MUHARAM SEBAGAI FAJAR: MENYINGKAP KABUT, MENYINGSING CAHAYA ISLAM SEPENUHNYA


Oleh: Irma Suryani, S.T.
Komunitas Ibu Peduli Generasi

Muharam ibarat fajar baru yang menyingsing dari ufuk waktu, memecah kegelapan dan membentangkan cahaya ke seluruh penjuru bumi. Ia adalah angin perubahan yang berembus lembut namun tegas, menggoyangkan dahan-dahan yang mulai layu, dan menyegarkan kembali akar-akar iman yang lama terpendam. Di bulan ini, waktu seolah berputar kembali ke titik permulaan, mengajak kita menanam benih baru di ladang kehidupan agar tumbuh menjadi pohon yang rindang, kokoh, dan berbuah lebat, yang naungannya melindungi setiap ruang dan sisi hidup kita.

Umat hari ini dipanggil bagaikan pasukan yang bangkit dari istirahat, mengangkat panji kebenaran yang telah lama tergantung diam. Kita diajak menjadikan Islam bukan sekadar hiasan di dinding, melainkan napas yang mengalir di setiap urat nadi, menjadi sungai jernih yang mengairi setiap pelosok pemikiran, perbuatan, hingga tatanan masyarakat. Muharam adalah momen untuk merajut kembali kain yang terurai, menyusun kembali bangunan yang retak, hingga Islam tegak utuh sebagai kubah yang menaungi segalanya, bersinar penuh tanpa ada bagian yang tertinggal atau tersembunyi.

Muharam 1448 H datang kembali bagaikan matahari yang terbit di atas tanah yang gersang. Namun, saat kita memandang sekeliling, pemandangan yang terhampar bukanlah kebahagiaan, melainkan tumpukan luka dan kehancuran yang kian dalam. Di dalam negeri kita, kemiskinan struktural masih membelenggu sekitar 23,85 juta jiwa rakyat. Data BPS per Maret 2025 mencatat 8,47% penduduk hidup di bawah garis kemiskinan, dengan jurang pemisah yang kian mencolok antara kota dan desa.

Ketimpangan ini tergambar nyata dari angka rasio gini nasional yang mencapai 0,375, di mana wilayah perkotaan mencatat ketimpangan lebih tinggi sebesar 0,395 dibandingkan perdesaan yang berada di angka 0,299. Ironisnya, beban terberat masih dipikul oleh warga perdesaan dengan tingkat kemiskinan mencapai 11,03%, jauh melampaui wilayah perkotaan yang berada di angka 6,73%. Kemiskinan ini bukan takdir, melainkan jebakan sistem: akses tanah, pendidikan, pekerjaan, dan modal dikunci, sehingga petani, buruh, dan warga desa terperangkap dalam lingkaran sengsara yang tak berujung.

Di tengah penderitaan ekonomi, kerusakan moral merajalela bagaikan api yang membakar hutan kering. Judi daring (online) kini menjadi industri gelap bernilai ratusan triliun rupiah yang menjerat jutaan orang tua dan remaja, menghancurkan ekonomi keluarga, memicu utang, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga tindakan bunuh diri, sebagaimana dipaparkan dalam Laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) periode 2024–2025.

Lebih mengerikan lagi, data resmi kompilasi dari National Center for Missing & Exploited Children (NCMEC), Komdigi, PPATK, dan Kemenko PMK menunjukkan Indonesia menempati peringkat ke-3 dunia dalam kasus eksploitasi seksual anak secara daring. Tercatat ada 1,45 juta kasus pada 2024, di mana lebih dari 24.000 anak usia 10–18 tahun terjebak prostitusi dengan nilai transaksi mencapai Rp127 miliar. Bahkan, konten cabul buatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) makin marak merusak masa depan anak bangsa. Di sekolah dan masyarakat, perundungan, kekerasan fisik, dan pelecehan kian menjadi-jadi, seolah nilai kemanusiaan dan agama telah hilang dari dada. Semua ini terjadi karena ukuran halal-haram telah diganti dengan ukuran untung-rugi, dan materi dijadikan satu-satunya patokan keberhasilan.

Menoleh ke luar negeri, penderitaan saudara kita di Palestina adalah luka terbuka yang tak kunjung kering, sekaligus bukti nyata dari ketidakberdayaan umat Islam. Di Gaza, meski gencatan senjata telah menghentikan status kelaparan ekstrem (famine), krisis kemanusiaan yang ditinggalkan tetap sangat memilukan. Berdasarkan data terbaru Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC) hingga April 2026, sebanyak 1,6 juta jiwa atau 77 persen populasi masih terjebak dalam kerawanan pangan akut tingkat tinggi, termasuk lebih dari 100.000 anak-anak yang terancam kekurangan gizi akut.

Di tengah kehancuran infrastruktur, layanan kesehatan yang hanya berfungsi separuh, dan meroketnya harga pangan yang tak terjangkau, mayoritas keluarga harus bertahan hidup dalam pengungsian yang serba terbatas sebagaimana dilansir dari WHO. Yang paling memilukan, terdapat 57 negara mayoritas Muslim dengan kekayaan minyak dan sumber daya alam melimpah, namun tidak ada satu pun penguasa yang bergerak mengirimkan pasukan militer atau memutus hubungan diplomatik secara total. Umat Islam terpecah-belah oleh batas negara, dikendalikan kepentingan asing, dan tunduk pada kekuatan luar, sehingga Palestina dibiarkan berjuang memulihkan diri sendirian.


Analisis: Akar Masalah Kenestapaan Umat

Kondisi ini membuktikan secara jelas bahwa di awal tahun 1448 H ini, umat Islam masih jauh dari predikat khairu ummah (umat terbaik) yang seharusnya menegakkan kebenaran dan melindungi yang lemah. Mengapa semua ini terjadi? Fenomena ini bukan karena Allah tidak sayang dan bukan pula karena nasib buruk, melainkan buah pahit dari sistem yang diadopsi oleh umat sendiri.

Selama ini kita hidup di bawah aturan sekularisme-kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan, menjadikan keuntungan materi sebagai tujuan utama, dan menyerahkan kedaulatan hukum pada manusia, bukan pada syariat Allah. Akibatnya, hukum berubah-ubah sesuai kepentingan, keadilan diperjualbelikan, dan kerusakan terjadi secara merata di setiap lini kehidupan.

Lemahnya umat hingga tidak mampu membela Palestina juga memiliki hulu penyebab yang jelas, yaitu hilangnya institusi Khilafah. Institusi ini merupakan satu-satunya wadah yang seharusnya menyatukan seluruh umat Islam dalam satu kekuatan politik, satu kebijakan, dan satu komando. Tanpa adanya Khilafah, umat terpecah-belah oleh sekat nasionalisme sempit, tunduk pada hegemoni kekuatan asing, serta tidak memiliki posisi tawar politik maupun militer yang independen untuk membela tanah suci maupun saudara seiman.


Solusi: Jalan Kebangkitan di Bulan Muharam

Oleh karena itu, Muharam ini harus dijadikan sebagai titik balik perjuangan, bukan sekadar momentum pergantian angka tahun ritual semata. Ini adalah waktu yang tepat untuk menyadari bahwa segala penderitaan datang karena kita menjauh dari aturan Allah, bukan takdir mutlak yang harus diterima dengan pasrah.

Makna hijrah yang sesungguhnya bukan sekadar perbaikan kesalehan individu, melainkan sebuah transformasi besar: berjuang meninggalkan sistem kufur sekularisme-kapitalisme, dan menggantinya dengan penerapan sistem Islam secara menyeluruh (kaffah). Sistem yang agung ini hanya bisa tegak dan dijalankan secara utuh di bawah naungan Daulah Khilafah.

Rasulullah ï·º dan para sahabat tidak mengubah peradaban dunia hanya dengan berselimut doa; beliau berjuang secara terorganisasi, bergerak bersama dalam jemaah dakwah, dan menegakkan hukum-hukum Allah secara nyata. Karena itu, kewajiban kita hari ini sangat tegas dan jelas: bergabung, berjuang, dan bergerak bersama jemaah dakwah Islam yang konsisten mengambil metode (manhaj) dakwah Rasulullah ï·º. Upaya ini dilakukan untuk mengembalikan kedaulatan hukum kepada Allah, menegakkan kembali Khilafah, dan mewujudkan Islam kaffah yang akan membebaskan umat dari penderitaan, menyatukan kekuatan militer, serta memancarkan rahmat bagi seluruh alam.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar