GENERASI BERGOYANG VERSUS GENERASI CEMERLANG


Oleh: Ramsa

Entah apa yang merasukimu, hingga kau tega menduakanku, entah apa yang merasukimu? Sekian banyak lirik lagu yang membuat siapa yang mendengar ingin bergoyang. Kenapa karena alunan musik yang enak untuk goyang, benar enggak Sob? Tapi hati-hati dengan jebakan goyang ini ya Sob?

Kalau kita perhatikan setiap ada pertunjukan yang melibatkan musik baik dangdut atau musik lainnya ternyata animo masyarakat sangat tinggi. Salah satu buktinya yakni konser yang diselenggarakan di Jakarta pekan lalu. Dari beberapa media mengabarkan bahwa pihak panitia konser Berdendang Bergoyang menjual tiga ribuan tiket, tapi saat konser berlagsung yang hadir diduga mencapai jumlah 21.000 orang, itu orang semua entah dari mana saja datangnya. Mirisnya konser ini diduga banyak yang menenggak miras. Seperti yang dikabarkan TV One tanggal 30 Oktober.

Inilah potret nyata generasi di negeri tercinta. Generasi doyan goyang enggan mikir. Miris banget kan Sob, padahal ya mereka yang hadir itu rata-rata usia belasan hingga empat puluhan tahun, masih tergolong generasi muda alias masuk kategori masa produktif. Yang pastinya saat menghadiri konser itu sudah merogoh kocek dalam dan bisa jadi meninggalkan pekerjaannya.

Kalau generasi kita saat ini lebih senang hura-hura, goyang sana goyang sini, belajar seadanya atau sekedar menyenangkan orang tua. Kebayang ya, apa yang akan terjadi sepuluh atau dua puluh tahun ke depan. Generasi muda yang ada hari ini adalah potret pemimpin masa depan.

Kalau pemuda doyan goyang kurang antusias dengan ilmu pengetahuan, enggak "care" sama situasi di lingkungannya tentu ini merupakan ciri pemuda tak layak jadi pmimpin. Pemuda yang lemah pikir dan lemah visi bisa jadi akan menjadi hambatan atau malah jadi pemghalang kemajuan negara. Parahnya bisa jadi menggadaikan negara demi kepentingan pribadi.

Generasi Bergoyang Tanda Berpikir Tak Cemerang
Kalau mau mikir, tentu ada penyebab memdasar yang membuat tumbuh suburnya generasi doyan goyang dan lemah pikir ini. Penyebab utamanya adalah minimnya pendidikan iman dari keluarga, dan lingkungan yang tidak mendukung untuk tumbuh jadi generasi cerdas yang senantiasa berpikir mencari keridaan Allah. Potret generasi hasil sistem pendidikan yang menjauhkan aturan agama dalam kehidupan. Atau biasa dinamakan sistem sekuler.

Sistem yang mengakui adanya Tuhan tapi ogah diatur oleh aturan Tuhan dalam kehidupan. Dalam sistem ini aturan Allah dianggap terlalu suci, tidak layak digunakan di tengah masyarakat untuk mengatasi masalah. Atau sebagian menganggap bahwa masyarakat yang berbeda agama tidak akan cocok diterapkan aturan dari satu agama saja. Akankah generasi cemerlang tumbuh dalam sistem yang jauh dari nilai-nilai Ketuhanan? Jauh dari visi misi seorang pemimpin.


Potret Generasi Cemerlang

Tentu saja generasi yang punya visi besar dan calon pemimpin tidak akan tumbuh dalam lingkungan yang tidak mendukung. Generasi cemerlang yakni generasi pemikir, ahli di berbagai bidang, bervisi besar dan siap jadi pemimpin. Generasi ini mudah kita temukan dalam sistem yang menerapkan Islam kaffah.

Dimasa peradaban Islam generasi berlomba-lomba jadi pemikir, lingkungan masyarakat di desain sedemikian rupa oleh negara sehingga ilmu itu jadi bahan perbincagan, bahan kajian di berbagai tempat. Mulai dari surau, taman, majelis ilmu ramai bertebaran. Tempat belajar bisa dinikmati dengan gratis dan bermutu tinggi. Suasana iman dan kompetisi dalam beramal saleh jamak dijumpai di mana saja. Mulai dari anak-anak, remaja dan orang dewasa.

Hasilnya lahirlah generasi hebat yang senang berpikir, selalu terdepan mengatasi masalah umat. Bukan generasi latah, genrasi doyan goyang, miskin visi kehidupan. Pernah dengar kan nama pemuda hebat nan rupawan seperti Mush'ab bin Umair yang jadi duta urusan politik atau duta dakwah Rasulullah yang pertama di Madinah. Dia dengan mantap berdakwah dan mengajari kaum Yastrib tentang isi Al-Qur'an walau diancam oleh pedang di depan matanya.

Saat itu, pemuda hebat ini masih berusia kisaran 23 Tahun. Dia harus mengajarkan Islam bagi kaum yang kerjaannya perang sana dan perang sini. Alias kaum doyan perang. Hasilnya penduduk Yastrib masuk Islam. Tokoh-tokoh kaum ini menjadi pembela Islam. Inilah hasil nyata kader pendidikan Islam dalam sistem Islam yang terpadu mulai dari pendidikan, kebijakan ekonomi, politik dan semua bidang, saling bersinergi membentuk generasi hebat, generasi pemimpin.

Kalau ditanya kenapa mereka bisa hebat, tentu karena generasi ini memahami dengan baik ayat-ayat Allah. Tahu betul ada banyak godaan kehidupan. Sehingga paham cara mengatasi setiap masalah. Yuk baca Qur'an surat Fatir ayat 6 berikut ini :

إِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُوا حِزْبَهُۥ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحٰبِ السَّعِيرِ
Artinya:
"Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala"

Stop jadi generasi goyang. Berpikir, berjuang, rajin belajar agar jadi generasi cemerlang, pemimpin peradaban. Pemimpin ketaatan dunia akhirat. Niscaya mulia di hadapan Allah. Semoga kelak jadi pemimpin hingga di surga.

Wallahu A'lam

Posting Komentar

0 Komentar