
Oleh: Ummu Zaid
Komunitas Ibu Peduli Generasi
Berbagai masalah dalam negeri terus membelit rakyat sepanjang tahun, mulai dari kemiskinan struktural, judi online, prostitusi anak, perundungan, eksploitasi seksual, hingga kekerasan yang kian merajalela. Sementara itu di tingkat internasional, genosida di Palestina terus berlangsung; umat Islam di Gaza dibuat mati kelaparan, sedangkan para penguasa negeri Muslim tidak kunjung bergerak untuk mengirimkan pasukan militer mereka. Padahal, jika menilik kalender Hijriah, 1 Muharam 1448 H telah tiba, namun kondisi umat Islam saat ini masih sangat jauh dari predikat khairu ummah (umat terbaik).
Refleksi Muharam
Seluruh kenestapaan di dalam negeri merupakan buah dari penerapan sistem sekularisme-kapitalisme. Standar manfaat materi telah menggantikan batasan halal dan haram, sehingga kerusakan terjadi secara merata di seluruh lini kehidupan. Hal ini diperparah oleh lemahnya posisi umat Islam di panggung internasional, termasuk ketidakberdayaan dalam membela Palestina karena tiadanya institusi Khilafah yang berfungsi menyatukan dan melindungi umat. Akibatnya, umat Islam terpecah oleh sekat nasionalisme dan tunduk pada hegemoni kekuatan asing.
Oleh karena itu, Muharam harus dijadikan sebagai momentum refleksi bahwa semua kenestapaan ini terjadi akibat jauhnya umat dari aturan Allah ﷻ, bukan takdir mati yang harus diterima dengan pasrah. Makna hijrah hakiki adalah berjuang untuk bermigrasi dari sistem kufur sekularisme-kapitalisme menuju penerapan sistem Islam di bawah naungan Daulah Khilafah.
Rasulullah ﷺ telah mengajarkan bahwa perubahan hakiki membutuhkan perjuangan panjang dan terorganisasi, sebagaimana yang beliau dan para sahabat lakukan. Atas dasar itulah, umat Islam hari ini wajib berjuang bersama jemaah dakwah Islam ideologis yang konsisten mengambil metode (manhaj) dakwah Rasulullah ﷺ untuk menegakkan kembali Khilafah.
Rasulullah ﷺ sebagai Teladan Hijrah
Rasulullah ﷺ memutuskan untuk berhijrah dari Makkah ke Madinah karena dakwah di Makkah selama 13 tahun belum mendapatkan kekuasaan untuk menerapkan wahyu Allah ﷻ, yaitu mendirikan negara yang seluruh tatanan kehidupan masyarakatnya diatur oleh hukum Allah ﷻ secara kaffah. Guna membuka jalan, beliau mengutus Mush'ab bin Umair untuk berdakwah di tengah masyarakat Madinah guna memperkenalkan Islam secara menyeluruh.
Selanjutnya, Rasulullah ﷺ melakukan agenda thalabun nushrah (mencari pertolongan dan perlindungan) kepada kabilah-kabilah yang memiliki pengaruh serta kekuatan militer untuk membantu perjuangan dakwah beliau. Upaya tersebut membuahkan hasil ketika dua kabilah besar Madinah, yaitu suku Aus dan suku Khazraj, memberikan pertolongan mereka dan membaiat Rasulullah ﷺ untuk menerapkan sistem Islam secara kaffah dalam tatanan negara. Melalui momentum ini, rakyat Madinah menerima kepemimpinan Islam dengan rida tanpa ada perlawanan sedikit pun.
Selama 10 tahun berikutnya, Madinah menjelma menjadi negara pioner peradaban Islam yang agung setelah Rasulullah ﷺ menerapkan wahyu Allah ﷻ secara sempurna hingga beliau wafat. Kepemimpinan negara tersebut kemudian dilanjutkan oleh para sahabat (Khulafaur Rasyidin) yang diawali oleh Abu Bakar ash-Shiddiq, hingga institusi kekhalifahan terakhir, yaitu Khilafah Utsmaniyah, runtuh oleh Mustafa Kemal Ataturk.
Hari ini, umat Islam hidup tanpa adanya perisai (junnah) yang melindungi mereka. Maka wajar jika kondisi umat saat ini dipenuhi kesengsaraan dan kehinaan hidup, karena enggan tunduk pada wahyu Allah ﷻ. Bahkan, sebagian umat Islam justru mengingkari hukum dan ajaran Islam untuk diterapkan dalam tatanan individu, masyarakat, dan negara.
Semestinya, Muharam dijadikan tonggak untuk mengaruskan pemikiran bahwa di balik makna hijrah, ada tugas agung bagi umat untuk beralih dari darul kufur menuju darul Islam, yaitu kembali pada fitrah umat Islam di bawah naungan negara Khilafah.
Rujukan Dalil Al-Qur'an
Allah ﷻ berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 41:
وَالَّذِيْنَا هَاجَرُوْا فِى اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوْا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ۗ وَلَاَجْرُ الْاٰخِرَةِ اَكْبَرُ ۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ
“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami akan tempatkan mereka di dunia pada tempat yang baik. Dan pahala di akhirat pasti lebih besar, seandainya mereka mengetahui.” (QS. An-Nahl: 41).
Allah ﷻ juga berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 110:
ثُمَّ اِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِيْنَ هَاجَرُوْا مِنْۢ بَعْدِ مَا فُتِنُوْا ثُمَّ جَاهَدُوْا وَصَبَرُوْا ۗ اِنَّ رَبَّكَ مِنْۢ بَعْدِهَا لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Kemudian Tuhanmu bagi orang yang berhijrah setelah mereka mengalami fitnah, kemudian mereka berjihad dan bersabar, sungguh, Tuhanmu setelah itu Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 110).
Wallahu a'lam bish-shawab.

0 Komentar