
Oleh: Rika Dwi Ningsih
Penulis Lepas
Demokrasi telah lama dipromosikan sebagai sistem yang memberikan kekuasaan kepada rakyat. Namun, kenyataan yang ada justru memperlihatkan betapa demokrasi lebih sering menjadi alat kekuasaan bagi elit politik dan oligarki. Pilkada Jakarta menjadi salah satu bukti nyata kerusakan demokrasi, di mana suara rakyat diabaikan dan kekuasaan dipegang erat oleh partai politik yang sombong dan arogan.
Pilkada yang seharusnya menjadi pesta demokrasi bagi rakyat, kini berubah menjadi ajang pesta bagi partai politik. Rakyat hanya dijadikan alat untuk melegitimasi kekuasaan, sementara partai politik bebas menentukan calon pemimpin tanpa memperdulikan aspirasi rakyat. Contohnya adalah bagaimana partai-partai besar seperti PDIP dan PKS dengan semena-mena menolak calon yang diinginkan rakyat, seperti Anies Baswedan, hanya karena alasan politis.
Kegagalan Demokrasi: Kekuasaan di Tangan Elit Politik
Demokrasi, yang dalam teorinya menjanjikan kedaulatan rakyat, ternyata hanyalah kedok untuk menyembunyikan kedaulatan oligarki dan partai politik. Dalam Pilkada Jakarta, partai-partai besar memaksakan calon mereka sendiri, mengabaikan keinginan rakyat. Ini menunjukkan bahwa dalam demokrasi, yang berkuasa bukanlah rakyat, melainkan segelintir elit politik yang memiliki kekuasaan dan uang.
Kekuasaan partai politik ini diperkuat oleh putusan MK dan rencana revisi UU Pilkada yang semakin menunjukkan betapa rusaknya sistem demokrasi. Ketika partai politik dan oligarki bisa dengan mudah mengontrol siapa yang menjadi calon pemimpin, maka rakyat tidak lagi memiliki suara. Pilkada Jakarta adalah bukti nyata bahwa rakyat hanya dijadikan boneka dalam permainan politik yang dikendalikan oleh partai-partai besar.
Solusi Islam: Tegaknya Syariah dan Khilafah
Melihat kerusakan yang dibawa oleh demokrasi, sudah saatnya umat berpaling dari sistem yang rusak ini dan kembali kepada Islam. Islam menawarkan solusi yang jauh lebih adil dan benar melalui penegakan Syariah dan Khilafah. Dalam sistem Islam, kedaulatan ada di tangan Allah ï·», bukan di tangan manusia atau partai politik. Kepemimpinan dalam Islam dipilih berdasarkan ketakwaan dan kemampuan untuk memimpin, bukan berdasarkan kepentingan politik atau kekuasaan.
Hizbut Tahrir, sebagai gerakan dakwah yang konsisten memperjuangkan Syariah dan Khilafah, telah dan akan terus berjuang untuk menegakkan kekuasaan Islam. Gerakan ini berorientasi pada penegakan Daulah Islam yang akan membawa rahmat bagi seluruh alam. Hanya dengan menegakkan Syariah dan Khilafah, umat Islam bisa keluar dari keterpurukan dan mendapatkan kembali kejayaan mereka.
Seruan untuk Umat
Sudah saatnya umat Islam membuka mata dan melihat kerusakan yang dibawa oleh demokrasi. Umat harus berhimpun bersama Hizbut Tahrir dan berjuang untuk menegakkan Syariah dan Khilafah. Hanya dengan kembali kepada Islam, umat bisa mendapatkan keadilan yang sejati dan keluar dari kungkungan kekuasaan elit politik yang hanya mementingkan diri mereka sendiri.
Allahu Akbar! Mari kita buang demokrasi ke keranjang sampah peradaban dan songsong era baru dengan penegakan Syariah dan Khilafah. Inilah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan umat dan membawa mereka menuju kejayaan yang hakiki.

0 Komentar