REALITA BANTARGEBANG DAN POTRET GAGALNYA PENGELOLAAN SAMPAH


Oleh: Fajrina Laeli, S.M.
Penulis Lepas

Tempat Pembuangan Sampah Terakhir (TPST) Bantargebang di Bekasi dinobatkan sebagai penyumbang emisi gas metana terbesar kedua di dunia berdasarkan laporan UCLA School of Law tahun 2026. Fakta ini tentu memprihatinkan, sebab tempat pembuangan sampah di Indonesia justru menjadi salah satu penyumbang gas berbahaya terbesar di dunia, yang menunjukkan bahwa persoalan sampah dan pengelolaannya masih menjadi pekerjaan besar yang tak kunjung terselesaikan (CNN Indonesia, 27/04/2026).

Menurut laporan UCLA, TPST Bantargebang tercatat menghasilkan sekitar 6,3 ton metana per jam dan menjadi yang tertinggi di kawasan Asia, bahkan emisinya selalu terdeteksi setiap kali satelit melintas di area tersebut. Pemantauan satelit ini menemukan puluhan gumpalan besar gas metana di kawasan Bantargebang dalam pengamatan selama 13 hari. Bahkan, pada pertengahan 2025, emisinya sempat melonjak hingga lebih dari 12 ton per jam.

Aliansi Zero Waste Indonesia berpendapat, meskipun tidak berbahaya secara langsung dalam skala kecil, gas metana yang menumpuk dalam jumlah besar bisa memicu ledakan dan kebakaran di TPA karena peningkatan suhu udara yang ekstrem.


Ketiadaan Solusi Menyeluruh di Tengah Gunungan Sampah

Fakta ini seolah memperlihatkan bahwa persoalan sampah di Indonesia masih belum ditangani secara serius dan menyeluruh. Sampah terus menumpuk setiap hari, tetapi pengelolaannya masih tak ada solusi; asyik membuang tanpa ada pemilahan. Indonesia masih setia berkutat dengan gunungan sampah yang kian membesar. Bahkan, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan mengatakan bahwa tumpukan sampah di TPST Bantargebang sudah mencapai ketinggian setara gedung 16 hingga 20 lantai.

Ironisnya, di tengah persoalan sampah yang kian membeludak, fakta mengatakan bahwa banyak anak muda Indonesia yang sudah mencoba menghadirkan solusi. Pada 12 April 2026 misalnya, mahasiswa Universitas Jember menciptakan insinerator yang mampu mengolah limbah menjadi energi listrik dengan emisi yang lebih rendah. Namun, inovasi seperti ini sering kali hanya berhenti sebagai proyek kampus atau pemberitaan sesaat tanpa dukungan serius agar benar-benar diterapkan secara luas dalam pengelolaan sampah nasional (UNEJ, 09/04/2026).

Terbukti, persoalan sampah hari ini sebenarnya bukan terpaku karena negeri ini kekurangan orang pintar atau minim inovasi. Banyak pelajar dan mahasiswa sudah mampu menciptakan teknologi pengolahan limbah hingga menghasilkan energi yang lebih bermanfaat. Namun, masalahnya sering kali terletak pada minimnya keseriusan dalam mengelola dan mengembangkan inovasi tersebut. Banyak gagasan hanya berhenti sebagai proyek kampus, lomba, atau sekadar bahan pemberitaan tanpa dukungan pembiayaan dan pengembangan yang nyata. Akibatnya, solusi memang ada, tetapi tidak benar-benar dipakai untuk menyelesaikan persoalan sampah yang terus membesar dari tahun ke tahun. Inilah sistem kapitalisme hari ini, yang tidak memberi keuntungan tidak akan ditangani dengan keseriusan.


Paradigma Islam: Jaminan Lingkungan Bersih dan Sehat

Dalam paradigma Islam, menjaga kebersihan dan lingkungan tidak hanya menjadi urusan pribadi, tetapi juga tanggung jawab negara. Islam memandang sampah dan pencemaran sebagai sesuatu yang tidak boleh dibiarkan merusak kehidupan masyarakat. Karena itu, negara wajib hadir secara serius dalam mengatur pengelolaan lingkungan, mulai dari penyediaan fasilitas, pengolahan limbah, hingga pengawasan agar tidak menimbulkan mudarat bagi manusia.

Pada masa peradaban Islam, kebersihan kota, saluran air, pasar, dan lingkungan menjadi perhatian besar negara. Pemerintah tidak hanya bertindak ketika masalah sudah parah, tetapi juga melakukan pencegahan sejak awal.

Dalam sistem Islam, pengelolaan sampah tidak diserahkan sepenuhnya pada kepentingan bisnis atau sekadar proyek sementara, tetapi menjadi bagian dari pelayanan negara terhadap rakyat karena negara hadir sebagai ra'in (pengurus). Negara juga akan lebih mudah membiayai pengelolaan sampah dan teknologi lingkungan karena pengelolaan sumber daya alam dilakukan untuk kepentingan umat, bukan dikuasai segelintir pihak.

Dengan sistem yang berlandaskan iman dan takwa, negara dalam naungan Islam akan lebih serius mengelola sampah secara menyeluruh, mulai dari edukasi masyarakat, daur ulang, pengolahan limbah modern, hingga pemanfaatan sampah menjadi energi yang bermanfaat tanpa merusak lingkungan. Jadi, dapat dipastikan bahwa sistem Islam adalah satu-satunya solusi bagi permasalahan sampah hari ini.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar