LEBARAN DALAM BAYANG RERUNTUHAN: DERITA GAZA YANG TAK KUNJUNG USAI


Oleh: Vania Nur Hayati
Santriwati PPTQ Darul Bayan, Sumedang

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hari Idulfitri merupakan momen yang penuh kebahagiaan dan kemenangan bagi umat Islam setelah menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan. Hari raya ini identik dengan gema takbir, kebersamaan, serta rasa syukur yang mendalam atas nikmat yang diberikan oleh Allah ï·». Di berbagai penjuru dunia, umat Islam merayakan Idulfitri dengan penuh suka cita bersama keluarga dan orang-orang tercinta.

Namun, kebahagiaan tersebut tidak dirasakan oleh semua umat Islam. Di Gaza, gema takbir yang biasanya membawa ketenangan dan kebahagiaan justru terdengar di tengah reruntuhan bangunan dan tempat-tempat pengungsian. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa di balik kemeriahan Idulfitri yang kita rasakan, terdapat penderitaan yang masih dialami oleh saudara-saudara kita di belahan dunia lain.

Berdasarkan pemberitaan dari MINA News tanggal 20 Maret 2026, warga Gaza tetap mengumandangkan takbir Idulfitri meskipun berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Takbir berkumandang di tengah bangunan yang hancur serta di tenda-tenda pengungsian yang menjadi tempat tinggal sementara bagi banyak warga.

Meskipun berada dalam keterbatasan, masyarakat Gaza tetap menunjukkan keteguhan iman dengan melaksanakan ibadah dan merayakan Idulfitri semampu mereka. Namun, di sisi lain, kondisi tersebut juga mencerminkan penderitaan yang terus berlangsung, seperti kehilangan tempat tinggal, keterbatasan kebutuhan pokok, serta situasi yang tidak aman dan penuh ketidakpastian.

Fenomena Idulfitri di Gaza ini menunjukkan dua realitas yang sangat kontras. Di satu sisi, terdapat keteguhan iman masyarakat Gaza yang tetap mengumandangkan takbir di tengah keterbatasan. Namun, di sisi lain, kondisi ini juga menunjukkan bahwa upaya perdamaian dunia, termasuk yang sering digaungkan melalui berbagai konsep seperti Board of Peace, belum sepenuhnya terwujud secara nyata.

Di era modern saat ini, berbagai upaya untuk menciptakan perdamaian terus dilakukan melalui lembaga internasional maupun kerja sama antarnegara. Akan tetapi, realitas menunjukkan bahwa konflik masih terus terjadi di berbagai wilayah, termasuk Gaza. Hal ini menandakan bahwa perdamaian yang diharapkan masih menghadapi banyak tantangan, seperti perbedaan kepentingan, kurangnya kesepakatan, serta belum maksimalnya pelaksanaan dari upaya perdamaian tersebut.

Dalam perspektif Islam, perdamaian bukan hanya sekadar wacana, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang dilandasi keadilan dan kepedulian. Islam mengajarkan bahwa sesama umat Islam adalah saudara yang harus saling menjaga dan membantu. Oleh karena itu, kondisi di Gaza menjadi pengingat bahwa perdamaian tidak cukup hanya dibahas, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang mencerminkan nilai-nilai keislaman.

Dalam menyikapi kondisi tersebut, Islam memberikan pedoman yang dapat dijadikan sebagai langkah solusi, di antaranya sebagai berikut.

Pertama, memperkuat ukhuwah Islamiyah.
Umat Islam perlu menumbuhkan rasa persaudaraan sesama muslim agar tercipta kepedulian terhadap penderitaan saudara seiman.

Kedua, meningkatkan kepedulian dan empati.
Kepedulian dapat ditunjukkan melalui doa serta bantuan kemanusiaan sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Ketiga, menanamkan nilai perdamaian dalam kehidupan.
Ajaran Islam yang menjunjung tinggi kasih sayang, keadilan, dan tolong-menolong perlu diamalkan sebagai dasar terciptanya perdamaian.

Keempat, mendorong persatuan umat Islam.
Persatuan menjadi kunci penting dalam menghadapi berbagai permasalahan yang menimpa umat Islam di dunia.

Gema takbir yang berkumandang di tengah reruntuhan Gaza menjadi simbol keteguhan iman sekaligus pengingat akan penderitaan yang masih terjadi. Di tengah dunia yang terus mengupayakan perdamaian, realitas ini menunjukkan bahwa masih banyak hal yang perlu diperbaiki.

Sebagai umat Islam, sudah sepatutnya kita tidak hanya merayakan Idulfitri dengan penuh kebahagiaan, tetapi juga menumbuhkan rasa empati dan kepedulian terhadap saudara-saudara kita yang sedang mengalami kesulitan. Dengan memperkuat iman, persatuan, dan kepedulian, diharapkan kita dapat menjadi bagian dari upaya mewujudkan perdamaian yang sesungguhnya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Posting Komentar

0 Komentar