
Oleh: Zidna Ilma
Pemuda Ideologis
Dilansir dari Kompas, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) mengungkapkan rencana untuk menutup program studi (prodi) di perguruan tinggi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan dunia di masa depan. Kemendikti Saintek akan menyusun daftar prodi yang dibutuhkan di masa mendatang berdasarkan kajian-kajian program Perguruan Tinggi Peduli Kependudukan (PTPK).
Rencana ini menuai pro dan kontra dari berbagai pihak. Salah satu penolakan datang dari Rektor UMM dan Unisma. Mereka menolak penutupan prodi yang dianggap tidak sesuai pasar, dengan argumen bahwa kampus bukanlah pabrik yang sekadar menghasilkan tenaga kerja.
Pendidikan dalam Cengkeraman Industri
Kondisi pendidikan hari ini kian mengkhawatirkan. Standardisasi pendidikan kini cenderung disesuaikan dengan tuntutan industri, bukan lagi sebagai sarana mencari ilmu. Hal ini tidak lepas dari pengaruh sistem yang diterapkan saat ini, yakni sistem sekuler-kapitalistik.
Dalam sistem tersebut, rakyat sering kali diposisikan sebagai roda penggerak ekonomi negara semata. Maka tak heran, sedari masa sekolah, para siswa sudah ditanamkan pemahaman bahwa tujuan utama sekolah adalah untuk bekerja. Akibatnya, orientasi pendidikan saat ini hanya untuk melayani kebutuhan industri, bukan lagi berfokus pada kualitas kepribadian dan keilmuan para pelajarnya.
Perspektif Islam: Pendidikan sebagai Tanggung Jawab Negara
Dalam Islam, negara memegang tanggung jawab penuh atas urusan rakyatnya, termasuk pendidikan. Negara berperan menentukan seluruh aspek pendidikan, mulai dari visi-misi, penyusunan kurikulum, hingga pembiayaan secara mandiri.
Pendidikan dalam Islam tidak berorientasi pada kepentingan industri. Para pelajar dipahamkan bahwa eksistensi sekolah adalah untuk menimba ilmu dan membentuk kepribadian mulia, bukan sekadar investasi materi demi masa depan. Ilmu dipandang sebagai wasilah untuk beribadah dan memberikan manfaat bagi umat.
Dalam mengelola pendidikan tinggi, negara tidak bergantung pada pihak mana pun. Negara berdiri sendiri secara berdaulat dalam mengelolanya, tanpa ada tekanan kepentingan dari dalam maupun luar negeri. Dengan demikian, kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkan benar-benar menjadi prioritas utama demi kemajuan peradaban.
Wallahu a’lam bish-shawab.

0 Komentar