PICNIC IN MUHARRAM: GEN Z HIJRAH, TONGGAK PERADABAN


Oleh: Yasmin
Penulis Lepas

Pada Ahad pagi, 28 Juni 2026, telah digelar Kajian Remaja Smart With Islam dengan mengusung tema besar: “Picnic in Muharram: Gen Z Hijrah, Tonggak Peradaban”. Berbagai kalangan anak muda turut hadir memadati acara yang bertempat di Lapangan Tigasan tersebut. Acara ini dikemas menarik dengan konsep piknik luar ruangan (outdoor) yang meriah dan penuh keakraban.

Agenda dibuka oleh Kak Ayu selaku pembawa acara (MC) yang menyapa hangat para peserta dan memaparkan visi-misi diselenggarakannya acara ini. Guna menambah kekhusyukan dan keberkahan suasana, acara dilanjutkan dengan lantunan indah ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan oleh Kak Sela.

Sesi inti yang paling dinantikan adalah pemaparan materi yang dibawakan secara lugas oleh Kak Afaf. Dalam orasinya, Kak Afaf menjelaskan bahwa generasi muda hari ini sangat membutuhkan momentum hijrah yang hakiki untuk memancangkan tonggak baru peradaban emas. Hijrah yang dimaksud bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan Hijrah Maknawi, yakni transformasi total pada aspek karakter, pola pikir (mindset), dan gaya hidup (lifestyle).

Sebagai contoh konkret, hijrah maknawi bergulir dari yang semula malas menunaikan salat menjadi rajin dan tepat waktu. Berpindah dari yang tadinya hobi menghabiskan waktu berjam-jam sekadar memindai (scrolling) konten media sosial yang tidak mendidik (toxic), menjadi pembelajar hal-hal baru yang bermanfaat bagi umat. Serta bertransformasi dari sosok yang apatis terhadap urusan umat, menjadi pemuda yang rindu mendalami ilmu agama.


Tiga Alasan Urgensi Hijrah Gen Z

Kak Afaf menggarisbawahi tiga alasan utama mengapa Gen Z memiliki urgensi yang sangat besar untuk memutuskan berhijrah saat ini juga:
  • Pertanggungjawaban Fase Kepemudaan di Akhirat: Masa muda manusia akan diperiksa secara mendetail oleh Allah ﷻ. Hal ini bersandar penuh pada sabda Rasulullah ﷺ:
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ
Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sebelum ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa dihabiskan, dan tentang masa mudanya untuk apa digunakan...” (HR. Tirmidzi).
  • Ketiadaan Notifikasi Kematian: Tidak ada garansi atau pemberitahuan (notification) kapan ajal akan menjemput. Kematian adalah misteri yang pasti, tidak memandang usia tua maupun muda, serta datang secara tiba-tiba.
Ikhtiar Penyelamatan Diri dari Lingkungan yang Rusak: Ekosistem pergaulan di sekitar remaja hari ini sedang tidak baik-baik saja. Tanpa adanya benteng keimanan yang kokoh dan keputusan sadar untuk masuk ke dalam lingkaran pergaulan yang positif (bi'ah shalihah), remaja otomatis akan terseret arus liberalisasi moral.

Kak Afaf menambahkan bahwa kerusakan multidimensi di muka bumi saat ini telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Pertama, terjadinya dekadensi mental dan moral remaja akibat adopsi sistem sekuler yang mendewakan kebebasan bertingkah laku. Kedua, rusaknya tatanan pergaulan pria dan wanita yang memicu maraknya kekerasan seksual dan pergaulan bebas (free sex). Ketiga, hancurnya keadilan ekonomi kapitalistik yang melahirkan kesenjangan sosial yang kian lebar antara kelompok kaya dan miskin.


Focus Group Discussion (FGD): Membongkar Akar Masalah

Sesi berikutnya dilanjutkan dengan aktivitas Focus Group Discussion (FGD). Pada sesi ini, para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk membedah berbagai studi kasus krusial yang lahir akibat penerapan sistem sekuler buatan manusia. Kasus-kasus yang ditelaah meliputi perundungan (bullying) di sekolah, pergaulan bebas, tingginya angka bunuh diri pada remaja, hingga tragedi kemanusiaan yang melanda Palestina.

Melalui diskusi yang berjalan dinamis tersebut, para peserta berhasil menarik kesimpulan mendasar bahwa Gen Z harus segera merombak pola pikir mereka dengan menjadikan standar halal dan haram sebagai satu-satunya tolok ukur perbuatan sehari-hari. Lebih jauh lagi, pemuda memiliki kewajiban ideologis untuk memperjuangkan agar hukum-hukum Allah ﷻ dapat kembali diterapkan dalam seluruh lini kehidupan, mulai dari sistem pergaulan sosial, kurikulum sekolah, kebijakan media massa, hingga tata kelola negara. Ketika manusia bersedia tunduk pada aturan Pencipta sebagaimana keteraturan alam semesta ini patuh, maka di situlah kedamaian, keadilan, dan kesejahteraan yang hakiki akan mewujud nyata di bumi.

Suasana kajian semakin semarak saat memasuki sesi fruit salad party (menikmati salad buah bersama) untuk melepaskan penat dan menambah semangat para peserta. Agenda kemudian dilanjutkan dengan pembagian hadiah menarik (doorprize) bagi kelompok FGD terbaik, dan rangkaian acara piknik dakwah ini ditutup secara khidmat dengan pembacaan doa bersama yang dipimpin oleh Kak Nurul.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar