PSIKOLOGI FIRAUN MASA KINI (ISLAMOPHOBIA)


Oleh: Alfi Ummuarifah

Tahukah engkau sahabat, apa yang terjadi hari ini. Sebegitu takutnya barat terhadap dunia islam, mereka menjadi tak masuk akal, tidak rasional dan jadi zalim serta represif. Menjadi phobia berlebihan hingga panik membabi buta melabrak hukum syariah. Hukum islam.

Dulu saat Fir'aun mendengar ramalan soal bayi laki-laki yang akan menghancurkannya. Firaun begitu ketakutan. Takut hegemoninya yang sudah mapan goncang. Padahal dia punya Haaman dan bala tentaranya. Juga semua punggawa kerajaan yang mendukungnya. Namun ketakutan dan psikologi phobia menyebabkan dirinya jadi kalang kabut dan akhirnya represif serta zalim.

Keadaan Firaun saat itu tak ubahnya seperti hegemoni kapital hari ini. Segelintir kapital yang saat ini menguasai hajat hidup orang banyak, menjadi panik juga. Akhirnya digoreng dan digiringlah isu war of terrorism dan akhirnya war on radicalism menjadi isu yang melabeli gerakan islam, masjid, sekolah, kampus, pengajian yang nota bene mereka adalah umat islam. Semua dituduh radikal.

Padahal para kapital itu punya fasilitas dan bala tentara yang cukup untuk menguasai dunia hari ini. Umat islam diposisikan seperti kerbau yang dicocok hidungnya.

Mereka dipaksa, dipalaki, diabaikan, dikejar, diperlakukan sekehendak hati. Semua untuk melanggengkan urusan mereka yang dicengkeramkan di seluruh belahan dunia islam. Pemaksaan terjadi. Urusan mereka tak diurus. Dari A sampai Z harus mengurus sendiri. Dimana penguasanya?

Negara-negara islam hanyalah pasar untuk dijajakan produk mereka yang jumlahnya tak terbatas. Produksi dalam negeri ngos-ngosan melawan derasnya produk penjajah.

Usaha anak negeri mati. Gaya hidup masyarakat menjadi sangat konsumtif. Tak tau lagi membedakan mana Kebutuhan dan mana keinginan.

Hegemoni barat ini sesungguhnya tak ada yang abadi. Sebagaimana Fir'aun yang juga tak abadi. Saat laut merah terbelah, dia sumringah. Dia kira itu kebaikan bagi dirinya. Padahal awal malapetaka kehancurannya. Saat dia menyadari kekeliruannya dan dia bertaubat, semua sudah terlambat. Dia keliru besar.

Lihatlah ayat berikut ini:

نَـتۡلُوۡا عَلَيۡكَ مِنۡ نَّبَاِ مُوۡسٰى وَفِرۡعَوۡنَ بِالۡحَـقِّ لِقَوۡمٍ يُّؤۡمِنُوۡنَ
Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir‘aun dengan sebenarnya untuk orang-orang yang beriman. (QS. Al-Qasas Ayat 3)

إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
Sungguh, Fir‘aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia (Fir‘aun) termasuk orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qasas Ayat 4)

So, dunia ini tak kekal. Maka yang kekal itu hanya Allah dan kekuasaannya. Jika kaum muslimin hari ini belum bisa memimpin dunia dengan kesejahteraan yang dibawanya untuk seluruh alam. Maka itu bukan karena Islam yang salah.

Hal itu hanya karena Allah ﷻ belum ijinkan dan Allah akan melihat siapa diantara kita yang "ikut andil" dalam memperjuangkannya. Ada kita atau tidak dibelakangnya tak menjadi soal. Peradaban gemilang itu akan ada pada waktunya.
Adapun saat ini kita mau turut andil mengadakannya sesuai manhaj kenabian. Bagaimana dakwah kaffah mengajak ummat ikut berjuang terlibat di dalamnya, itu PR besar bagi kita para pengemban dakwah. Jadi apapun gorengannya apakah isu war on terrorism dan war on radicalism yang "dilekatkan" pada siapa saja yang memperjuangkannya itu alamiah.

Stigmatisasi, labelling, framing hingga tuduhan akibat psikologi phobia tak akan menghentikan langkah dakwah. Dakwah must go on. Demi tujuan terbentuknya peradaban manusia yang Allah ridho di muka bumi ini.

Lenyapnya Fir'aun dan bala tentaranya. Itu hal mudah bagi Allah. Huwa 'Alayya Hayyin. Dua kali kata itu diulang dalam surat Maryam.

Setiap masa ada giliran jaya dan mundurnya hingga runtuhnya. Itu keniscayaan. Benturan peradaban yang Insya Allah akan dimenangkan Islam seperti yang telah dikabarkan Allah ﷻ. Tinggal kita, mau terlibat dimana. Sedang berjuang atau sedang tidur. Sedang dalam keadaan sulit dalam jalan perjuangan atau sedang di posisi nyaman.

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ
“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu  Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.  Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada.  Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.  Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) yang zalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada.  Lalu  Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.  Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada.  Selanjutnya  akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” Beliau kemudian diam. (HR Ahmad dan al-Bazar).

Sanad Hadis:
Imam Ahmad menerimanya dari Sulaiman bin Dawud ath-Thuyalisi dari Dawud bin Ibrahim al-Wasithi dari Habib bin Salim dari an-Nu‘man bin Basyir. Ia berkata: “Kami sedang duduk di masjid bersama Rasulullah saw. Basyir adalah orang yang hati-hati dalm berbicara. Lalu datang Abu Tsa‘labah al-Khusyani. Ia berkata, “Wahai Basyir bin Saad, apakah engkau hapal hadis Rasulullah saw. tentang para pemimpin?” Hudzaifah berkata, “Aku hapal khutbah beliau.” Lalu Abu Tsa‘labah duduk dan Hudzaifah berkata, “Rasululah saw. bersabda: (sesuai dengan matan hadis di atas).”

Rasulullah hanya diam diujung haditsnya. Dan berkata "tsumma takuunu khilafatan ala minhajin nubuwwah" di akhir zaman. Tsumma sakata... kemudian Rasulullah terdiam.

Yakinkah engkau akan hadist itu sahabatku?

Jika yakin, yuk berjuang. Berjuang dalam alghozwul Mustholahah (perang istilah). Berjuang dalam perang istilah. Perang literasi. Gunakan jarimu. Jarimu menjadi saksi sebagai organ yang menyuarakan syiar islam.

Dirimu tak abadi, Tulisanmu lah yang abadi. Hanya amal jariyah yang akan terus mengalir. Yuk berkontribusi untuk ummat ini. Suatu saat dia akan menguasai dunia sebagaimana janji Allah. Meskipun saat itu mungkin kita sudah tiada. Insyaallah. Wallahu a'lam bish-showaab.

Ya Allah saksikanlah. Sesungguhnya kami sudah menyampaikan. Lindungilah kami dan tolonglah kami... Aamiin.

Posting Komentar

0 Komentar