
Oleh: Siti Aminah
Kepolisian membeberkan alasan menembakkan gas air mata ke arah suporter usai laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, pada Sabtu (1/10).
"Pertandingan sebenarnya berjalan lancar. Namun ketika laga berakhir, sejumlah pendukung Arema FC merasa kecewa. Beberapa di antara mereka lantas turun ke lapangan untuk mencari pemain dan ofisial. Pendukung Arema FC itu kemudian melakukan tindakan anarkis dan membahayakan keselamatan.
Karena gas air mata itu, mereka pergi ke luar ke satu titik, di pintu keluar. Kemudian terjadi penumpukan dan dalam proses penumpukan itu terjadi sesak napas, kekurangan oksigen," katanya, seperti dikutip kantor berita Antara.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD menyebut gas air mata di Stadion Kanjuruhan, Malang, dilepaskan karena penonton mengejar pemain sepak bola.
Mahfud menyebut sekitar 2.000 orang turun untuk mengejar para pemain. Sasarannya para pemain dari kedua klub sepak bola yang bertanding, yakni Arema dan Persebaya.
"Ada yang mengejar Arema karena merasa kok kalah. Ada yang kejar Persebaya. Sudah dievakuasi ke tempat aman. Semakin lama semakin banyak, kalau tidak pakai gas air mata aparat kewalahan, akhirnya disemprotkan," kata Mahfud kepada CNN Indonesia TV, Minggu (2/9).
Itu adalah berita versi polisi, versi video dan pengakuan para suporter di media sosial berbeda lagi, menurut suporter mereka lari ke lapangan karena tribun di tembak gas air mata oleh polisi, padahal dalam aturan FIFA dilarang memakai gas air mata dalam stadion.
Kerusuhan yang terjadi di Kanjuruhan adalah potret buruk fanatisme golongan, yang sudah berulang terjadi, dan kali ini adalah yang paling parah akibatnya, memakan banyak korban, tujuan mereka untuk bersenang-senang malah pulang tinggal nama.
Fanatik terhadap tim sepakbola yang di dukungnya membuat suporter kalap bila tim yang di dukungnya kalah, sikap fanatik ini sering kali menyebabkan kericuhan dan membuat banyak korban.
Berulangnya kerusuhan dalam pertandingan sepak bola seolah menunjukkan pembiaran negara atas hal ini.
Di sisi lain, tragedi ini menunjukkan tindakan represif aparat dalam menangani kerusuhan yang terjadi. Hal ini nampak pada penggunaan gas air mata, yang sejatinya dilarang penggunaannya dalam pertandingan sepak bola.
Tragedi ini tak akan terjadi ketika fanatisme tak menjadi acuan dan aparat bertindak tepat dalam mengatasi persoalan.
Sepak bola merupakan jenis olahraga yang paling mudah dilakukan daripada olahraga lain, dalam Islam diperbolehkan menonton ataupun bermain bola asalkan tidak sampai melanggar hukum syara', tidak fanatik pada tim yang didukungnya dan menganggap menonton bola hanya sebuah hiburan, menang kalah sudah biasa.
Sepak bola di sistem demokrasi kapitalis dijadikan lahan bisnis, mulai dari menaikkan rating stasiun TV sehingga tayang di malam hari yang rawan terjadi kejahatan, penjualan tiket, sepak bola bukan lagi ajang olahraga yang memberikan hiburan yang menyenangkan bagi rakyat.
Tragedi Kanjuruhan ini tidak terjadi di Indonesia saja, namun di negara lain juga pernah terjadi. Fanatik terhadap tim yang didukung membuat suporter rela mengorbankan segalanya demi tim-nya bahkan nyawa pun mereka korbankan.
Islam melarang seorang muslim fanatik atau ashobiyah terhadap golongan, ketika suatu negara mengambil sistem Islam dalam berhukum maka tidak akan ada lagi suporter yang mati sia-sia karena negara akan melarang tersebarnya ashobiyah pada golongannya.
Sesama muslim Allah ï·» tetapkan sebagai saudara. Islam telah menghilangkan berbagai sekat perbedaan; suku bangsa, ras, warna kulit dan status sosial. Allah ï·» berfirman (yang artinya): “Sungguh kaum Mukmin itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) di antara kedua saudara kalian itu” (TQS Hujurat [49]: 10).
Bahkan kuat atau lemahnya persaudaraan dengan sesama Mukmin menentukan kualitas keimanan seseorang. Baginda Nabi ï·º bersabda (yang artinya), “Belum sempurna iman seseorang sampai ia mencintai bagi saudaranya apa saja yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR Muslim).
Belum beriman seseorang apabila dia masih berjuang untuk membela kelompok dan golongannya saja.
Karena itu kecintaan hakiki kepada sesama Muslim tercermin dari sikap yang senantiasa menginginkan saudaranya mendapatkan kebaikan, sebagaimana ia menginginkan kebaikan untuk dirinya. Juga tidak rela saudaranya tertimpa keburukan, sebagaimana ia pun tak menghendaki keburukan itu menimpa dirinya. Inilah hubungan laksana satu tubuh sebagaimana yang disabdakan Rasulullah ï·º (yang artinya), “Perumpamaan kaum Mukmin dalam hal cinta dan kasih sayang mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit maka seluruh tubuh terjaga (tak bisa tidur) dan merasakan demam.” (HR Muslim).
Nabi ï·º pun telah bersabda (yang artinya), “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain. Janganlah ia menzalimi dan menyerahkan saudaranya (kepada musuh).” (HR al-Bukhari).
Membiarkan sesama muslim saling membunuh bukan hanya merusak amal dan menyebabkan dosa, tetapi juga akan mengundang ancaman Allah ï·» berupa datangnya bencana besar. Allah ï·» berfirman (yang artinya): “Orang-orang kafir itu, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kalian (kaum Muslim) tidak melaksanakan apa yang telah Allah perintahkan itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar” (TQS al-Anfal [8]: 73).
Imam ath-Thabari menjelaskan kalimat ‘tidak melaksanakan apa yang telah Allah perintahkan itu’ bermakna tidak memberikan pertolongan. Padahal Allah ï·» telah memerintah kita untuk menolong kaum Mukmin yang meminta pertolongan. Allah ï·» berfirman (yang artinya): “Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam urusan (pembelaan) agama, maka kalian wajib memberikan pertolongan” (TQS al-Anfal [8]: 72).
Islam memotivasi sesama muslim saling tolong menolong bukannya saling bentrok hanya karena permainan yang seharusnya permainan itu bisa membuat hidup lebih bahagia bukan malah merenggut banyak nyawa.
Sayang, saat ini ukhuwah islamiyyah di tengah-tengah kaum Muslim seolah makin pudar. Salah satu faktor yang menyebabkan lunturnya ukhuwah islamiyyah dari dada umat adalah munculnya sikap ta’ashub/‘ashabiyyah (fanatisme kelompok, kesukuan/kebangsaan atau nasionalisme) yang menggeser spirit ukhuwah islamiyyah.
Hal ini bertolak belakang dengan ajaran Islam. Rasulullah ï·º sudah mengingatkan kaum Muslim agar menjauhi sikap ‘ashabiyyah (yang artinya), “Tidak termasuk golongan kami orang yang menyerukan ‘ashabiyah. Tidak termasuk golong kami orang yang berperang atas dasar ‘ashabiyah. Tidak termasuk golongan kami orang yang mati di atas dasar ‘ashabiyah.” (HR Abu Dawud).
Umat Islam adalah umat yang satu. Umat ini memiliki akidah dan syariah yang sama. Umat ini satu sama lain ditetapkan oleh Allah ï·» sebagai ikhwah (saudara). Umat Islam digambarkan Rasulullah ï·º laksana satu tubuh. Ukhuwah yang demikian kuat itu hanya akan dapat diwujudkan secara nyata ketika ada yang menyatukan umat dalam satu negara.

0 Komentar