AMBISI ISRAEL REBUT AL-AQSA, DI MANA PERSATUAN UMAT?


Oleh: Aniroh, A.Md.Akt.
Aktivis Muslimah

Entitas zionis Israel terbukti tidak pernah memedulikan kesepakatan gencatan senjata dengan Palestina. Gempuran militer Israel di wilayah Palestina, khususnya di Jalur Gaza, terus dilakukan secara bertubi-tubi tanpa henti. Di ranah geopolitik, perluasan pemukiman ilegal di Tepi Barat terus digenjot demi merampas tanah Palestina hingga target mencapai 70 persen.

Teranyar, aksi provokatif pengibaran bendera Israel di halaman Masjid Al-Aqsa secara telanjang dipertontonkan sebagai simbol penguasaan sepihak entitas zionis untuk merendahkan muruah umat Islam. Realitas ini menegaskan betapa kuatnya ambisi Israel untuk benar-benar mencengkeram dan menguasai seluruh wilayah Palestina sepenuhnya, yang kian memicu kekhawatiran besar bagi warga Palestina akan nasib masa depan mereka.

Dikutip dari metrotvnews.com (17/5/2026), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka mengakui bahwa militer Israel saat ini telah menguasai sekitar 60 persen wilayah Gaza dan siap untuk memperluas cakupan wilayah tersebut. Langkah agresif ini dilakukan demi mewujudkan ambisi teologis mereka, yaitu membangun "Israel Raya" (Greater Israel).

Demi ambisi tersebut, entitas zionis menghalalkan segala cara: menghancurkan infrastruktur Gaza, memperluas pemukiman ilegal di Tepi Barat, hingga melakukan genosida massal. Apa yang diperlihatkan oleh zionis adalah sebuah kebiadaban, kekejaman, kejahatan kemanusiaan, dan kerusakan terbesar di muka bumi pada abad ini. Bagaimana tidak, serangan fisik dan psikis terhadap warga Palestina tak pernah berhenti, bahkan belum ada satu pun institusi global yang mampu menghentikannya.


Ilusi Solusi Dua Negara dan Pengkhianatan Penguasa

Kelumpuhan dunia internasional ini terjadi karena Amerika Serikat (AS) berdiri kokoh menyokong terwujudnya ambisi Israel Raya. Washington bahkan aktif menyeret para penguasa negeri-negeri Muslim untuk berkompromi mendukung solusi dua negara (two-state solution). Mirisnya, banyak penguasa negeri Muslim yang justru menyambut hangat ajakan tersebut. Padahal, setiap hari mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana penderitaan dan genosida yang menimpa warga Palestina.

Sikap pasif dan kompromistis dari para penguasa sekuler ini justru kian menambah beban penderitaan yang dirasakan warga di lapangan. Realitas memilukan ini tentu memicu pertanyaan besar di benak publik: "Di mana persatuan umat?" Sungguh ironis, dunia memiliki puluhan negeri Muslim dengan jutaan personel militer, namun tidak ada satu pun yang mampu bergerak menghentikan agresi Israel. Kondisi ini terjadi tidak lain karena tersekatnya umat oleh batas nasionalisme serta pengkhianatan politik para penguasanya.


Khilafah sebagai Wujud Nyata Persatuan Umat

Untuk menghentikan penderitaan warga Palestina sekaligus mematahkan ambisi zionis merebut Al-Aqsa, tidak ada jalan lain selain melawan kebiadaban mereka dengan kekuatan yang sepadan. Menghadapi kekuatan militer zionis yang disokong negara adidaya membutuhkan kekuatan politik dan militer global yang terpadu dari umat Islam, yang mewujud dalam institusi sahih, yaitu Khilafah Islamiah.

Oleh karena itu, penegakan kembali sistem Khilafah harus diletakkan sebagai prioritas perjuangan umat Islam di seluruh dunia, karena institusi inilah wujud persatuan hakiki yang diperintahkan oleh syariat.

Khilafah akan menghapus sekat-sekat nasionalisme sempit yang selama ini membelenggu dan memecah-belah kekuatan negeri-negeri Muslim. Institusi ini juga akan menghentikan sikap tunduk para penguasa terhadap agenda Barat. Sebaliknya, seorang khalifah akan menjalankan fungsi utamanya sebagai perisai (junnah) umat dengan memobilisasi pasukan militer resmi dari berbagai penjuru dunia untuk membebaskan tanah suci Palestina secara total, serta mengusir entitas zionis dari tanah wakaf milik kaum muslimin tersebut.

Mewujudkan kemerdekaan Palestina bukan sekadar urusan bantuan kemanusiaan lokal, melainkan kewajiban akidah yang mengikat setiap individu Muslim. Sudah saatnya umat ini mencabut akar penderitaan Palestina dengan mencampakkan sistem sekuler dan kembali menyatukan barisan di bawah naungan kepemimpinan Islam yang kaffah.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar