
Oleh: Dewi Purnasari
Program pemberdayaan dan pemandirian perempuan yang terus menerus digemakan selama ini, patut dipertanyakan hasilnya. Hal ini karena, pada faktanya kaum perempuan di negeri ini masih saja berada dalam kondisi miskin, terpuruk, diperlakukan disktiminatif, didera kekerasan fisik dan seksual, serta sederet permasalahan lain. Mirisnya, program pemberdayaan dan pemandirian perempuan ini tetap dicanangkan sebagai satu-satunya solusi bagi permasalahan yang menimpa kaum perempuan.
Dalam acara dialog dengan pelaku industri pariwisata perempuan di kawasan The Nusa Dua (25/08/2022), Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga meminta kaum perempuan untuk saling mendukung dan menginspirasi demi mewujudkan perempuan yang berdaya. Untuk itu, Kemen PPPA membuka ruang bagi perempuan yang ingin meningkatkan kapasitas di bidang usaha dengan merancang berbagai pelatihan.
Plt. Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat Kemen PPPA Indra Gunawan secara terpisah menyampaikan program kolaboratif yang bersinergi dengan berbagai pihak. Program ini diharapkan menjadi kekuatan bagi Indonesia untuk mencapai target perempuan Indonesia berdaya dan mandiri di berbagai sektor dan wilayah, hingga ke desa-desa. (Antaranews, 25/08/2022).
Pada kesempatan yang sama, Presiden Direktur & CEO PT Xl Axiata Tbk. Dian Siswarini mengatakan bahwa kesetaraan gender berdampak besar pada manfaat ekonomi dan membuka peluang bagi perempuan untuk berkembang. Pihaknya mengupayakan agar partisipasi perempuan dalam manajemen perusahaan dapat terus berkesinambungan. Di antaranya adalah dengan program edukasi Sisternet yang bertujuan untuk mempersempit kesenjangan gender di ranah digital.
Dari pernyataan beberapa tokoh di atas, tampak jelas arah pemberdayaan perempuan yang dimaksud. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah pemberdayaan ekonomi dan politik perempuan. Yaitu sebuah konsep pemberdayaan yang sesungguhnya didasari oleh konsep pemberdayaan feminisme. Konsep yang lahir di Barat tetapi disebarkan dan dipaksakan ke negeri-negeri Muslim.
Asumsi Perempuan Berdaya dan Mandiri ala Feminisme
Arah pemberdayaan perempuan ala feminisme jika dicermati sesungguhnya merupakan gagasan yang tegak di atas asumsi yang salah tentang nilai peran domestik perempuan. Kaum feminis berasumsi bahwa peran domestik (sebagai ibu rumah tangga) merupakan peran yang tidak strategis karena tidak bernilai ekonomis dan membuat perempuan ‘terpenjara’ sehingga tidak bisa maju dan sejajar dengan laki-laki.
Menurut Barat, agar perempuan bisa maju dan sejajar dengan laki-laki, mereka harus ‘dibebaskan’ dari peran domestik ini dan didorong untuk meningkatkan peran publiknya. Perempuan juga dianggap harus dibebaskan untuk berkiprah secara aktif dan luas di berbagai bidang kehidupan, terutama di bidang ekonomi dan politik. Hal ini tak lain, sesuai dengan pandangan rusak mereka tentang konsep masyarakat yang berorientasi pada individu. Juga konsep mereka tentang standar kebahagiaan dan standar prestise yang tegak di atas prinsip materialisme.
Lebih dari itu, berdasarkan aspek ideologi, sejatinya feminisme merupakan gagasan rusak yang tegak di atas akidah yang rusak pula, yaitu sekularisme. Sekulerisme menafikan peran agama dalam pengaturan kehidupan. Maka wajar jika cara pandang kaum feminis terhadap fakta yang dihadapi juga rusak dan lemah. Hal ini tampak jelas dari berbagai gagasan kaum feminis mengenai persoalan perempuan. Hakikat sosok perempuan, peran dan fungsi perempuan dalam kehidupan, serta kiprah politiknya dalam tataran kekuasaan dan legislasi menurut feminisme serba tidak jelas, pragmatis dan tidak solutif.
Ketika kaum feminis berbicara tentang gagasan pemberdayaan peran politik perempuan sebagai solusi tuntas atas masalah perempuan, mereka membatasi pengertian ‘politik’ hanya pada tataran kekuasaan dan legislasi. Walhasil, arah pemberdayaan politik selalu mereka artikan sebagai upaya melibatkan perempuan dalam kedua ranah tersebut.
Padahal, fakta politik tidaklah demikian! Keberadaan perempuan di ranah tersebut sama sekali tidak berkorelasi positif dengan tuntasnya masalah perempuan. Justru yang menjadi penentunya adalah ada atau tidaknya perspektif yang seragam dan benar di seluruh ranah kehidupan masyarakat. Sehingga masing-masing individu di dalamnya apa pun status dan kedudukannya mengetahui pasti tujuan luhur apa yang harus diperjuangkan bersama, untuk kepentingan bersama.
Pemberdayaan ala Feminisme Tidak Diperlukan Sama Sekali
Barat memang sangat berkeinginan mengeluarkan perempuan dari ruang terbaiknya di dalam rumah. Mereka juga bernapsu merusak potensi keibuan serta pengabdiannya dalam rumah tangga dan menggantinya dengan peran ekonomi di ranah publik. Namun, tidak dapat dipungkiri, banyak kaum perempuan di negeri ini yang menyambut baik program pemberdayaan ekonomi dan politik perempuan yang diberlakukan.
Ini karena mereka menilai program itu adalah jawaban atas kesulitan ekonomi yang mereka derita akibat krisis kemanusiaan yang berkepanjangan. Padahal, sejatinya, program-program pemberdayaan ini tidak akan pernah mampu menyelesaikan krisis kemanusiaan, kebodohan dan kemiskinan bangsa. Mirisnya, para Muslimah justru bangga dan percaya diri jika mampu mandiri secara materi dan menduduki posisi sebagai pejabat atau posisi yang tinggi di dunia kerja.
Bagai gayung bersambut, persepsi salah para Muslimah sontak dimanfaatkan musuh-musuh Islam, dengan memakmurkan perempuan secara materi, tetapi menjauhkan mereka dari penerapan syariat Islam. Ketika perempuan Muslimah didorong mandiri dan merasa tidak membutuhkan siapa pun, ternyata ini melawan fitrahnya sebagai perempuan. Ternyata kemandirian perempuan untuk memenuhi kebutuhan materinya ataupun menjadi penentu kebijakan, bukanlah cara untuk menghilangkan penindasan atau menegakkan kehormatan bagi perempuan!
Ide ini justru tidak menyelesaikan masalah perempuan. Justru kondisi perempuan menjadi minim perlindungan. Tengoklah nasib para perempuan yang bekerja ke luar negeri tanpa disertai suami atau mahramnya. Banyak di antara mereka yang diperkosa, dianiaya, tidak sedikit pula yang akhirnya meregang nyawa dan pulang tinggal nama.
Di sisi lain, perempuan pekerja di negeri ini ataupun yang terjun di dunia politik praktis, mereka harus berjibaku dari pagi hingga malam, atau dari malam hingga pagi lagi, demi sebuah kemandirian dan kebebasan atas nama kesetaraan gender. Sementara itu, apa yang kemudian mereka dapatkan? Tenaga dan pikiran mereka terkuras, sedangkan buah hati di rumah yang menunggu senyuman dan belaian lembut tangan sang bunda, harus menelan kekecewaan.
Program pemberdayaan perempuan ala feminisme telah nyata menggiring perempuan menjadi pemutar roda industri kapitalisme belaka. Perempuan juga hanya dijadikan target pasar dengan dalih mengentaskan kemiskinan atau pemulihan ekonomi. Sungguh, program ini adalah alat untuk melanggengkan hegemoni Kapitalisme dunia dan menjauhkan umat dari pemahaman Islam yang hakiki.
Hanya Islam yang Dapat Menyelesaikan Permasalahan Perempuan
Risalah Islam, yang diturunkan Allah Yang Maha Adil dan Maha Mengetahui hakikat makhluk-Nya, telah menempatkan laki-laki dan perempuan pada posisi yang mulia. Kaum muslim (laki-laki ataupun perempuan) harus paham bahwa Islam telah memberikan peran dan posisi istimewa bagi masing-masing dari keduanya. Arah pemberdayaan perempuan dalam perspektif Islam adalah dengan mencerdaskan Muslimah sehingga mampu berperan menyempurnakan seluruh kewajiban dari Allah ï·», baik sebagai ummu wa rabbatul bait maupun bagian dari masyarakat. Kesanalah aktivitas pemberdayaan perempuan diarahkan.
Pemberdayaan perempuan menurut Islam, tidak akan memandang perempuan sebagai masyarakat yang terpisah dari laki-laki. Perempuan dan laki-laki ditetapkan oleh Allah mempunyai peran strategis masing-masing. Keduanya juga merupakan bagian dari masyarakat yang hidup saling berdampingan, baik dalam keluarga maupun di tengah masyarakat. Upaya pemberdayaan juga tidak boleh lepas dari upaya pemberdayaan anggota masyarakat secara keseluruhan.
Konsep dan program ‘perempuan mandiri dan berdaya’ yang selalu digaungkan di tengah umat pasti tidak akan mampu menyelesaikan problematik perempuan, melainkan justru memunculkan permasalahan baru. Sebab, permasalahan yang menimpa laki-laki maupun perempuan hanya bisa terselesaikan jika berpijak kepada aturan Sang Maha Pencipta yang Maha Pengatur. Di sinilah pentingnya umat belajar dan memahami Islam dengan benar. Allah ï·» berfirman dalam al-Qur’an di bagian akhir Surah an-Nahl ayat 89,
ÙˆَÙ†َزَّÙ„ْÙ†َا عَÙ„َÙŠْÙƒَ الْÙƒِتَابَ تِبْÙŠَانًا Ù„ِÙƒُÙ„ِّ Ø´َÙŠْØ¡ٍ ÙˆَÙ‡ُدًÙ‰ ÙˆَرَØْÙ…َØ©ً ÙˆَبُØ´ْرَÙ‰ٰ Ù„ِÙ„ْÙ…ُسْÙ„ِÙ…ِينَ
“… Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” []

0 Komentar