MENUJU INDONESIA BANGKRUT, MAHASISWA TURUN AKSI


Oleh: Riani Andriyantih, A.Md.
Aktivis Muslimah

Pemuda dengan semangat besarnya memiliki idealisme yang tinggi sebagai motor penggerak perubahan. Kita tentu ingat perkataan Bung Karno, "Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia." Ungkapan tersebut menandakan bahwa keberadaan pemuda sangatlah penting dan potensial.

Indonesia adalah negeri kaya raya yang gemah ripah loh jinawi. Sayangnya, dengan sumber daya alam yang melimpah, rakyatnya justru masih didera derita. Hari ini, kondisi rakyat Indonesia dipaksa untuk terus mengencangkan ikat pinggang, mengingat selalu ada saja gebrakan yang dibuat oleh penguasa yang dinilai menyusahkan rakyat. Di tengah deraan penderitaan yang seolah-olah tidak ada habisnya, berbagai persoalan sistemis ini tidak ayal memicu kekesalan serta kekecewaan masyarakat luas, hingga akhirnya memicu gelombang aksi demonstrasi mahasiswa.


Demonstrasi Mahasiswa

Pada Jumat, 12 Juni 2026, terjadi aksi demonstrasi mahasiswa yang mendapat perhatian besar dari masyarakat Indonesia. Aksi tersebut dimotori oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) dengan tajuk "Menuju Indonesia Bangkrut".

Aksi demonstrasi dinilai sebagai ruang sah untuk menyampaikan aspirasi, kritik, dan pendapat, sekaligus menjadi fungsi kontrol atas kebijakan para penguasa. Aksi demonstrasi lanjutan pun kembali digelar pada Senin, 15 Juni 2026, yang diikuti oleh gabungan BEM dari berbagai perguruan tinggi serta serikat mahasiswa di sejumlah daerah di Indonesia, sebagaimana dilansir oleh Tribunnews (15/06/2026).

Aksi demonstrasi mahasiswa ini dilakukan sebagai bentuk protes atas kondisi Indonesia yang dinilai sedang tidak baik-baik saja, sekaligus respons terhadap rentetan kasus yang menunjukkan indikasi memburuknya perekonomian nasional. Sebut saja pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sempat menembus angka Rp18.000,00 per dolar, pemborosan anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) beserta dugaan mega korupsinya, kenaikan harga BBM Pertamax, serta berbagai kebijakan lain yang dinilai tidak prorakyat. Dalam aksi demonstrasi tersebut, disuarakan pula beberapa tuntutan yang menjadi alarm keras terhadap kondisi ekonomi Indonesia.


Program yang Menyengsarakan

Masyarakat menilai ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan: utang Rp800 triliun yang mendekati masa jatuh tempo, defisit APBN, kenaikan harga BBM, meroketnya harga pangan, hingga badai PHK massal. Ironisnya, berbagai program dan kebijakan baru yang lahir dirasa bukan berlandaskan pada keberpihakan kepada masyarakat. Sebaliknya, rakyat seolah-olah hanya dijadikan sebagai objek "sapi perah" yang diperas keringatnya. Akibatnya, masyarakat kian kesulitan untuk sekadar bertahan memenuhi kebutuhan hidup pokoknya.

Sebagai respons terhadap berbagai kebijakan yang menyusahkan rakyat tersebut, pada aksi 12 Juni 2026 yang lalu muncul berbagai tuntutan, beberapa di antaranya adalah: stop pemborosan APBN; turunkan harga kebutuhan pokok dan BBM; hentikan program MBG dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih; hentikan militerisme di ranah sipil; serta tuntutan agar Presiden Prabowo berhenti mengelak dan segera mengakui kesalahan tata kelola yang terjadi.

Jika diamati, isi tuntutan tersebut hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak persoalan yang mendera negeri serta kezaliman yang dilakukan oleh pemangku kebijakan. Maka dari itu, pada aksi demonstrasi lanjutan yang digelar pada 15 Juni 2026, setidaknya ada 11+9 tuntutan baru yang dibawa oleh massa aksi ke jalan.


Upaya Pembungkaman

Menyuarakan pendapat di muka umum merupakan suatu aktivitas yang sah dan dilindungi oleh Undang-Undang Dasar. Tertuang dalam UUD Tahun 1945 Pasal 28, setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. Sangat disayangkan, kondisi kritis dan gerakan koreksi ini sering kali dicurigai sebagai upaya makar atau direspons secara represif oleh pemerintah. Akibatnya, tak jarang terjadi penghadangan dan upaya pembungkaman demi menutupi kebobrokan sistem pemerintahan yang ada.

Rakyat ditakut-takuti dengan ancaman intimidasi, intervensi, hingga hilangnya nyawa. Bahkan tidak jarang, publik disuguhkan dengan kondisi pembenturan di lapangan antara masyarakat yang menyampaikan aspirasi dengan para aparat penegak hukum (konsep rakyat bentrok lawan rakyat). Sementara itu, para pemangku kebijakannya dinilai berlindung di balik dinding istana dan manisnya narasi retorika. Kondisi ini menunjukkan kegagalan sistem demokrasi dalam menjamin hak rakyat dalam mengemukakan pendapat, sekaligus kegagalan dalam melahirkan pemimpin yang terbuka terhadap kritik serta transparan dalam kebijakan.


Arah Perubahan Semu

Aksi mahasiswa dari berbagai universitas ini tentu perlu diapresiasi. Fenomena ini menunjukkan bahwa nalar kritis dari para kaum intelektual masih hidup dan memiliki rasa peduli yang tinggi terhadap kondisi negeri. Aksi demonstrasi turun ke jalan menjadi bagian penting sebagai upaya mengoreksi kebijakan penguasa.

Namun, menjadi catatan krusial bahwa arah pergerakan diharapkan tidak hanya mencukupkan diri pada persoalan personal figural yang memimpin. Jauh dari itu, perlu disadari bahwa kerusakan dan kezaliman yang terjadi hari ini merupakan buah dari penerapan sistem demokrasi-kapitalisme yang sudah cacat sejak lahir.

Sistem kapitalisme secara nyata berorientasi pada manfaat material dan keuntungan jangka pendek semata. Sebab, dalam sistem ini, ada harga kos politik yang sangat mahal yang harus dibayar demi memperoleh kedudukan dan jabatan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa selalu ada intervensi dari para pemilik modal dan oligarki yang turut menopang dana para calon pemimpin di pesta politik lima tahunan. Oleh karena itu, dianggap sebagai hal yang wajar jika dalam perumusan kebijakan, kepentingan oligarki ini menjadi bayangan nafsu dan kepentingan politik balas budi.

Standar benar dan salah pun seolah-olah menjadi abu-abu. Siapa pun orang yang menjadi pemimpin, selagi sistem yang diterapkannya masih berupa demokrasi-kapitalisme, dipastikan akan melahirkan kebijakan zalim yang polanya serupa meski tak sama. Sistem yang rusak ini niscaya akan terus memproduksi kebijakan yang menyengsarakan publik.

Analoginya, kita sedang berada di dalam sebuah kendaraan yang sudah tua, sering mogok, dan bobrok. Meskipun pengemudinya adalah seorang ahli yang tersertifikasi, hal itu tidak akan berpengaruh apa pun selagi kendaraan bututnya tidak diganti dengan yang baru. Selain itu, lemahnya sistem pengawasan internal dan tipu muslihat politik memungkinkan aksi-aksi koreksi semacam ini akan terus dibungkam.


Potensi Pemuda sebagai Agent of Change

Berbicara tentang sebuah perubahan berarti kita sedang berbicara tentang sebuah cita-cita besar yang mulia. Mahasiswa sebagai generasi muda dengan energi yang besar dan semangat membara sudah selayaknya menjadi bagian penentu arah peradaban bangsa. Masa depan bangsa berada di tangan pemuda hari ini; merekalah penerus tonggak kepemimpinan dan di tangan merekalah masa depan negeri ini digenggam.

Maka dari itu, jangan sampai potensi besar yang ada berhenti pada idealisme sesaat ketika masih menyandang status sebagai mahasiswa saja. Idealisme dan semangat tersebut harus tetap terjaga hingga mampu mengantarkan pada perubahan yang fundamental, menyentuh akar permasalahan, dan menjadi solusi hakiki dalam seluruh aspek kehidupan. Dengan demikian, aktivitas amar makruf nahi mungkar akan tetap konsisten dilakukan dalam status profesi apa pun kelak, karena menyadari bahwa hal ini adalah bagian dari perintah Allah ï·».

Sebab, mengoreksi kebijakan penguasa merupakan aktivitas muhasabah lil hukkam sebagai kontrol sosial: berbicara sesuai fakta dan data, serta memberikan solusi tanpa menimbulkan masalah baru. Itulah peran pemuda yang kita harapkan, di mana rasa peduli dan cinta melahirkan empati yang tinggi bagi umat.

Mahasiswa seharusnya bergerak sesuai dengan fikrah (pemikiran) dan thariqah (metode) yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Jika kita mau merenung, sejatinya Indonesia bergerak menuju kebangkrutannya justru karena mencampakkan syariat Allah ï·» sebagai peta hidup dan jalan keselamatan. Jika pemimpin hari ini tidak berlandaskan iman dan takwa kepada Allah, serta sistem kehidupan hanya mengandalkan nafsu dan akal manusia yang terbatas semata, maka tinggal menunggu waktu kehancurannya.

Sejarah mencatat dengan tinta emas bagaimana peradaban Islam berhasil melahirkan generasi muda terbaik dunia, seperti Shalahuddin Al-Ayyubi dan Muhammad Al-Fatih, yang mampu mengubah sejarah dunia. Maka, peran kita hari ini tidak lepas dari visi mulia untuk menyadarkan umat agar bergerak atas dasar kesadaran penuh: bahwa tidak ada satu pun sistem mulia yang mampu mengantarkan pada kesejahteraan hakiki selain kita kembali kepada sistem Islam.

Sistem mulia inilah yang niscaya akan memimpin dunia dan memberikan rasa aman bagi seluruh alam, serta menjadikan Indonesia sebagai negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar