
Oleh: Muhar
Jurnalis dan Praktisi Pendidikan
Dakwah dan perjuangan Islam bukan jalan untuk mencari siapa yang paling hebat, paling menonjol, atau paling mendapatkan keuntungan pribadi. Sebab, dakwah dan perjuangan yang dibangun atas dasar ideologi bukanlah ajang persaingan individu, melainkan jalan lurus untuk mengemban sebuah misi besar yang diyakini sebagai wujud ketaatan mutlak kepada Allah ï·».
Oleh karena itu, partai dakwah berideologi Islam sejatinya bukan tempat untuk berburu kedudukan, popularitas, maupun keuntungan materi. Ia adalah wadah perjuangan kolektif yang menghimpun orang-orang yang memiliki kesamaan pemikiran (fikrah) dan metode (thariqah) dalam mengemban dakwah Islam ke tengah masyarakat.
Setiap orang yang bergabung di dalamnya dipandang sebagai bagian dari satu kesatuan perjuangan. Jangan sampai ada individu yang merasa lebih tinggi hanya karena kemampuan akademis atau kedudukan struktural, namun jangan pula sampai ada anggota yang bersikap pasif dan tidak mengambil peran perjuangan. Sebagai sebuah jemaah yang tak terpisahkan, semua yang tergabung di dalamnya didorong untuk senantiasa melakukan fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan), saling menguatkan, serta menunaikan amanah dakwah sesuai porsi tanggung jawab masing-masing.
Menempa Kepemimpinan dalam Barisan Dakwah
Dalam proses perjuangannya, setiap kader dibina oleh partai agar siap menjadi pemimpin ketika diberi amanah, sekaligus siap dipimpin ketika berada dalam barisan dakwah. Sebab, kepemimpinan di dalam Islam bukanlah sebuah hak keistimewaan pribadi (privilege), melainkan sebuah tanggung jawab (mas'uliyah) berat untuk menjalankan roda tujuan perjuangan.
Konsep ini sejalan dengan pembahasan mendalam dalam kitab At-Takattul Al-Hizbi (Pembentukan Partai Politik Islam) karya Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani. Beliau menjelaskan bahwa pembentukan sebuah partai ideologis wajib dibangun berdasarkan kesatuan pemikiran (takahul fikri), kesatuan perasaan (takahul syu'uri), dan keterikatan pada aturan yang mengikat seluruh anggotanya dalam mengemban satu tujuan perjuangan yang sama.
Artinya, ikatan internal dalam perjuangan ini bukanlah jalinan yang rapuh karena faktor kepentingan pragmatis atau keuntungan duniawi, melainkan karena kesadaran ideologis terhadap mabda' (ideologi) Islam yang diyakini dan diperjuangkan secara bersama-sama.
Pentingnya Pembinaan Ideologis yang Kokoh
Oleh karena itu, anggota sebuah partai dakwah yang memperjuangkan Islam tidak cukup hanya sekadar berkumpul secara kuantitas. Mereka wajib dibina secara kontinu agar memiliki pemahaman tsaqafah yang kuat, kepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyah) yang matang, serta kesadaran politik yang tajam terhadap tujuan dakwah. Melalui proses pembinaan (tatsqif) tersebut, derap perjuangan tidak akan berjalan hanya berdasarkan modal semangat emosional sesaat, melainkan berdiri tegak di atas fondasi pemikiran yang kokoh.
Pada akhirnya, dakwah dan perjuangan Islam bukanlah tentang membesarkan nama individu, ketokohan figur, atau eksklusivitas kelompok. Orientasi hakiki dari seluruh lelah ini adalah meraih keridaan Allah ï·» dengan konsisten menjalankan kewajiban dakwah, serta memperjuangkan tegaknya kembali kehidupan Islam yang sesuai dengan tuntunan syariat.
Penutup
Maka, partai dakwah sekali lagi bukanlah arena tempat untuk adu hebat. Wadah ini adalah tempat mulia untuk menempa diri, menyatukan langkah perjuangan, dan bergerak bersama dalam satu jemaah dakwah. Kita melangkah bukan untuk mencari keuntungan materi yang semu, melainkan dalam rangka menunaikan amanah perjuangan Islam demi mengharapkan pahala yang mengalir dan keridaan Ilahi.
Wallahu a'lam bish-shawab.

0 Komentar