
Oleh: Vania Nur Hayati
Santriwati PPTQ Darul Bayan Sumedang
Halo teman-teman, siapa di sini yang hampir tiap hari main game online? Entah buat menghilangkan stres, mengisi waktu luang, atau sekadar mabar sama teman. Game online memang seru, menantang, dan kadang bikin lupa waktu, tapi pernah nggak sih kita mikir kalau apa yang sering kita lihat dan mainkan di layar bisa memengaruhi cara kita berpikir dan berperilaku di dunia nyata?
Belakangan ini, publik dikejutkan oleh kasus tragis di Medan, ketika seorang anak (12 tahun) tega membunuh ibu kandungnya. Korban tewas dengan puluhan luka tusukan (sekitar 26 tusukan). Pemicu utama, menurut polisi, adalah karena game online-nya dihapus oleh korban, yang juga terpengaruh dari game online dan serial anime yang menampilkan adegan pisau, serta karena latar kekerasan di rumahnya. Kasus ini menjadi alarm keras bahwa paparan game online, terutama yang mengandung unsur kekerasan, tidak bisa lagi dianggap sepele, khususnya bagi anak dan remaja yang masih dalam proses pembentukan emosi dan karakter. (Kompas, 29/12/2025)
Selama ini, platform digital sering dianggap netral, seolah-olah game online hanya hiburan, main kalau mau, berhenti kalau bosan. Padahal kenyataannya, ruang digital penuh nilai dan pesan yang dibungkus dengan visual keren, gameplay seru, dan cerita yang bikin nagih. Kekerasan disajikan sebagai hal biasa (bahkan seru) tanpa ruang refleksi soal dampaknya. Masalahnya, negara sering datang paling belakang, regulasi lemah, pengawasan minim, dan perlindungan anak di ruang digital masih sebatas wacana. Game dengan konten kekerasan bisa diakses bebas oleh anak-anak tanpa filter usia yang benar-benar ketat, akhirnya negara gagal menjalankan fungsi dasarnya: melindungi generasi dari kerusakan moral.
Di sisi lain, kapitalisme global bergerak jauh lebih cepat. Platform dan industri game hidup dari atensi, semakin lama anak bermain semakin besar keuntungan. Dalam logika ini, anak dan remaja tidak dipandang sebagai manusia yang harus dijaga, tetapi sebagai aset pasar. Konten ekstrem, brutal, dan adiktif terus diproduksi karena terbukti "laku," sementara dampaknya pada empati dan kontrol emosi diabaikan.
Ketika negara tidak tegas, ruang digital dikuasai sepenuhnya oleh pasar, kekerasan berubah menjadi komoditas hiburan, empati mulai menipis, emosi gampang meledak, dan batas antara dunia virtual dan dunia nyata makin kabur. Kasus tragis anak di Medan menunjukkan bahwa kegagalan ini bukan sekadar teori, ini adalah hasil nyata dari sistem yang membiarkan anak tumbuh sendirian di ruang digital, tanpa perlindungan negara, tanpa pengawasan platform, dan tanpa filter nilai yang kuat. Maka keliru jika kesalahan hanya dibebankan pada individu atau keluarga, karena yang bermasalah juga adalah struktur negara dan sistem digital itu sendiri.
Dalam hal ini, Islam memandang bahwa maraknya kekerasan akibat paparan game online bukan sekadar masalah hiburan, tetapi krisis akhlak, pengasuhan, dan tanggung jawab sosial. Karena itu, solusinya harus menyentuh akar nilai. Pertama, penguatan akhlak dan iman pada anak dan remaja menjadi pondasi utama. Islam menegaskan bahwa nyawa manusia adalah suci dan kekerasan adalah dosa besar.
Kedua, orang tua dan negara memikul amanah untuk melindungi generasi. Pembatasan konten game online dan pendampingan emosional bukan bentuk mengekang, tetapi wujud tanggung jawab. Ketiga, Islam menekankan pengendalian diri dan pengelolaan emosi. Amarah adalah pintu kekerasan, dan Islam mengajarkan pengendaliannya melalui salat, dzikir, dan pendidikan jiwa. Tanpa pengendalian emosi, paparan kekerasan di ruang digital mudah berubah menjadi tindakan nyata. Islam menawarkan solusi yang menempatkan teknologi di bawah kendali nilai. Game online tidak dilarang, tetapi harus diarahkan agar tidak merusak akhlak, empati, dan masa depan generasi.
Karena dalam Islam, menjaga jiwa dan akal manusia lebih utama daripada mengejar hiburan dan keuntungan semata. Islam tidak menolak teknologi, tetapi menuntun manusia agar tidak dikuasai olehnya. Game online pada dasarnya adalah hiburan, namun tanpa akhlak, pengawasan, dan pengendalian diri, hiburan dapat berubah menjadi sumber kerusakan. Anak dan remaja butuh bimbingan, bukan hanya pembatasan; keteladanan, bukan kekerasan. Dengan pendidikan akhlak, penguatan iman, dan peran aktif orang tua, dunia digital dapat diarahkan menjadi sarana kebaikan, bukan pemicu tragedi. Karena sejatinya, Islam hadir untuk menjaga jiwa, akal, dan masa depan generasi.

0 Komentar