SELAMATKAN GENERASI MUDA DARI ALGORITMA RUSAK ALA KAPITALIS


Oleh: Nita Nur Elipah
Penulis lepas

Berbagai studi menunjukkan bahwa kaum muda dengan sumber daya finansial terbatas, terutama laki-laki, paling sering menjadi target iklan berisiko, seperti pinjaman cepat, investasi kripto, hingga judi daring di platform seperti TikTok dan Instagram.

Algoritma platform media sosial mampu menyimpulkan status sosial ekonomi pengguna dari jejak digital mereka, termasuk alamat dan perilaku daring, lalu menampilkan iklan yang sesuai dengan kerentanan mereka. Karena anak muda dari keluarga kurang mampu memiliki keinginan kuat untuk mobilitas sosial, mereka menjadi sasaran utama iklan yang menjanjikan penghasilan cepat, tetapi berisiko tinggi. (Kompas, 05/12/2025)

Namun, pinjaman yang mereka lakukan sering kali hanya untuk memenuhi gaya hidup. Riset dari Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) menemukan bahwa 58 persen Gen Z memanfaatkan pinjaman online (pinjol) untuk kebutuhan gaya hidup serta hiburan. (Kompas, 28/11/2025)

Miris, di tengah himpitan ekonomi yang serba sulit, justru banyak generasi muda yang mudah terjebak pinjol, bahkan hanya untuk sekadar tuntutan gaya hidup semata.

Minimnya pemahaman Islam juga menjadi penyebab generasi muda mudah terjerumus judol dan pinjol karena dianggap jalan pintas. Halal dan haram tak lagi dihiraukan, asalkan mampu memenuhi gengsi dan mengikuti tren terbaru. Perilaku hedonis dan materialistis bahkan sudah menjadi gaya hidup generasi muda.

Apalagi, hari ini ruang digital dikuasai oleh logika kapitalisme yang menjadikan platform, lewat algoritmanya, berfokus pada kebiasaan, bukan keselamatan pengguna, semata-mata demi mendapatkan keuntungan dan menjadikan generasi sebagai pasar.

Negara juga sejatinya telah gagal melindungi generasi dari paparan algoritma kapitalis ini. Nilai-nilai sekuler dan materialis dalam sistem pendidikan dan lingkungan masyarakat membuat generasi rentan pada tindakan spekulatif dan berisiko.

Berbeda dengan sistem Islam, sistem ini menjamin kesejahteraan seluruh rakyat, individu per individu, termasuk generasi. Sistem Islam juga memiliki pendidikan yang membentuk kepribadian Islam pada generasi, sehingga mereka menyandarkan perbuatannya pada halal dan haram, bukan pada manfaat materi.

Generasi muda dengan kepribadian Islam tidak mudah mengikuti arus digital yang bisa merusak akidah dan pemahaman mereka.

Infrastruktur digital dalam sistem Islam juga dibangun di atas paradigma Islam, sehingga mampu melindungi dan menyelamatkan generasi muda dari konten merusak, normalisasi maksiat, kriminalitas, hingga algoritma yang menyesatkan, seperti judol dan pinjol.

Semua ini hanya akan terwujud ketika Islam diterapkan secara menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam mengatur dunia digital. Sistem ini perlu diperjuangkan oleh kaum muslimin, termasuk generasi muda.

Maka, sudah saatnya generasi muda muslim memahami identitasnya sebagai muslim dan sebagai pembangun peradaban melalui pembinaan Islam dan aktivitas dakwah bersama kelompok dakwah Islam ideologis.

Wallahu a’lam bisshawab.

Posting Komentar

0 Komentar