
Oleh: Fajrina Laeli, S.M.
Penulis Lepas
Pergerakan nilai rupiah terus menunjukkan tren pelemahan tajam. Pada perdagangan 12 Mei 2026, melansir dari CNBC Indonesia, nilai tukar rupiah tercatat menembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS), menandai posisi terlemah intraday sepanjang sejarah.
Pelemahan rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap mata uang negara-negara lain di kawasan regional. Rupiah melemah terhadap ringgit Malaysia dan dolar Singapura, yang menjadi indikasi bahwa tekanan terhadap nilai mata uang Indonesia kian meningkat di pasar internasional.
Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menilai pelemahan ini masih wajar. Ia menyebut tekanan pada kuartal II bertepatan dengan musim haji dan periode pembagian dividen, yang meningkatkan permintaan dolar AS. Menurutnya, tren pelemahan serupa juga terjadi pada banyak mata uang negara lain, sehingga kondisi ini tidak eksklusif dialami oleh rupiah saja.
Faktor global turut memperkuat tekanan terhadap rupiah. Penguatan dolar AS, ketidakpastian konflik AS-Iran, dan harga minyak yang tinggi meningkatkan permintaan terhadap dolar sebagai aset aman. Selain itu, ekspektasi suku bunga tinggi di AS membuat investor global menahan arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Tertembusnya level psikologis Rp17.500/US$ juga memicu efek domino, di mana pelaku pasar meningkatkan permintaan dolar sebagai antisipasi pelemahan lebih lanjut.
Di sisi intervensi, Bank Indonesia tetap memiliki berbagai instrumen stabilisasi, namun cadangan devisa yang menurun (dari US$156,5 miliar pada Desember 2025 menjadi US$146,2 miliar pada April 2026) menjadi pertimbangan untuk lebih berhati-hati dalam penggunaan amunisi stabilisasi.
Dampak Riil di Tengah Masyarakat
Namun, jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, dampaknya tidak hanya terlihat pada angka statistik, tetapi mulai mencekik aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari. Harga barang, terutama yang bergantung pada impor, cenderung merangkak naik, diikuti dengan biaya produksi yang membengkak.
Di sisi lain, beban utang dalam mata uang asing menjadi kian berat. Jika tidak ada solusi fundamental, kondisi ini dapat menggerus daya beli masyarakat dan menghambat laju pertumbuhan ekonomi nasional. Melemahnya rupiah juga menunjukkan rapuhnya pertahanan ekonomi kita karena terlalu bergantung pada sistem keuangan global yang didominasi asing.
Kerapuhan Mata Uang Kertas (Fiat Money)
Sebenarnya, fluktuasi nilai mata uang dalam sistem ekonomi kapitalisme bukanlah hal yang mengejutkan. Naik-turunnya nilai rupiah tidak hanya disebabkan oleh faktor eksternal, tetapi juga karena lemahnya basis mata uang yang digunakan saat ini.
Mata uang kertas (fiat money) pada dasarnya hanya bertumpu pada kepercayaan dan legitimasi negara, bukan pada nilai intrinsik yang benar-benar kuat. Akibatnya, saat terjadi tekanan ekonomi maupun gejolak global, nilainya menjadi sangat mudah berfluktuasi. Selama fondasi ekonomi masih bersandar pada sistem yang rapuh, maka pelemahan nilai mata uang akan terus berulang dan masyarakatlah yang paling merasakan dampaknya.
Kemandirian Ekonomi dan Solusi Islam
Berbeda dengan sistem kapitalisme, Islam mendorong negara untuk memiliki kemandirian yang kuat dalam berbagai sektor strategis. Islam melarang negara bergantung pada pihak asing dalam hal-hal yang dapat membuka celah dominasi maupun penjajahan ekonomi (intervensi). Ketergantungan yang berlebihan dinilai dapat melumpuhkan posisi negara.
Oleh karena itu, sektor vital seperti pangan, energi, infrastruktur, hingga industri berat harus mampu dikelola dan dipenuhi secara mandiri oleh negara. Dengan kemandirian tersebut, stabilitas ekonomi tidak akan mudah tertekan oleh gejolak global maupun kepentingan negara lain. Hal ini merupakan bentuk perlindungan terhadap kedaulatan negara agar tidak terus berada dalam posisi rentan terhadap intervensi asing.
Islam menawarkan solusi fundamental dengan penggunaan emas dan perak sebagai dasar mata uang. Keduanya memiliki nilai intrinsik yang nyata dan terbukti mampu menjaga kestabilan nilai dalam jangka panjang, baik dalam transaksi maupun perekonomian secara makro. Maka, solusi tuntas dari masalah ini adalah kembali kepada sistem ekonomi Islam yang berkeadilan.
Wallahu a’lam bish-shawab.

0 Komentar