MEMBACA KASUS PENCURIAN DARI AKAR SISTEM


Oleh: Ilma Nafiah
Komunitas Ibu Peduli Generasi

Kasus dugaan pencurian yang melibatkan seorang wanita muda di kawasan Batam Center kembali menyita perhatian publik, sebagaimana dilansir oleh gotvnews.co.id (06/06/2026). Peristiwa ini bukan sekadar tindakan kriminal biasa, melainkan menjadi cermin dari persoalan yang lebih dalam: tekanan hidup di tengah sistem yang menjadikan materi sebagai ukuran utama kebahagiaan. Ketika standar kesuksesan diukur dari kepemilikan materi dan gaya hidup, batas antara yang hak dan yang batil pun kerap terabaikan.

Dalam realitas hari ini, tidak sedikit individu yang terjebak dalam tuntutan ekonomi yang berat. Kebutuhan hidup yang terus meningkat, lapangan kerja yang terbatas, serta minimnya jaminan kesejahteraan membuat sebagian orang mengambil jalan pintas, termasuk melakukan tindakan yang melanggar hukum. Kasus ini memperlihatkan bagaimana sistem yang ada belum mampu menjamin kebutuhan dasar setiap individu secara menyeluruh.

Lebih jauh, fenomena ini juga menunjukkan adanya pergeseran peran dalam struktur sosial. Dalam pandangan Islam, perempuan pada hakikatnya adalah pihak yang berhak dinafkahi, baik oleh ayah, suami, maupun kerabat wali. Namun dalam sistem sekuler saat ini, banyak perempuan yang terpaksa harus berjuang sendiri di ruang publik demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Ketika tekanan ekonomi semakin besar dan tidak ada penopang yang kuat, risiko terjerumus pada tindakan yang salah pun menjadi semakin tinggi.

Kondisi ini menegaskan bahwa persoalan kriminalitas tidak bisa hanya dilihat dari aspek moral individu semata. Ada faktor sistemik yang turut berperan, terutama ketika negara belum sepenuhnya hadir dalam menjalankan fungsinya sebagai pengurus urusan rakyat (raa'in). Ketika kebutuhan pokok tidak terpenuhi secara makmur, sebagian orang akan mencari cara apa pun untuk bertahan hidup, meskipun harus melanggar hukum syarak.


Perspektif Islam: Kesejahteraan dan Pencegahan Kriminalitas

Dalam perspektif Islam, negara memiliki tanggung jawab mutlak dalam memastikan kesejahteraan setiap warga negara. Kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, dan papan harus dijamin pemenuhannya secara per individu. Dengan terpenuhinya kebutuhan asasi ini, celah terjadinya kriminalitas seperti kasus pencurian dapat ditekan secara signifikan. Islam tidak hanya berfokus pada aspek penindakan hukum, tetapi mengutamakan langkah pencegahan (preventif) melalui penerapan sistem ekonomi yang adil dan distribusi kekayaan yang merata.

Prinsip keadilan distribusi ini ditegaskan dalam firman Allah ï·»:

ÙƒَÙŠْ Ù„َا ÙŠَÙƒُونَ دُولَØ©ً بَÙŠْÙ†َ الْØ£َغْÙ†ِÙŠَاءِ Ù…ِÙ†ْÙƒُÙ…ْ
...supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. Al-Hasyr: 7).

Ayat ini menekankan pentingnya distribusi kekayaan yang merata agar tidak terjadi kesenjangan sosial yang ekstrem, yang berpotensi memicu berbagai patologi sosial, termasuk tindak kriminal.

Di sisi lain, Islam memang menetapkan sanksi hukum yang sangat tegas (uqubat) terhadap pelaku pencurian sebagai bentuk perlindungan (hifzhun mal) terhadap hak milik dan penjagaan keamanan masyarakat. Namun, penerapan sanksi tegas ini tidak berdiri sendiri secara kaku. Ia berjalan selaras dengan sistem yang menjamin kesejahteraan ekonomi, sehingga hukuman berat benar-benar menjadi langkah terakhir (ultimum remedium), bukan solusi utama.

Selain itu, Islam menempatkan perempuan dalam posisi yang sangat terhormat dengan memberikan jaminan nafkah mutlak dari laki-laki yang menjadi walinya. Hal ini bertujuan untuk melindungi perempuan dari tekanan ekonomi yang berlebihan, sehingga mereka tidak dipaksa berada dalam kondisi rentan yang mengancam kehormatan serta keselamatan jiwa mereka.


Penutup

Akhirnya, kasus pencurian di Batam Center ini memberikan pelajaran berharga bahwa kriminalitas bukan sekadar persoalan moralitas individu, melainkan sebuah refleksi dari kegagalan sistem yang belum mampu menghadirkan keadilan dan kesejahteraan secara merata.

Tanpa adanya perbaikan mendasar dalam cara negara mengelola sumber daya ekonomi dan menjamin kebutuhan rakyat, peristiwa serupa akan terus berulang secara siklikal. Solusi komprehensif yang kita butuhkan tidak hanya menindak tegas pelaku di hilir, melainkan merombak total akar masalah yang melatarbelakanginya di hulu.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar