
Oleh: Lathifa Rohmani
Muslimah Peduli Umat
Belakangan ini banyak terjadi kasus bunuh diri yang menimpa masyarakat Indonesia. Tak hanya orang dewasa, tetapi menimpa pada murid-murid sekolah, mahasiswa bahkan kerap kali terjadi pada anak-anak belum baligh sekalipun.
Kasus bunuh diri yang terjadi baru-baru ini terjadi pada seorang siswi di Semarang yang telah mengikuti ujian masuk PTN. Sebelumnya, ia bernazar jika dirinya lulus dari PTN impiannya, maka ia akan memberikan santunan kepada anak yatim. Sedangkan ketika dirinya tidak lulus, maka ia bernazar untuk bunuh diri yang telah dilakukan olehnya.
Selain karena alasan tersebut, penghilangan nyawanya sendiri dipicu juga oleh pacar yang toxic. Kekerasan verbal atau non-verbal sering kali dirasakannya dari sang pacar, termasuk ketidakpedulian saat ia menyatakan keinginannya untuk bunuh diri ketika tidak diterima salah satu PTN favorit di Jawa Tengah.
Bukan hanya itu saja kasus bunuh diri yang terjadi menimpa pelajar. Sebelumnya pun banyak sekali pelajar yang melakukan bunuh diri. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yakni kuliah yang tak kunjung-kunjung lulus, perundungan yang terjadi di sekolah, maupun tekanan dari tuntutan orang tuanya, sehingga menyebabkan mereka mengalami gangguan kejiwaan yang berakibat pada pengakhiran nyawanya sendiri.
Banyaknya kasus bunuh diri pada pelajar adalah bukti nyata bahwa sistem pendidikan sekuler telah gagal membangun kepribadian dan mental yang kuat pada setiap diri pelajar. Lingkungan pendidikan yang seharusnya mendidik para pelajar menjadi kuat akal, fisik dan mental, malah menjadi salah satu penyebab para pelajar tertekan dan depresi sehingga tak sedikit yang memutuskan untuk melakukan bunuh diri.
Di saat yang sama juga, sistem sekuler membangun lingkungan masyarakat yang penuh tekanan hidup, seperti kesulitan ekonomi yang menyebabkan tak sedikit masyarakat di Indonesia putus sekolah karena tidak memiliki biaya untuk melanjutkan pendidikan.
Sistem sekulernya juga menjadi penyebab para pelajar memiliki pergaulan dan pertemanan yang terlampau bebas. Pacaran telah menjadi hal yang biasa di kalangan remaja. Mereka tidak segan dan malu lagi untuk mengumbar gaya berpacaran mereka di sosial media ataupun dunia nyata. Tren-tren yang nyeleneh di kalangan remaja (bahkan anak-anak sekalipun) sudah menjadi hal lumrah seperti FWB (Friends With Benefit), ONS (One Night Stand), dunia roleplayer, sugar daddy/sugar baby, dunia alter dan hal-hal menjijikan lainnya. Hal-hal tersebut telah menjauhkan mereka dari nilai-nilai Islam yang seharusnya dimiliki oleh masyarakat di negeri mayoritas Muslim ini.
Perundungan pun menjadi penyebab utama dari banyaknya kasus bunuh diri di kalangan remaja. Perlakuan kasar baik verbal ataupun non-verbal dari teman-teman sekolahnya menjadikan mereka memiliki mental yang sakit, depresi, stress, takut untuk pergi ke sekolah, sampai memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh pihak sekolah terkait hal ini. Tindakan tegas dari pihak sekolah pun hanya gertakan sementara. Sanksi tegas dari pihak berwenang pun tidak diberikan sama sekali dari pelaku bullying ini. Bahkan beberapa sekolah cenderung menutup-nutupi kasus ini agar tidak mencoreng nama baik sekolah.
Doktrin sekularisme di dunia pendidikan pun telah menjauhkan para pelajar dari nilai-nilai keimanan. Aqidah dan keimanan yang seharusnya dimiliki setiap pelajar agar menjadi benteng di dalam diri malah semakin hari semakin tergerus, bahkan hilang. Sekulerisme memang telah menjadi sistem dan praktek yang menolak segala bentuk keimanan, terutama Islam.
Oleh karena itu, sebenarnya maraknya kasus bunuh diri dan mental illness yang menimpa kaum pelajar bisa terselesaikan apabila kebijakan pemerintah berfokus pada pemeliharaan dan perlindungan setiap masyarakatnya dari berbagai kalangan. Namun, sistem kapitalis-sekuler ini tidak akan mampu mewujudkan hal yang demikian.
Islam sebagai ideologi yang rahmatan lil 'alamin memiliki segala peraturan dan solusi di segala aspek kehidupan manusia, dari mulai sistem ekonomi, sosial, pemerintahan, dan pendidikan. Di dalam kehidupan Islam, semua pemahaman, nilai dan hukum akan diedukasi, baik di lingkungan keluarga, sekolah ataupun masyarakat umum sekalipun.
Dalam Islam, keluarga menjadi pendidik pertama untuk menyiapkan anak-anak mereka agar mampu memenuhi kebutuhan fisik dan psikisnya. Tentunya, seorang ibulah yang menjadi madrasatul ula bagi anak-anaknya. Kemudian lingkungan masyarakat umum merupakan masyarakat Islami yang mampu memberikan penjagaan dan perlindungan terhadap anak-anak dan generasi.
Negara pun tidak lalai dan haruslah memiliki tanggung jawab secara utuh untuk menyelamatkan anak-anak dan generasi muda dari bahaya-bahaya tersebut. Maka di sini, negara dalam Islam menjadi tameng dan peri'ayah seluruh rakyatnya.
Islam memiliki sistem pendidikan yang unik yang memiliki peraturan yang jelas, sistematis dan sempurna. Kurikulum pendidikan Islam haruslah berdasarkan akidah Islam yang memiliki tujuan untuk membentuk kepribadian Islam di setiap diri pelajarnya. Seluruh bahan ajaran dan metode pengajaran haruslah ditetapkan berdasarkan asas dan tujuan tersebut. Sehingga menghasilkan generasi-generasi pintar dengan karakter dan kepribadian Islam, serta kuat secara fisik dan mental. Begitulah ketika Islam secara total diterapkan di dalam sistem pendidikan.
Wallahu'alam bish-shawwaab.

0 Komentar