
Oleh: L. Nur Salamah
Sahabat Feature News
"Bu Nur, Jumat bisa hadir acara makan bersama?" tanya Ustazah Endang melalui pesan singkat WhatsApp.
Ustazahku yang memiliki nama lengkap Endang Hertuti ini biasa disapa Ustazah Endang Ummu Zahro. Beliaulah salah satu sosok utama yang membuatku jatuh cinta pada bahasa Arab. Dua tahun lebih beliau dengan sabar membersamai dan membimbingku belajar bahasa Arab benar-benar dari nol.
"Insya-Allah, saya mengupayakan untuk bisa hadir, Ustazah," jawabku singkat.
Jumat (19/06/2026) memang hari yang direncanakan untuk agenda makan bersama kelas bahasa Arab Markaz Ummu Sulaim, Batam. Sebuah momentum kecil yang dirancang untuk memupuk ruh jama'i (semangat kebersamaan) sesama thalibah (santriwati).
"Ditunggu kehadirannya ya, Bu Nur. Kangen, di kelas enggak ada Bu Nur," lanjut Ustazah Endang dalam baris pesan WhatsApp berikutnya.
Sepekan terakhir ini aku memang tidak pergi ke mana-mana. Beberapa jadwal kajian rutin tidak kuhadiri. Dua kelas bahasa Arab yang diasuh oleh Ustazah Endang pun terpaksa kulewatkan. Bukan karena ingin melalaikan atau enggan, melainkan karena ada satu hal di hidupku yang harus mutlak diprioritaskan: orang tuaku yang kini tinggal satu-satunya.
Pak Darman namanya. Beliau dinyatakan positif mengidap tuberkulosis (TBC). Kondisinya sangat lemah, didera mual dan muntah yang konstan, hingga sama sekali tidak bisa memasukkan makanan. Sebagai anak semata wayang, tidak ada pilihan lain bagiku selain berdiri merawatnya, sebuah kewajiban dan jalan bakti tertinggi kepadanya.
Ibarat kata, urusan dunia ini tak akan pernah ada habisnya, tetapi orang tua hanya satu. Jangan sampai ada ruang penyesalan tersisa di kemudian hari karena belum berbuat yang terbaik. Sembilan bulan lalu, Emak sudah pergi terlebih dahulu menghadap Sang Pencipta akibat penyakit diabetes melitus yang dideritanya.
Kalau dahulu sewaktu Emak sakit, aku masih bisa membagi waktu untuk pergi mengaji dan melakukan aktivitas luar rumah lainnya karena ada Pak yang setia menjaganya. Namun kini, Pak seorang diri. Tidak ada pilihan lain, akulah yang harus berdiri menjadi benteng penjaganya.
Aku tersadar, mungkin kondisi ini adalah jawaban langsung atas doa-doaku beberapa tahun lalu yang meminta diberikan kesempatan untuk berbakti secara total. Semoga aku mampu menjalani semua ini dengan rida Allah ï·».
Berat? Insya-Allah tidak. Aku berusaha dan terus belajar menjalani ini semua dengan kesabaran penuh.
"Bukankah ini bagian dari ketetapan Allah Subhanahu wa ta'ala, yang insya-Allah adalah bentuk kasih dan sayang-Nya?" gumamku lirih suatu sore, sambil memandangi tubuh Pak yang terbaring lemah.
Namun, ada satu hal yang kerap membuatku tak sanggup menahan air mata: mendengarkan keluh kesahnya. Kondisi fisik Pak semakin hari semakin merosot. Ketiadaan nutrisi yang masuk membuat tubuhnya limbung hingga bolak-balik terjatuh. Tangan dan kakinya sempat terluka dan berdarah, kulitnya pun terkelupas.
Aku sangat mengenal Pak. Beliau adalah sosok yang sangat kuat dan tangguh sepanjang hidupnya dalam menghadapi berbagai badai ujian. Beliau hampir tidak pernah mengeluh. Hatinya begitu bersih, tanpa ada riak iri atau dengki terhadap siapa pun. Jika hari ini beliau sampai berkeluh kesah, aku tahu pasti bahwa rasa sakit yang didekapnya sudah teramat luar biasa.
Sesak napasnya kian berat. Beliau tak bisa tidur. Duduk terasa sakit, berbaring pun tak nyaman.
"Aku kok dikei loro koyo ngene (Aku kok diberikan ujian sakit yang begini rupa)?" ucapnya dengan suara gemetar. Mulutnya memerah, sementara bibirnya kering dan pecah-pecah.
Itu tanda pasti bahwa tubuhnya kekurangan cairan. Wajar saja, Pak sangat enggan minum air putih karena setiap kali air menyentuh lambungnya, rasa mual langsung bergejolak. Ada trauma dan rasa takut yang tertanam di kepalanya untuk sekadar mengonsumsi air putih.
Melihat kondisinya yang tak bisa makan maupun minum, Pak seharusnya menjalani rawat inap di rumah sakit. Namun, beliau bersikeras menolak. Beberapa hari lalu, terpaksa kuambil langkah alternatif sebelum kondisi Pak semakin drop. Aku menghubungi seorang teman tenaga medis untuk memberikan bantuan cairan infus di rumah. Alhamdulillah, setelah dua botol infus masuk, badan Pak terlihat sedikit lebih segar.
Namun, sampai kapan beliau harus bergantung pada jarum infus? Pak bukan tidak mau makan. Beliau sudah berusaha meminta makan, bahkan mencoba sekuat tenaga untuk mengunyah makanan yang kusuapkan. Namun, di tenggorokannya, makanan itu serasa macet dan menolak tertelan. Sungguh, menyaksikan pemandangan itu serasa tersayat-sayat hati ini.
Satu hal lagi yang membuat hatiku mencelos adalah saat melihat Pak harus meminum obat TBC-nya. Ada empat kapsul berukuran besar yang harus ditelannya sekaligus dalam satu waktu. Bagi Pak, momen itu adalah siksaan terbesar karena memicu rasa mual yang hebat.
"Ya Allah..." Hanya kata itu yang bisa kuucapkan seraya menarik napas panjang.
Padahal, obat ini harus dikonsumsi secara rutin tanpa boleh terputus, tepat waktu selama 6 hingga 9 bulan penuh. Namun, jika kondisi fisik Pak terus seperti ini, bagaimana beliau bisa bertahan, ya Allah? Hatiku terus bermonolog pasrah. Tidak ada kata yang bisa kuucapkan saat duduk di dekatnya, selain berbisik lirih mengingatkannya untuk terus berzikir.
Hingga detik ini, belum ada tanda-tanda kesembuhan yang tampak. Sebagai hamba yang lemah dan tak berdaya, biarlah seluruh jalinan takdir ini aku serahkan dan aku sandarkan sepenuhnya kepada-Nya.
“La yukallifullahu nafsan illa wus'aha” (Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya).

0 Komentar