KEBENARAN DIBALUT KEMAKSIATAN


Oleh: Siti Janna
Penulis Lepas

Belakangan ini, banyak sekali berita mengenai pendakwah yang tidak beradab. Mereka menyampaikan kebenaran (Islam), namun dibalut dengan guyonan atau candaan yang bersifat pelecehan atau penghinaan, serta perbuatan yang jauh dari mencerminkan Islam.

Dikutip dari Kompas, diberitakan tentang seorang Gus yang mencium bahkan menggigit pipi anak perempuan di depan jamaahnya. Dengan dalih bahwa itu sudah menjadi kebiasaan dan dilakukan atas izin orang tua anak tersebut.

Sebutan "Gus" atau "Ning" erat kaitannya dengan anak Kyai atau pemilik pondok pesantren, dan ada pula yang dikaitkan dengan ilmu agama seseorang. Istilah ini bukan hal yang asing di telinga masyarakat Jawa pada umumnya. Mereka adalah pemuda-pemudi yang mendakwahkan Islam baik di lingkungan pondok pesantren maupun masyarakat umum. Namun, tidak jarang ada di antara mereka yang hanya memanfaatkan nama "Gus" dan "Ning" untuk menormalisasi kemaksiatan atau sekadar untuk pencitraan.

Fenomena ini bisa terjadi karena beberapa alasan. Pertama, fenomena "ustadz seleb" dan tuntutan komersial. Popularitas membuat dakwah mulai bergeser menjadi hiburan. Berdakwah dengan diselingi guyonan berlebihan atau lebih banyak bercanda daripada memberikan ilmu justru lebih diminati masyarakat. Tuntutan untuk "viral" dengan hal-hal nyeleneh yang dianggap "lucu atau unik" semakin membuat para pendakwah jauh dari tujuan dakwah yang sebenarnya.

Kedua, adanya putus sanad keilmuan atau ilmu yang tidak tuntas. Mayoritas Gus atau Ning ini hanya bermodalkan nasab (keturunan) semata, namun tidak sebanding dengan ilmu yang mereka pahami. Mereka mengandalkan "keturunan Kyai, anak pemilik pondok pesantren, dan sebagainya". Tak jarang pula, mereka hanya bermodalkan ilmu yang didapat dari media sosial, namun berani memberikan fatwa atau tafsir sembarangan.

Ketiga, penghormatan berlebihan. Dalam masyarakat, Gus atau Ning dianggap sebagai orang yang suci, berilmu agama tinggi, dan sebagainya. Hal ini melahirkan Gus atau Ning yang kebal kritik dan bebas melakukan hal-hal kontroversial, seperti berkata kasar, arogan, berlebihan dalam berinteraksi dengan lawan jenis, dan sebagainya. Dikutip dari MUI, ada kasus seorang Gus yang berbicara kasar kepada seorang pedagang es teh di tengah-tengah jamaahnya. Berita ini sempat viral dan menjadi perhatian publik.

Keempat, fenomena "Gus" atau "Ning" palsu atau abal-abal. Banyak dukun atau paranormal yang mengubah penampilan mereka menjadi Islami demi menyandang sebutan Gus atau Ning, sehingga masyarakat lebih mudah diperdaya dengan hal-hal yang sebenarnya menyimpang dari Islam.

Kelima, fenomena star syndrome. Gus atau Ning yang tiba-tiba terkenal, dipuja-puji jamaahnya, memiliki banyak pengikut, lebih mudah tergelincir pada kesombongan dan akhirnya memelintirkan ayat atau hadits demi membenarkan perbuatan atau gaya hidup mereka.

Sebab-sebab ini tak lepas dari sekularisme yang meracuni para pendakwah. Sekularisme adalah paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Dalam pandangan ini, Al-Qur’an dan As-Sunnah bukan lagi pedoman hidup, melainkan sekadar dalil untuk membenarkan perbuatan mereka yang menyimpang. Mayoritas masyarakat pun mengikuti mereka tanpa mengetahui kebenaran yang hakiki.

Akibatnya, banyak sekali kasus yang melibatkan pendakwah, seperti kasus kekerasan yang mengarah pada pelecehan verbal atau non-verbal, bahkan penghinaan terhadap agama.

Dikutip dari Detik, seorang pengasuh pondok pesantren melakukan pemerkosaan terhadap santriwatinya. Pondok pesantren yang seharusnya menjadi wadah untuk mempelajari dan mendalami ilmu agama, justru menjadi tempat yang berbahaya. Orang tua merasa tertipu, korban mengalami trauma, dan pelaku hanya diberi hukuman yang tak sebanding dengan perbuatannya. Hukumannya pun tidak memberikan efek jera. Kasus seperti ini sering terjadi dan baru terungkap ketika korban sudah banyak dan berani bersuara.

Kedua, pelecehan verbal dan non-verbal. Dakwah yang seharusnya berisi nasihat-nasihat, malah berubah menjadi cacian atau makian. Yang seharusnya disampaikan dengan kelembutan, malah berakhir dengan kebencian. Tidak hanya lewat ucapan, perbuatan yang sengaja atau tidak disengaja dan mengarah pada pelecehan sering kali dianggap biasa atau normal dalam pengajian.

Ketiga, penghinaan terhadap agama. Mereka membawa nama Allah ﷻ dan Rasul-Nya, tetapi bukan untuk mengajak kepada kebaikan. Allah ﷻ berfirman:

يَحۡلِفُونَ بِٱللَّهِ لَكُمۡ لِيُرۡضُوكُمۡ وَٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَحَقُّ أَن يُرۡضُوهُ إِن كَانُواْ مُؤۡمِنِينَ
"Mereka bersumpah kepadamu dengan (nama) Allah untuk menyenangkan kamu, padahal Allah dan Rasul-Nya lebih pantas mereka mencari keridaan-Nya jika mereka orang mukmin." (QS. At-Taubah: 62)

Allah ﷻ bahkan menyebut mereka orang munafik dan fasik. Seperti dalam firman-Nya:

ٱلۡمُنَـٰفِقُونَ وَٱلۡمُنَـٰفِقَـٰتُ بَعۡضُهُم مِّنۢ بَعۡضٍۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمُنكَرِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَقۡبِضُونَ أَيۡدِيَهُمۡۚ نَسُواْ ٱللَّهَ فَنَسِيَهُمۡۚ إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِينَ هُمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ
"Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu dengan yang lain adalah (sama), mereka menyuruh (berbuat) yang mungkar dan mencegah (perbuatan) yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir). Mereka telah melupakan Allah, maka Allah melupakan mereka (pula). Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik." (QS. At-Tawbah: 67)

Para pendakwah, baik yang bergelar Gus, Ning, Habib, dan sebagainya, hendaklah tetap berpegang teguh pada kebenaran. Sikap dan perbuatan mereka seharusnya mencerminkan ajaran Islam yang sesungguhnya, bukan malah sebaliknya.

Yang perlu dilakukan adalah mengubah pola pikir menjadi pola pikir Islami, yang pada akhirnya akan melahirkan sikap Islami pula. Dengan demikian, akan terbentuk kepribadian Islam sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.

Note: Dengarkanlah nasihat bukan karena siapa yang mengatakan, tetapi apa yang dikatakan. Karena tak semua nasihat yang benar berasal dari orang yang berstatus Gus, Ning, atau lainnya. Lebih bijak memilah antara pendakwah yang menyampaikan kebenaran dan yang membenarkan kebathilan dan kemaksiatan.

Wallahu a'lam bishshawab.

Posting Komentar

0 Komentar