
Oleh: Ilma Nafiah
Komunitas Ibu Peduli Generasi
Kemajuan teknologi seharusnya menjadi alat untuk memudahkan kehidupan manusia. Namun, kasus beredarnya video pocong membawa parang di Batam yang dipastikan sebagai rekayasa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) justru menunjukkan sisi lain dari perkembangan tersebut: potensi mudarat yang besar ketika teknologi tidak diiringi dengan nilai dan aturan yang jelas. Masyarakat yang semula resah dan takut akhirnya menyadari bahwa ancaman itu tidak nyata, tetapi dampak psikologis serta keresahan publik yang ditimbulkan sudah terlanjur terjadi, sebagaimana dilaporkan oleh batamnews.co.id (6/6/2026).
Fenomena ini menegaskan bahwa teknologi tidak pernah bersifat bebas nilai atau netral. Di tangan yang tidak bertanggung jawab, kecanggihan seperti AI dapat dimanipulasi untuk menciptakan kebohongan yang tampak sangat nyata (deepfake). Akibatnya, hoaks menjadi semakin sulit dibedakan dari fakta, sehingga masyarakat mudah terprovokasi, panik, bahkan saling menaruh curiga. Dalam kondisi kapitalistik seperti ini, informasi tidak lagi diposisikan sebagai sumber kebenaran, melainkan bertransformasi menjadi alat manipulasi opini.
Masalah hoaks bukan sekadar persoalan moral individu yang menyebarkan berita bohong, melainkan potret nyata dari lemahnya sistem dalam mengatur arus informasi publik. Dalam tatanan sekuler hari ini, kebebasan berekspresi dan informasi sering kali tidak diimbangi dengan tanggung jawab keimanan yang kuat. Akibatnya, siapa pun dapat memproduksi dan menyebarkan konten tanpa kontrol sosial yang memadai. Hal ini menciptakan ruang yang sangat luas bagi penyebaran fitnah dan kebohongan yang merugikan hajat hidup masyarakat.
Lebih jauh, kondisi ini memperlihatkan absennya jaminan keamanan yang utuh, baik secara fisik maupun psikologis. Masyarakat hari ini tidak hanya menghadapi ancaman dunia nyata, tetapi juga dihantui oleh ancaman semu yang diciptakan melalui rekayasa teknologi. Ketakutan kolektif yang muncul akibat informasi palsu bisa berdampak destruktif sama besarnya dengan ancaman yang sebenarnya di lapangan.
Perspektif Islam: Verifikasi Informasi dan Jaminan Keamanan Publik
Dalam perspektif Islam, keamanan merupakan hak dasar dan tanggung jawab mutlak negara yang harus dijamin secara menyeluruh. Negara tidak hanya berkewajiban melindungi fisik masyarakat dari ancaman kriminalitas, tetapi juga wajib membentengi pemikiran mereka dari informasi yang menyesatkan (tsaqafah madzmumah). Setiap informasi yang disampaikan ke ruang publik harus melalui mekanisme filter yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga tidak memicu keresahan (riaj) atau kerusakan di tengah masyarakat.
Prinsip kehati-hatian informasi ini sejalan dengan firman Allah ﷻ:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…” (QS. Al-Hujurat: 6).
Ayat ini menegaskan kewajiban melakukan proses tabayyun (verifikasi informasi) secara ketat sebelum sebuah berita disebarluaskan, agar tidak menimbulkan penyesalan dan kerugian sosial di kemudian hari.
Selain itu, Islam melarang keras segala bentuk penyebaran fitnah, rumor, dan berita bohong. Pelaku yang dengan sengaja memproduksi serta menyebarkan hoaks akan dikenai sanksi takzir (ta'zir) yang tegas dari negara sebagai bentuk perlindungan terhadap kehormatan masyarakat. Penegakan hukum ini bertujuan untuk menjaga kepercayaan publik (trust) serta mencegah terjadinya disintegrasi sosial akibat infodemik yang tidak benar.
Dalam hal pengelolaan teknologi, Islam tidak pernah menolak kemajuan zaman. Sebaliknya, perkembangan sains dan teknologi tetap didorong secara masif, namun pemanfaatannya wajib bersandar penuh pada koridor hukum syarak. Artinya, setiap aspek pemanfaatan teknologi harus diarahkan untuk kemaslahatan (mashlahah) dakwah serta pelayanan publik, dan diharamkan secara mutlak digunakan untuk merugikan atau menakut-nakuti orang lain. Dengan adanya regulasi syariat yang jelas, potensi penyalahgunaan teknologi dapat diminimalisasi secara total.
Penutup
Akhirnya, kasus video rekayasa AI di Batam ini harus menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kemajuan teknologi tanpa kendali nilai keimanan dapat berubah menjadi monster ancaman yang mengerikan. Yang dibutuhkan umat hari ini bukan sekadar kecanggihan digital, melainkan sebuah sistem baku yang mampu mengarahkan pemanfaatan teknologi agar tetap berada dalam koridor kebenaran dan kemaslahatan hakiki. Tanpa adanya perombakan sistemis tersebut, masyarakat akan terus hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian yang melelahkan antara fakta dan rekayasa.
Wallahu a'lam bish-shawab.

0 Komentar