan di adzab dengan itu di hari kiamat” (HR. Bukhari no. 6105, Muslim no. 110).

Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

من قتلَ نفسَهُ بحديدةٍ فحديدتُهُ في يدهِ يتوجَّأُ بها في بطنِهِ في نارِ جهنَّمَ خالدًا مُخلَّدًا فيها أبدًا ومن قتَلَ نفسَهُ بسَمٍّ فسَمُّهُ في يدهِ يتحسَّاهُ في نارِ جهنَّمَ خالدًا مُخلَّدًا فيها أبدًا من تردَّى من جبلٍ فقتلَ نفسَهُ فَهوَ يتردَّى في نارِ جَهنَّمَ خالدًا مخلَّدًا فيها أبدًا
Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan besi, maka besi itu kelak akan berada di tangannya dan akan dia gunakan untuk menikam perutnya sendiri di dalam neraka Jahannam, kekal di sana selama-lamanya. Barangsiapa bunuh diri dengan minum racun, maka kelak ia akan meminumnya sedikit-demi sedikit di dalam neraka Jahannam, kekal di sana selama-lamanya. Barangsiapa yang bunuh diri dengan menjatuhkan dirinya dari atas gunung, maka dia akan dijatuhkan dari tempat yang tinggi di dalam neraka Jahannam, kekal di sana selama-selamanya” (HR. Bukhari no. 5778, Muslim no. 109).

Namun, lonjakan kasus bunuh diri ini tidak dapat dipandang sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. Fenomena tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berhubungan dan saling memperburuk kondisi psikologis individu, menciptakan sebuah lingkaran yang semakin sulit untuk diputuskan, diantaranya:
  • Pertama, faktor keluarga: Keluarga yang tidak harmonis, tekanan ekonomi, serta kurangnya perhatian orang tua dapat memengaruhi kondisi psikologis anak. Dalam banyak kasus, anak tumbuh tanpa kehangatan emosional yang cukup.
  • Kedua, tekanan ekonomi dan sosial: Sulitnya mendapatkan pekerjaan serta tingginya biaya hidup menjadi beban tersendiri, khususnya bagi generasi muda. Kondisi ini dapat memicu stres, putus asa, dan hilangnya harapan.
  • Ketiga, minimnya pemahaman agama: Kurangnya pemahaman yang mendalam terhadap nilai-nilai spiritual membuat seseorang kehilangan pegangan saat menghadapi ujian hidup.
  • Keempat, pengaruh lingkungan dan media: Kasus perundungan (bullying) serta paparan konten negatif di media digital turut berkontribusi terhadap gangguan mental, terutama pada anak dan remaja.


Peran Negara dan Masyarakat

Masalah ini tidak dapat diselesaikan secara parsial. Negara memiliki peran penting dalam menciptakan sistem yang mendukung kesejahteraan mental masyarakat, termasuk melalui penyediaan lapangan kerja, pendidikan yang berkualitas, serta pengawasan terhadap konten media.

Selain itu, lingkungan masyarakat yang peduli dan suportif juga menjadi faktor penting dalam mencegah terjadinya gangguan mental.

Dalam perspektif Islam, kesejahteraan tidak hanya diukur dari aspek material, tetapi juga spiritual. Nilai-nilai keimanan, tanggung jawab keluarga, serta kepedulian sosial menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang sehat secara mental.


Penutup

Fenomena bunuh diri yang terus meningkat merupakan alarm bagi semua pihak. Dibutuhkan sinergi antara keluarga, masyarakat, dan negara untuk menghadirkan solusi yang komprehensif.

Pendekatan yang tidak hanya berfokus pada aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga spiritual dan moral, menjadi kunci dalam menciptakan kehidupan yang lebih sehat dan bermakna.

Wallahu a’lam bishshawab.

Posting Komentar

0 Komentar