
Oleh: Sadawa
Penulis Lepas
Derita belum usai terhadap saudara kita di Palestina. Selalu berulang kesedihan tanpa ada solusi yang dapat mengantarkan mereka pada penyelesaian yang hakiki. Perjanjian yang dibuat hanya menguntungkan negara adikuasa yang ingin mengambil alih negeri para nabi tersebut.
Peperangan yang terjadi sangat kejam; dehumanisasi muslim Palestina oleh Zionis sangat mengerikan. Hal ini menimpa tidak hanya orang yang hidup, tetapi juga yang sudah mati. Orang yang hidup dibunuh, jenazahnya tidak boleh dikuburkan di tanahnya sendiri, bahkan harus dibongkar kembali dan dipindahkan dengan alasan makam itu terlalu dekat dengan permukiman Zionis, seakan tanah di bumi ini adalah milik mereka. Keluarga korban mengatakan, para pemukim ekstremis Israel melempari mereka dengan batu saat mereka memindahkan jenazah keluarganya (SindoNews, 10/05/2026).
Lebih memprihatinkan lagi, anak-anak di Jalur Gaza terjangkit beragam masalah medis. Bahkan, di antara mereka ada yang harus diamputasi. Jubir PBB, Stephane Dujarric mengatakan bahwa lebih dari 6.000 orang membutuhkan perawatan prostetik dan rehabilitasi. Sejak otoritas Israel melakukan blokade, tenaga medis internasional sangat dibutuhkan, namun bahan prostetik terhambat karena pembatasan waktu ke wilayah konflik (Tempo, 05/05/2026).
Dilaporkan Radio Angkatan Darat Israel pada Minggu (03/05/2026), Israel telah memperluas wilayah pendudukan di Jalur Gaza, Palestina, hingga 59 persen wilayah tersebut, dan tidak menutup kemungkinan akan lebih dari itu. Mereka juga tengah mempersiapkan kemungkinan dimulainya kembali genosida di wilayah kantong Palestina itu. Pernyataan ini mencuat di tengah pelanggaran gencatan senjata yang terus berlangsung oleh Israel di Jalur Gaza serta serangan di wilayah Tepi Barat (Antaranews, 04/05/2026).
Seasai badai perang meletus sejak 7 Oktober 2023, jumlah korban tewas akibat agresi militer Zionis Israel di Jalur Gaza telah mencapai 72.769 orang, dengan 172.704 lainnya terluka. Sementara itu, jumlah keseluruhan warga Palestina yang tewas sejak diberlakukannya gencatan senjata 11 Oktober 2025 telah mencapai 877 orang, korban luka 2.602 orang, dan 776 jasad telah ditemukan dari timbunan reruntuhan (Antaranews, 10/05/2026).
Kegagalan Solusi Damai di Atas Kertas
Penduduk Palestina, terutama perempuan dan anak-anak, mestinya menjadi prioritas utama untuk dilindungi. Israel sudah membabi buta melakukan penyerangan dan melanggar berbagai perjanjian yang sudah disepakati. Meski dunia tahu hal ini adalah pelanggaran, namun tidak ada yang mampu menghentikan. Kejahatan Israel tidak bisa ditoleransi dan diselesaikan hanya lewat solusi damai. Krisis kemanusiaan sudah melanda dunia, terutama pada negeri muslim Palestina. Korban tewas maupun luka-luka makin hari makin meningkat, tetapi tidak membuat Zionis menghentikan serangannya. Bahkan, dengan biadabnya mereka tetap mengebom secara brutal.
Dua miliar kaum muslim belum sanggup bersatu untuk melawan kekejaman Zionis yang didukung oleh AS, serta menuntut penguasa muslim untuk menurunkan pasukan militer demi menolong Gaza. Kerusakan yang dilakukan Zionis sudah melampaui batas dan harus dihentikan dengan jihad oleh tentara kaum muslim.
Persatuan Politik dan Institusi Perisai Umat
Solusi hakiki belum menjadi kesadaran umum, bahkan belum menjadi opini umum mayoritas muslim. Padahal, solusi sebenarnya untuk membebaskan Palestina adalah dengan bersatunya kekuatan kaum muslim di seluruh dunia.
Pembebasan tanah tersebut membutuhkan jihad, dan kewajiban jihad telah ada sejak dulu, bahkan terbukti mampu mengakhiri penjajahan. Kewajiban ini hanya akan terwujud dalam institusi daulah Khilafah Islamiyah, dengan khalifah berperan sebagai penjaga dan pelindung rakyat.
إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
“Sesungguhnya imam (pemimpin) itu adalah perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.” (HR. Muslim).
Edukasi secara masif akan kewajiban umat membela Palestina dengan solusi syar'i tersebut harus terus dilakukan oleh kaum muslimin.
Wallahu a'lam.

0 Komentar