
Oleh: Naira Imani Nafisah
Santriwati PPTQ Darul Bayan, Sumedang
Beberapa hari lalu, kaum muslim merayakan hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Di tengah ramainya suasana hari raya, ternyata masih ada sebagian wilayah yang belum dapat merayakannya sebagaimana yang kita rasakan. Pada hari raya, kita bisa berkumpul dengan keluarga, menikmati ketupat dan opor buatan nenek, atau merasakan bahagianya menerima THR dari om dan tante. Itulah rutinitas yang dirasakan oleh mayoritas kaum muslim.
Namun, di belahan dunia lain, ada saudara-saudara kita yang justru merayakan hari raya dengan perasaan resah di tengah suara bom yang tak kunjung berhenti. Mereka menemani keluarganya yang sedang sekarat, bahkan menguburkan jenazah orang-orang tercinta. Mereka mungkin tidak merasakan kebahagiaan menerima hadiah seperti yang kita rasakan, tetapi mereka memiliki kemuliaan yang jauh lebih besar di sisi Allah.
Seperti yang sudah kita ketahui, media sosial, saluran televisi, dan berbagai ruang percakapan publik ramai membicarakan kondisi umat Islam di wilayah Timur, salah satunya Palestina. Di sana, mereka sedang berjuang mempertahankan tanah mereka sendiri. Mereka rela menghadapi berbagai ancaman agar wilayahnya tidak terus dirampas. Pada saat yang sama, ruang gerak mereka semakin dibatasi, bahkan untuk menjalankan aktivitas di wilayahnya sendiri.
Salah satu contoh yang sangat menyayat hati adalah pembatasan ibadah di Masjid Al-Aqsa. Dalam kutipan berita yang dicantumkan dalam naskah ini disebutkan bahwa pada tahun ini umat Islam di sana, untuk pertama kalinya sejak 1967, tidak diperbolehkan melaksanakan salat Id di Masjid Al-Aqsa. Situasi ini menunjukkan bahwa penderitaan yang dialami masyarakat Palestina bukan hanya menyangkut persoalan wilayah dan keamanan, tetapi juga menyentuh hak dasar mereka untuk beribadah dengan tenang (Kompas, 20/03/2026).
Masjid Al-Aqsa di Palestina merupakan tempat suci ketiga dalam Islam yang memiliki keistimewaan luar biasa. Masjid ini dikenal sebagai kiblat pertama umat Islam, tempat terjadinya peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad ï·º, serta tanah yang diberkahi. Karena itu, Masjid Al-Aqsa bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan simbol kehormatan umat Islam yang seharusnya senantiasa dijaga dan dihormati.
Dalam situasi seperti ini, umat Islam tentu tidak boleh bersikap acuh. Kepedulian terhadap Palestina tidak cukup berhenti pada rasa iba atau pembicaraan sesaat di media sosial. Umat perlu menumbuhkan kesadaran bahwa penderitaan Palestina adalah luka bersama yang menuntut perhatian, solidaritas, doa, serta dukungan nyata dalam bentuk kemanusiaan dan keberpihakan terhadap keadilan. Dukungan itu juga harus dibangun dengan kesungguhan, bukan sekadar simbol atau forum yang tidak benar-benar menghadirkan penyelesaian yang adil bagi rakyat Palestina.
Karena itu, hari raya seharusnya bukan hanya menjadi waktu untuk menikmati kebahagiaan, tetapi juga saat untuk mengingat saudara-saudara kita di Palestina. Saat kita bisa tertawa bersama keluarga, mereka masih hidup dalam rasa takut. Saat kita menikmati makanan lebaran, mereka justru kehilangan rumah, keluarga, dan rasa aman. Bagi kita hari raya adalah kebahagiaan, tetapi bagi mereka hari raya masih diselimuti luka.
Semoga kepedulian kita kepada Palestina tidak berhenti pada simpati sesaat, melainkan tumbuh menjadi kesadaran yang lebih dalam untuk terus mendoakan, membantu, dan menyuarakan kemanusiaan. Sebab, kebahagiaan yang sejati tidak hanya dirasakan sendiri, tetapi juga ketika kita mampu merasakan luka saudara kita yang lain.
Wallahu a'lam bisshawab.

0 Komentar