
Oleh: Ummu Zaid
Penulis Lepas
Gaza kini memasuki musim dingin dan dilanda hujan lebat, yang mengakibatkan banjir di banyak tenda pengungsian. Sebagian besar warga Gaza masih tinggal di tenda-tenda pengungsian, badai-banjir membuat tenda mereka sobek dan roboh. UNRWA, badan PBB yang menangani pengungsi Palestina, menyatakan bahwa saat ini warga Gaza sangat membutuhkan perlindungan, seperti tenda dan tempat tinggal yang layak, untuk menghindari kebanjiran dan kedinginan.
Namun, pihak Israel menutup akses bantuan material perlindungan seperti tenda dan rumah mobil ke Gaza, sehingga UNRWA terpaksa mendesak agar bantuan bisa masuk. Sebagai solusi sementara, UNRWA mengubah fungsi ruang kelas sekolah menjadi tempat tinggal untuk memberikan perlindungan kepada keluarga-keluarga pengungsi Gaza. (Antara, 15/11/2025)
Meskipun masih banyak warga Gaza yang bertahan di tenda-tenda pengungsian, musim hujan kali ini semakin memperburuk keadaan. Banyak tenda yang tidak dapat menahan hujan, sehingga rusak dan roboh. Hal ini memaksa keluarga-keluarga pengungsi untuk mencari tempat perlindungan yang lebih aman. Kantor media pemerintah Gaza memperkirakan sekitar 93% dari tenda pengungsian yang ada kini sudah tidak layak huni, dengan sekitar 125.000 orang terdampak.
Sejak gencatan senjata yang disepakati pada 10 Oktober 2025 antara Hamas dan Israel, sedikitnya 260 warga Palestina tewas dan lebih dari 630 lainnya mengalami luka-luka. Meskipun gencatan senjata telah dilakukan, itu tidak memberi dampak besar bagi kehidupan warga Gaza. Mereka masih dibatasi oleh garis kuning yang dibuat oleh Zionis, yang memisahkan Gaza menjadi dua zona: zona timur di bawah pengawasan militer Israel, dan zona barat di mana warga Palestina dapat beraktivitas, meski dengan pembatasan yang ketat. (Antara, 15/11/2025)
Krisis yang terjadi di Gaza ini menunjukkan bahwa gencatan senjata bukanlah solusi, karena akar masalahnya adalah penjajahan. Sementara itu, dunia internasional seolah menganggap bahwa keadaan di Gaza baik-baik saja, padahal krisis kemanusiaan di sana semakin memburuk dan berada di bawah kendali Amerika Serikat. Derita Gaza masih panjang, terutama jika para pemimpin negeri-negeri Islam terus mengikuti solusi Barat, yang sudah terbukti gagal dan tidak akan pernah menyelesaikan masalah Palestina. Bahkan, Barat justru ingin melanggengkan penjajahan di sana.
Untuk membantu dan membebaskan Palestina, solusi yang harus diterapkan adalah solusi Islam yang menjadi pegangan para pemimpin negeri-negeri Islam. Dengan kembali kepada solusi Islam, Palestina dapat bebas dari penjajahan Israel dan mengusir mereka dari bumi Palestina. Gaza hanya membutuhkan jihad dan Khilafah, karena Khilafah adalah perisai yang akan menghapus segala bentuk penjajahan atas warganya. Solusi hakiki ini harus terus disuarakan melalui dakwah Islam ideologis agar umat Islam mau berjuang dan bergabung untuk mengusir Israel dari wilayah Palestina yang diberkahi.
Rasulullah ï·º bersabda:
Ø¥ِÙ†َّÙ…َا الإِÙ…َامُ جُÙ†َّØ©ٌ ÙŠُÙ‚َاتَÙ„ُ Ù…ِÙ†ْ ÙˆَرَائِÙ‡ِ ÙˆَÙŠُتَّÙ‚َÙ‰ بِÙ‡ِ
"Sesungguhnya imam (pemimpin/khalifah) itu adalah junnah (perisai). Manusia berperang di belakangnya dan berlindung dengannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Referensi:
- https://www.antaranews.com/berita/5244261/garis-kuning-kendalikan-hidup-warga-gaza-di-bawah-gencatan-senjata
- https://www.aa.com.tr/id/dunia/tenda-pengungsi-gaza-tak-mampu-tahan-hujan-kondisi-kemanusiaan-memburuk-di-tengah-musim-dingin/3744387
- https://www.antaranews.com/berita/5244469/unrwa-minta-israel-izinkan-perlengkapan-darurat-masuk-gaza
- https://www.antaranews.com/berita/5244481/unrwa-hujan-perburuk-situasi-di-gaza

0 Komentar