
Oleh: Aniroh, A.Md.Akt.
Aktivis Muslimah
Setiap tanggal 15 Mei, umat Islam memperingati Hari Nakba. Dalam peringatan tahun ini, yaitu 78 tahun Hari Nakba, para demonstran pro-Palestina melakukan aksi di berbagai belahan dunia. Hari Nakba merupakan tragedi pengusiran massal lebih dari 750 ribu penduduk Palestina oleh entitas Yahudi dengan dukungan Inggris pada tahun 1948. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Palestina sudah terjajah selama 78 tahun. Saat ini, umat muslim di sana masih terus berjuang mengusir penjajahan di tengah diamnya para pemimpin muslim dunia.
Dikutip dari Kompas (17/05/2026), ribuan orang turun ke jalan dalam pawai utama sambil membawa bendera Palestina, spanduk hitam, dan simbol kunci yang melambangkan harapan untuk kembali ke rumah-rumah yang ditinggalkan pada 1948. Hal ini dilakukan sebagai bentuk memperingati Hari Nakba dan pembelaan terhadap warga Palestina.
Namun, tragedi Nakba bukanlah sekadar sejarah masa lalu, melainkan siklus kekerasan dan perampasan hak yang masih terus membayangi Palestina hingga hari ini. Bagaimana Israel dengan bantuan AS terus-menerus melakukan penjajahan dengan meluncurkan serangan secara brutal di wilayah Palestina yang sebagian besar telah hancur lebur. Sayangnya, tidak ada satu pun pemimpin kaum muslim yang mampu menghentikan tindakan tersebut.
Batas Solusi Internasional dan Sekat Negara Bangsa
Berlanjutnya penjajahan Palestina sampai hari ini adalah potret kegagalan sistem global yang sedang tegak dalam menciptakan kerahmatan. Fenomena ini sekaligus menunjukkan kelemahan konsep negara bangsa (nation-state) yang membuat umat Islam kehilangan kekuatannya (power). Dari sekian banyaknya pemimpin umat Islam, tidak satu pun yang mau dan berani untuk melawan agresi tersebut secara militer.
Pemimpin-pemimpin umat Islam cenderung diam memperhatikan bagaimana Palestina terus dijajah. Kalaupun mereka memberikan respons, mereka memilih jalur diplomasi lewat lembaga-lembaga internasional yang terbukti tidak memberikan dampak signifikan di lapangan. Pembebasan Palestina tidak bisa diharapkan datang dari negara-negara adidaya, lembaga internasional, ataupun regional. Seluruh instrumen yang ada saat ini justru kian mengukuhkan penjajahan terhadap umat Islam.
Kepemimpinan Islam sebagai Jalan Pembebasan
Oleh karena itu, pembebasan Palestina harus menjadi agenda yang inklusif dalam penegakan sistem kepemimpinan Islam. Hanya sistem kepemimpinan Islam yang diharapkan bisa mengusir penjajahan dan mengalahkan kekuatan pendukungnya.
Momentum memperingati Hari Nakba tahun ini seharusnya dijadikan sebagai sarana perjuangan untuk memahamkan umat tentang urgensi hidup di bawah naungan kepemimpinan Islam sebagai wujud keimanan. Kepemimpinan Islam akan menyatukan dan memobilisasi seluruh kekuatan umat, sehingga kewibawaan ideologis ini kembali tegak. Dengan begitu, umat Islam siap merebut kembali kepemimpinan dunia dan menebar rahmat ke seluruh sekalian alam.
Wallahu a’lam bish-shawab.

0 Komentar