SISWA SMP TERJERAT PINJOL DAN JUDOL, BUKTI PERAN NEGARA YANG LEMAH


Oleh: Rina Marlina
Penulis Lepas

Kasus seorang siswa SMP di Kulon Progo yang terjerat pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol) kembali membuka mata kita bahwa generasi muda berada di jurang yang mengkhawatirkan.

Melansir dari Kompas, wakil Ketua Komisi X DPR RI, My Esti Wijayanti, mengkritik munculnya kasus siswa SMP yang terjerat pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol). Ia menilai kejadian ini disebabkan oleh kesalahan dalam sistem pendidikan saat ini.

Ketika anak SMP sudah mengenal dan terjerat judol dan pinjol, itu berarti ada yang sangat keliru dalam cara kita mendidik dan membimbing generasi muda,” kata Esti dalam keterangan tertulisnya, Rabu (29/10/2025).

Pernyataan tersebut disampaikan Esti sebagai respons atas temuan kasus siswa SMP di Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang terjerat utang pinjol dan judol hingga bolos sekolah selama sebulan terakhir.

Judi online semakin menggurita dalam sistem kapitalis saat ini. Dengan kemajuan teknologi yang berkembang pesat, berbagai aplikasi dapat diakses dengan mudah, termasuk permainan game berbentuk judi. Akibatnya, anak-anak dan remaja pun terjerat dalam permainan judol ini. Konten judi online telah merambah situs pendidikan dan game, sehingga pelajar semakin mudah terpapar. Dengan iming-iming keuntungan besar dan cara mendapatkan uang yang cepat, mereka pun tergiur. Awalnya hanya coba-coba, lama kelamaan menjadi ketagihan.

Di zaman sekarang, generasi yang disebut Gen Z cenderung menginginkan segala sesuatu serba instan. Cara berpikir yang rusak, keinginan cepat kaya tanpa kerja keras, ditambah fasilitas gawai, membuat mereka tidak mau repot dan mudah terjerat judol. Hedonisme pun telah mewarnai karakter mereka. Ditambah kondisi ekonomi yang serba mahal dan menghimpit, mereka mengambil jalan pintas hingga berani meminjam uang melalui aplikasi pinjol.

Dengan maraknya generasi yang terjerat judol, terdapat beberapa faktor penyebab, antara lain lingkungan pergaulan yang menjadi pemicu. Awalnya, mereka mengetahui dari teman, ditawari, dirayu, bahkan ada tekanan untuk ikut bermain. Akhirnya, mereka kecanduan. Faktor lain adalah kondisi keluarga yang tidak harmonis, sehingga anak melampiaskan diri dengan terjun ke dunia judi online.

Dampak kecanduan judol sangat berbahaya, bahkan dapat menyeret pada tindakan kriminal. Karena ketagihan, tidak jarang pelajar berani mencuri hingga nekat membegal. Inilah fakta banyak kasus yang terjadi. Ditambah lagi, para pemimpin dalam sistem kapitalis saat ini abai, sementara negara dalam sistem kapitalisme justru berperan sebagai regulator, bukan pelindung rakyat.

Kondisi ini sangat memprihatinkan. Bagaimana jadinya generasi kita yang sudah rusak masa depannya akibat judol dan pinjol? Jika hal ini terus terjadi, dampaknya jelas membahayakan generasi serta menghancurkan negara dan bangsa.

Anak yang terjerat judol dan pinjol merupakan masalah besar yang harus segera diperhatikan semua pihak, terutama orang tua dan negara yang wajib mengurus persoalan ini. Namun, dalam sistem kapitalisme, peran orang tua dalam mendidik anaknya semakin berat. Anak-anak tumbuh di era digital yang serba bebas, penggunaan gawai yang tidak terkontrol menjadi penyebab utama. Masyarakat pun semakin individualis, tidak peduli, dan enggan ikut campur urusan orang lain.

Karena itu, solusi yang tepat adalah diterapkannya aturan Allah, yaitu sistem Islam. Sejarah membuktikan bahwa peradaban Islam sukses mencetak generasi gemilang. Dalam Islam, membentuk generasi bertakwa adalah tujuan utama. Islam membentengi generasi dari kemaksiatan dan mendidik mereka dengan pola pikir dan pola sikap islami. Pelajar memiliki standar perbuatan yang diridai Allah ï·», sehingga menjadi pribadi yang sukses dunia dan akhirat. Pemimpin, yaitu seorang khalifah, memiliki tanggung jawab untuk meriayah (mengurus) umatnya.

Negara dalam Islam juga akan menutup setiap akses perjudian dan memberikan sanksi hukum yang menjerakan bagi para pelaku judol, baik pemain maupun penyedia. Negara juga menjamin pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat, sehingga harga sembako stabil dan tidak melambung tinggi. Dengan itu, tidak ada lagi alasan masyarakat terjerat judol maupun pinjol karena tekanan ekonomi.

Namun, semua ini tidak akan terealisasi tanpa penerapan Islam kaffah. Oleh karena itu, sudah saatnya kita menggantikan sistem kapitalisme yang hanya mementingkan keuntungan materi dan mengabaikan aspek kemanusiaan dengan sistem Islam yang menyeluruh dan adil.

Dalam sistem Islam, setiap individu mendapatkan hak dan kewajibannya dengan seimbang, ekonomi berlandaskan keadilan sosial, dan negara bertanggung jawab untuk memastikan kesejahteraan rakyatnya. Penerapan Islam kaffah bukan hanya solusi bagi persoalan ekonomi dan sosial, tetapi juga untuk membentuk generasi yang bertakwa, produktif, dan penuh integritas.

Dengan sistem ini, kita tidak hanya mencegah kerusakan lebih lanjut, tetapi juga membangun masyarakat yang saling peduli dan berempati. Maka, mari bersama-sama berusaha mewujudkan perubahan hakiki dengan menjadikan Islam sebagai landasan kehidupan, agar generasi masa depan kita tidak terjerat dalam lingkaran kehancuran.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar