
Oleh: Shalsha Baharrizqi
Dunia tengah diributkan oleh sebuah polemik penghinaan kepada Islam dan Nabi Muhammad ﷺ. Sebuah bentrokan antara umat Hindu dan Muslim di India timur telah memakan korban berjatuhan sampai hilangkan nyawa.
Bentrokan yang bermula dari sebuah protes pernyataan menghina yang dilakukan pejabat Bharatiya Janata Party (BJP) kepada Nabi Muhammad ﷺ, menghasilkan buntut kericuhan hingga membuat syahid dua pemuda dan puluhan orang luka-luka.
Upaya penghinaan terhadap sosok agung Muhammad ﷺ tentu bukan terjadi kali ini saja, melainkan terus berulang pada sistem sekuler ini.
Sebuah perlawanan tindakan protes dan boikot tentu tidak akan mampu menghentikan polemik penghinaan ini. Pasalnya negara muslim tidak akan mencapai mufakat untuk melawan India, karena masing-masing hanya akan melakukan protes sesuai dengan keuntungan yang akan mereka peroleh, kecuali apabila sebuah negara tersebut telah berbasis syariat, serta memiliki kekuatan dalam menggetarkan rezim Hindu radikal di india.
Rezim Hindu radikal tentu menganggap bahwa Islam itu adalah agama yang berbahaya. Itulah yang menjadi sebab terus terjadi penyerangan terhadap Islam. Dari peristiwa ini, seharusnya dapat menyadarkan bagi seluruh umat muslim dunia, yang mana seluruh umat harus turut meminta pertanggungjawaban kepada para penghina.
Melihat penghinaan seperti di atas tentu saja kita tidak rela, karena penghinaan termasuk pada kemunkaran. Apalagi yang dihina adalah Rasulullah ﷺ, sosok yang kita cintai melebihi Orangtua, anak, bahkan diri kita sendiri. Pertanyaannya kemudian adalah harus diwujudkan dalam bentuk apa kekecewaan itu? Yang pasti bukan dengan cara kekerasan, apalagi pembunuhan dan teror!
Berbagai hinaan tersebut dapat kita lihat dalam berbagai ayat Al-Qur'an yang mengisyaratkan penghinaan terhadap Nabi muncul setidaknya karena dua hal:
Pertama yaitu keangkuhan, sebagaimana Allah ﷻ berfirman dalam Surah al-Jasyiah ayat 35:
ذَٰلِكُمْ بِأَنَّكُمُ اتَّخَذْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا وَغَرَّتْكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۚ فَالْيَوْمَ لَا يُخْرَجُونَ مِنْهَا وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ
“Yang demikian itu, karena sesungguhnya kalian menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat.” (QS. al-Jasyiah 45: 35)
Kedua adalah ketidaktahuan yang terjadi akibat ketidaksampaian dakwah atau tidak tersampaikannya informasi tentang Nabi secara distorsif, sehingga terjadi kesalahpahaman. Sebagaimana firman Allah ﷻ dalam Surah al-Maidah ayat 104:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk.” (QS al-Maidah 5: 104)
Dari ulasan di atas kita mengetahui bahwa Al-Qur'an memberikan tuntunan dalam menyikapi penghina Nabi, agar kita bersikap bijaksana, tabah, dan membalasnya dengan cara yang baik dan elegan. Nabi sendiri memberikan teladan dalam menghadapi penghinanya dengan mendoakan kebaikan dan gigih menyampaikan Islam yang hakiki, dengan cara merangkul bukan memukul.
Oleh karenanya sosok pemimpin (khalifah) sangat dibutuhkan, agar berperan sebagai perisai yang dapat mengayomi, melindungi, dapat mempersatukan seluruh negeri Islam dalam satu kepemimpinan. Semua ini dapat terwujud apabila seorang pemimpin mengambil Islam sebagai dasar negara.
wallahu a'lam bish-shawabi.

0 Komentar