
Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban
Tanggal 10 Oktober lalu diperingati sebagai Hari Kesehatan Mental Sedunia, tahun 2022 ini merupakan peringatan yang ke-28 mengusung tema "Make Mental Health and Well Being for all a Global Priority" atau "Jadikan kesehatan mental untuk semua sebagai prioritas global". Perayaan ini pertama kali dilakukan pada tahun 1992 atas inisiatif World Federation for Mental Health, sebuah organisasi kesehatan mental global.
Dilansir situs Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), makna tema Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2022 tersebut adalah menjadi kesempatan bagi orang-orang dengan kondisi mental atau jiwa agar berkumpul bersama untuk menggali kemajuan di bidang kesehatan jiwa atau mental dan untuk vokal tentang apa yang perlu dilakukan untuk memastikan kesehatan jiwa atau mental serta kesejahteraannya menjadi prioritas global bagi semuanya.
Stigma dan diskriminasi masih menjadi penghalang bagi penderita kesehatan jiwa atau mental untuk mendapat perawatan yang tepat. Maka dari itu, Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2022 diharapkan mampu dijadikan sebagai kampanye bagi setiap orang berhak mengakses perawatan kesehatan jiwa atau mental yang dibutuhkan dan menjalani kehidupan yang lebih baik.
Ironinya, dua hari sebelum peringatan ada seorang mahasiswa dari kampus Negeri di Yogyakarta terjun dari lantai 11 satu hotel di Caturtunggal, Depok, Sleman, DI Yogyakarta (Tribunjogja.com,8/10/2022.
Polsek Bulaksumur, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, memastikan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) bernisial TSR (18) yang tewas terjatuh dari lantai 11 salah satu hotel di wilayah setempat murni karena bunuh diri. Kesimpulan tersebut di dapat setelah memeriksa sejumlah saksi dan hasil temuan polisi di tempat kejadian perkara (TKP). Diantaranya ditemukan surat keterangan dibawah pengawasan psikiater yang menunjukkan pelaku bunuh diri mengalami gangguan jiwa.
Data mungkin sudah banyak terakses di media sosial berapa jumlah penduduk dunia, khususnya Indonesia yang mengalami gangguan jiwa. Namun, patut dipertanyakan mengapa sakit jiwa ini mendunia, sistemik, hingga merasa perlu dibuatkan kampanye melalui penetapan tanggal 10 Oktober sebagai hari kesehatan jiwa internasional.
Secara kemajuan teknologi, dunia hampir tak luput terlibat di dalamnya, dengannya di beberapa negara memang hidup menjadi lebih mudah karena serba digital. Di belahan dunia lain, meski tak merata namun juga tak sampai tidak tersentuh samasekali, namun sakit jiwa malah bertambah.
Bahkan kesehatan mental tidak hanya seputar gangguan mental, tapi merupakan isu yang kompleks yang dapat dialami secara berbeda antara individu yang satu dengan individu lainnya. Dan tujuan peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia adalah untuk mempromosikan pentingnya kesadaran kesehatan mental dan pencegahan gangguan mental. Namun cukupkah hanya dengan slogan dan kampanye, sementara persoalan akarnya tidak terusik samasekali?
Menurut Ilham Akhsanu Ridho, dosen dan peneliti Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, perempuan di Indonesia rentan mengalami gangguan kesehatan mental karena mengalami beban ganda dalam keluarga dan tempat kerja. Selain dituntut oleh sistem sosial untuk mengurus pekerjaan di ranah domestik, perempuan juga dituntut bekerja untuk meningkatkan pendapatan keluarga, apalagi di kalangan kelompok miskin.
Di sektor domestik, kerentanan sosial muncul saat perempuan mengurus rumah tangga, anak, perceraian (jika terjadi), konflik dengan pasangan, kekerasan dalam rumah tangga. “Akar-akarnya bisa dilacak pada budaya patriarki,” lanjut Akhsanu.
Maka WHO sebagai lembaga kesehatan internasional memberikan masukan untuk mencegah gangguan kesehatan mental. Setidaknya ada dua langkah, pertama, mempromosikan kesehatan mental untuk semua orang dan melindungi orang-orang berisiko seperti anak-anak, remaja, dan pekerja. Program pencegahan bunuh diri juga patut digalakkan.
Kedua, negara harus menyediakan layanan kesehatan yang mudah diakses dan terjangkau oleh masyarakat. Dalam konteks ini, peningkatan anggaran untuk kesehatan mental menjadi keharusan. Tanpa adanya anggaran yang memadai, promosi, pencegahan, dan pengobatan atas masalah kesehatan mental sulit dilakukan.
Jika kita teliti, solusi sebenarnya mengambang, yang dikemukakan hanyalah masalah teknis pencegahan, sedangkan asal muasal mengapa orang bisa mudah depresi, tak berdaya, hingga kehilangan akal sehat dengan membunuh, dibunuh dan bunuh diri tidak terjawab. Jika hanya satu mungkin bisa disebut kasuistik, tapi jika hampir satu miliar orang di seluruh dunia mengalami gangguan kesehatan mental dalam berbagai bentuk bukankah ini disebut sistemik, atau kesalahan secara sistem?
Sebagaimana dilansir KOMPAS.com, 20 Juni 2022 WHO mencatat, di tahun 2020, diperkirakan gangguan kecemasan meningkat secara signifikan menjadi 26 persen, dan depresi sebanyak 28 persen terutama akibat pandemi Covid-19. Angka ini tentu bukan saat Pandemi saja, bisa jadi sebelumnya sudah tinggi karena kita tidak disuguhkan sampel data di kota atau negara dimana survey diambil.
Sistem Kapitalistik Penyumbang Besar Mental Illnes
Gangguan mental makin banyak terjadi di tengah masyarakat. Ada banyak faktor yang menjadi penyebab, baik faktor internal maupun eksternal termasuk lingkungan dan corak pembangunan yang kapitalistik. Faktor internal misalnya ketidakmampuan keluarga sebagai support sistem membangun komunikasi, solusi dan empati setiap kali ada kesulitan dialami salah satu anggota keluarga hingga mengganggu mentalnya.
Kurangnya literasi tentang kesehatan mental dan bagaimana kedekatan hubungan antar anggota keluarga turut andil memperparah potensi sakit jiwa pada diri seseorang. Terlebih, tekanan faktor eksternal pada keluarga hari ini makin kuat. Sesaat setelah pandemi Covid-19 dinyatakan mereda, saat pemulihan ekonomi baru merangkak, pemerintah, terutama di Indonesia menaikkan harga BBM Subsidi, sehingga memicu kenaikan semua harga pokok kebutuhan masyarakat.
Negara yang berlepas tangan terhadap kesejahteraan rakyat dengan mengalihkan pelayanan umum kepada pihak swasta, baik itu kesehatan, pendidikan, keamanan dan lainnya makin membebani keluarga. Penghasilan semakin seret, dikarenakan banyak perusahaan yang mengurangi biaya produksi dan yang paling mudah adalah PHK agar lebih efisien. Dampak langsungnya pada keruwetan berpikir, memecahkan solusi yang sebenarnya memang tidak mampu diselesaikan jika tanpa negara, sebab menyangkut kebijakan.
Disinilah bisa kita simpulkan banyaknya faktor yang menjadi penyebab menunjukkan bahwa gangguan mental adalah problem sistemik. Tak bisa rakyat dibiarkan hidup sendiri tanpa pengurusan negara. Rasulullah ï·º bersabda, “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari). Maka, menjadi dosa jika pengurusan ini belum sepenuhnya ada di tangan negara.
Oleh karena itu, masalah sakitnya kejiwaan individu rakyat, membutuhkan solusi sistemik pula. Jika sistem hari ini tidak bisa menyelesaikan maka harus segera diganti. Sistem apa yang hari ini dijalankan? Kapitalisme demokrasi, yang semuanya bersumber dari faham sekulerisme atau pemisahan agama dari kehidupan.
Negara membuat aturan sendiri tanpa berdasarkan apa yang telah diturunkan Allah ï·» sebagai Maha Pengatur alam semesta dan seisinya. Melalui lembaga yudikatif atau parlemen, setiap aturan digodok untuk disahkan. Alasannya musyawarah-mufakat, padahal sudah jelas halal haramnya, sedangkan yang mubah atau Sunnah samasekali tidak digubris.
Indonesia adalah negeri mayoritas Muslim, aneh memang jika ternyata aturan hidupnya bukan syariat Allah, pemimpin negeri ini malah sibuk meratifikasi kebijakan global semacam WHO, padahal kita tahu, siapa yang berdiri di baliknya? Negara penjajah yang sudah menghegemoni negeri-negeri Muslim, menjarah sumber daya alamnya, menciptakan berbagai krisis mulai ekonomi, sosial hingga perang saudara agar tak fokus pada pemerataan kesejahteraan. Jika ada yang membantah mereka tak nampak nyata berbuat demikian, ya benar! Sebab kini bukan tangan mereka sendiri yang bertindak, melainkan para petinggi negeri ini yang merasa bangga telah membina hubungan mesra dengan para kafir penjajah itu. Mereka yang tega mengorbankan saudara sendiri untuk melayani kehendak segelintir kapitalis.
Islam Solusi Tuntas Atasi Mental Illnes
Islam sebagai sistem hidup memiliki solusi untuk mengatasi persoalan ini secara sistemik. Dan secara akidah hanya Islam yang mampu menyelesaikannya tanpa ragu, sebagaimana firman Allah ï·», “Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Q.S. al-Baqarah2: 2).
Disebut sebagai petunjuk yang tanpa keraguan, artinya benar-benar akan menghilangkan mudharat (bahaya) dan menggantinya dengan maslahat (kebaikan) jika diterapkan. Sebab akal dalam pandangan syariah adalah karunia Allah ï·» yang dapat membedakan baik dan buruk. Terlebih bagi yang sudah mukalaf (wajib terbebani syariat) akal adalah standar penilaiannya.
Dari Ali bin Abi Thalib ra, dari Nabi ï·º, beliau bersabda, “Pena (pencatat amal) akan diangkat dari tiga orang, yaitu: dari orang yang tidur sampai dia bangun, dari anak-anak sampai dia balig, dan dari orang yang gila sampai dia sadar (berakal).” Maka, sangat krusial jika jiwa yang sakit tentulah akibat mental yang tak sehat. Maka, Islam akan menghalangi setiap keadaan yang mengakibatkan sakit mental. Pertama, menciptakan kesejahteraan dengan mengelola ekonomi dengan syariat.
Kedua, dengan mendorong masyarakat senantiasa bersyukur dan qanaah dengan pendidikan atau kajian-kajian. Kemudian menegaskan aturan sistem pergaulan, sanksi dan hukum yang tidak tebang pilih, sehingga rasa aman tercipta, ibadah menjadi mudah.
Ketiga, negara tidak bekerjasama dengan negara yang memerangi kaum Muslimin, bahkan menetapkan hubungan perang kepada negara yang jelas-jelas menyerang kaum Muslim. Sementara hubungan dengan negara yang terikat perjanjian pun negara tidak akan saling bertukar komoditas yang justru melemahkan negara sendiri. Semuanya butuh negara yang berdaulat, berdiri diatas kekuatannya sendiri, bukan bergantung pada kebijakan asing. Wallahu a’lam bish showab.

0 Komentar