
Oleh: Eci Aulia
Aktivis Dakwah Kepulauan Riau
Sungguh keji! Seorang nenek di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat (Sumbar) nyaris meregang nyawa. Nenek bernama Saudah (67) dianiaya oleh para penambang ilegal yang diduga melakukan aktivitas tambang di lahan miliknya tanpa izin. Ia dilempari batu dan dikeroyok saat mencoba untuk menghalangi para penambang ilegal tersebut.
Korban merupakan warga Jorong Lubuak Aro, Nagari Padang Matinggi Utara, Kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman. Peristiwa yang terjadi di kawasan Sungai Batang Air Sibinail pada Kamis (1/1/2026) lalu cukup menyita perhatian publik. Setega itu mereka.
Sungguh, ini adalah kezaliman yang tidak bisa ditolerir. Terlepas dari siapapun pelakunya, keserakahan telah mematikan hati nurani dan membutakan mata seorang manusia tatkala hidup dalam sistem yang orientasinya hanya pada materi semata.
Seorang nenek tua yang semestinya mendapatkan hak perlindungan dan perlakuan istimewa di usia senjanya, justru diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi oleh oknum-oknum serakah yang hobinya mengeruk kekayaan alam.
Mirisnya, penambangan liar seperti ini selalu luput dari pengawasan aparat penegak hukum. Di manakah mereka saat para penambang ilegal itu memasuki lahan milik warga tanpa izin? Mengapa individu, swasta, dan asing dibiarkan bebas melenggang sesuka hati mengeruk kekayaan alam negeri, tanpa ada pengawasan yang ketat dari negara?
Ini adalah dampak dari penerapan sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan hari ini. Individu, swasta, dan asing memiliki dan mengendalikan alat produksi, didorong oleh motivasi keuntungan pribadi, dan harga diatur oleh mekanisme pasar (penawaran dan permintaan), dengan campur tangan pemerintah yang minimal (laissez-faire).
Konsep ekonomi kapitalis cenderung materialistik dan eksploitatif terhadap sumber daya alam, bahkan berpotensi pada munculnya monopoli. Tambang ilegal (ilegal mining) kerap mengabaikan kebutuhan sosial dan lingkungan dan menindas yang lemah demi keuntungan.
Di sisi lain, rakyat dan umat Islam hari ini kesulitan untuk melepaskan diri dari penjajahan gaya baru ini. Sebab terbentur dengan banyaknya agen, kacung, dan komprador yang bekerja untuk kepentingan para kapitalis dan negara penjajah.
Cukup sudah! Jangan ada lagi nenek Saudah yang lain akibat dari keserakahan yang tak berkesudahan ini. Jadikan peristiwa ini sebagai momen untuk berpikir sejenak bahwa mendamba keadilan dan kesejahteraan dalam sistem ekonomi kapitalis hanyalah ilusi.
Meskipun pelaku penganiayaan sudah ditangkap, tapi no viral no justice: kasus hukum seringkali mendapatkan perhatian setelah viral di media sosial. Terjadinya kesenjangan keadilan: yang lemah sulit mendapatkan keadilan tanpa sorotan publik.
إِنَّمَا ٱلسَّبِيلُ عَلَى ٱلَّذِينَ يَظْلِمُونَ ٱلنَّاسَ وَيَبْغُونَ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
"Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih." (QS. Asy-Syura: 42).
Sebagai Muslim kita harus memahami bahwa keadilan dan kesejahteraan hanya akan diraih tatkala umat menerapkan sistem ekonomi Islam. Sistem ekonomi Islam mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia.
Islam memandang status tambang adalah milik umum yang pengelolaannya diserahkan pada negara khilafah untuk kepentingan rakyat. Individu, swasta, dan asing tidak akan dibiarkan bebas mengeruk kekayaan alam tanpa izin negara khilafah. Apalagi sampai merusak lingkungan dan menzalimi rakyat kecil.
Hal yang perlu diingat adalah sistem ekonomi bukan hanya berbicara tentang bagaimana memenuhi kebutuhan hidup, tapi apakah pengaturannya sudah sesuai dengan hukum Allah? Sejatinya, bumi ini adalah milik Allah, manusia tidak dibebaskan untuk menguasainya kecuali dengan aturan syariat yang telah Allah tetapkan dalam Al-Qur'an.
Oleh karena itu, butuh perjuangan keras untuk mengembalikan pengaturan hidup yang sesuai dengan syariat Islam. Satu-satunya cara agar perjuangan ini menjadi ringan adalah bergabung dengan jamaah dakwah ideologis yang fokus memperjuangkan tegaknya syariat. Jangan ragu, mari ambil peran dalam barisan perjuangan besar ini. Semoga Allah ﷻ segera menurunkan pertolongan-Nya. Aamiin.
Wallahu alam bissawwab.

0 Komentar