
Oleh: Shala Baharrizqie
Muslimah Peduli Umat
Di tengah masa-masa sulit akibat pandemi ini ternyata masih terdapat bahaya lain yang mengancam seluruh negara di dunia. Adanya pembatasan mobilitas masyarakat selama pandemi Covid-19 tentu tidak bisa mengurangi peredaran narkoba, yang terjadi justru malah sebaliknya, bisnis narkotika kian "tumbuh subur" di tengah himpitan ekonomi.
Beberapa negara kini sudah mulai melegalkan tanaman candu (ganja) ini, salah satunya seperti Amerika Serikat, dan Thailand. Mengetahui terkait hal ini.
Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI Komjen Pol. Petrus Reinhard Golose tetap konsisten untuk tidak membahas wacana melegalisasi ganja tersebut.
Namun Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI Komjen Pol. Petrus Reinhard Golose, hanya memberikan peringatan bagi para turis khususnya wisatawan mancanegara (wisman) bahwa Bali bukan lagi tempat aman (safe haven) untuk menyalahgunakan narkotika.
"Saya deklarasikan bahwa Bali bukan cuma the Island of Gods (Pulau Dewata), dan Island of Tolerance (tempat penuh toleransi), melainkan kami nyatakan Bali adalah Island of Zero Tolerance of Drug Abuse (pulau yang tidak menoleransi penyalahgunaan narkotika)," kata Petrus Golose.
Para pemegang kebijakan dengan jelasnya telah menyatakan penolakan keras terhadap penanaman ganja, penggunaan narkoba, hingga perdagangan obat-obatan terlarang, karena dapat membahayakan bagi bangsa dan generasi.
Lantas bagaimana tanggapan para pemangku kebijakan terkait ungkapan seorang pelaku pengedar narkoba yang dengan gamblangnya berkata bahwa Indonesia adalah pasar narkoba yang bagus dengan angka permintaan yang terus meningkat, harga yang tinggi, dan hukum yang bisa dibeli?
Peredaran narkoba pun yang sebelumnya dilakukan secara nyata di hanya pada tempat-tempat hiburan, kini menyasar pada kediaman rumah-rumah masyarakat.
Ketika sadar bahwa narkoba ini sangat amat membahayakan dan merusak bagi generasi mendatang, lantas mengapa tidak menyadari pula bahwa akar dari beragam kerusakan ini disebabkan oleh terus bertumbuhnya liberalisme.
Paham liberal lahir dari sistem kapitalisme yang dilandasi oleh prinsip pemisahan agama dari kehidupan (sekuler). Paham liberal mendorong setiap individu untuk berbuat mengikuti hawa nafsu. Tanpa harus mempertimbangkan aturan atau rambu-rambu agama. Mereka berbuat mengikuti kehendak jiwa. Dan ini berbahaya bagi umat Islam.
Tiga yang menjadi prinsip utama liberalisme: kebebasan, individualisme, dan rasionalisme. Semuanya menunjukkan ketidaksiapan untuk terikat dengan ajaran agama, bahkan menentang ajaran agama. Kita hanya akan mendapati seorang penganut sejati liberalisme akan terjatuh pada sekian banyak perkara kekafiran.
Dalam kasus ini, seorang liberalis mengatakan bahwa minuman keras hukumnya halal di suatu daerah tertentu, berdasarkan tinjauan rasional. Siapa pun berhak berpendapat demikian demi kebebasan berpendapat sebagai refleksi atas hak asasi manusia. Padahal khamr, minuman keras, apapun sebutannya dan apa pun merknya pada masa ini, hukumnya haram dalam agama. Sebagaimana Nabi Muhammad ï·º bersabda:
ÙƒُÙ„ُّ Ù…ُسْÙƒِرٍ Ø®َÙ…ْرٌ ÙˆَÙƒُÙ„ُّ Ù…ُسْÙƒِرٍ Øَرَامٌ
"Setiap sesuatu yang memabukkan itu adalah khamr dan setiap sesuatu yang memabukkan hukumnya adalah haram" (HR. Muslim no. 2003).
Dengan menghalalkan sesuatu yang Allah ‘azza wa jalla haramkan, berarti dia tidak memercayai kebenaran itu berada pada hukum yang Allah ‘azza wa jalla tetapkan. Ketika dia tahu bahwa suatu hukum merupakan ketetapan Islam lantas dia ingkari, maka dia terjatuh dalam sikap kekafiran besar.
Jelaslah bahwa liberalisme adalah paham berbahaya yang dapat merusak pemikiran seseorang.
Sesungguhnya, Islam tak mengenal konsep pemisahan agama dari kehidupan. Di dalam Islam agama harus diterapkan dalam kehidupan secara menyeluruh. Itulah sebabnya, syariat ini mengatur seluruh aspek kehidupan baik dari bangun tidur hingga tidur lagi. Manusia tak bisa berbuat sesuka hati. Di sana ada rambu-rambu yang harus diikutinya. Dan ini bukan sebuah pengekangan melainkan wujud cinta Sang Pencipta kepada hamba-Nya agar mereka dapat meraih kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat.
Wallahu a'lam bish-shawabi

0 Komentar