
Oleh: Syifa Salsabila
Santriwati PPTQ Darul Bayan Sumedang
Setiap detik dan menit yang berlalu di belahan bumi lain, derita mendalam terus menyelimuti saudara-saudara kita di Palestina. Entitas Zionis Yahudi tanpa henti melancarkan agresi militer brutal yang secara keji menyasar kelompok paling rentan di Jalur Gaza, yakni anak-anak tak berdosa.
Laporan berkala dari berbagai lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengonfirmasi realitas memilukan ini. Militer Israel secara sistematis mengarahkan target serangan ke area permukiman, pengungsian, dan sekolah. Sejak pecahnya eskalasi, ribuan anak di Gaza dilaporkan telah syahid, mengalami luka fisik permanen hingga cacat seumur hidup, serta memikul trauma psikologis yang sangat berat.
Fakta empiris di lapangan menunjukkan bahwa rangkaian sidang umum PBB serta nota kesepakatan damai yang digadang-gadang akan melahirkan resolusi, sama sekali tidak mampu menghentikan laju genosida. Mengharapkan penyelesaian penjajahan Palestina melalui regulasi internasional yang bersandar pada paradigma demokrasi sekuler selamanya tidak akan pernah menemui titik terang. Hal ini terjadi karena keputusan diplomatik yang diambil oleh negara-negara perantara bukan didasari oleh misi murni membebaskan Palestina, melainkan disetir oleh kepentingan geopolitik dan ekonomi global Barat.
Kegagalan Diplomasi Sekuler dan Urgensi Perisai Umat
Oleh karena itu, kaum muslim harus segera sadar dan membuka mata bahwa kemerdekaan hakiki bumi Palestina hanya dapat diraih melalui persatuan umat dalam institusi pemerintahan Islam (Khilafah) yang dipimpin oleh seorang Khalifah. Di dalam ketatanegaraan Islam, seorang pemimpin diposisikan sebagai junnah (perisai atau pelindung) tempat kaum muslim berlindung dan menaruh keselamatan di belakangnya.
Prinsip perlindungan jiwa ini didasarkan penuh pada keyakinan akidah bahwa setiap nyawa manusia wajib dilindungi. Rasulullah ï·º menegaskan fungsi kepemimpinan politik tersebut dalam sabdanya:
Ø¥ِÙ†َّÙ…َا الإِÙ…َامُ جُÙ†َّØ©ٌ ÙŠُÙ‚َاتَÙ„ُ Ù…ِÙ†ْ ÙˆَرَائِÙ‡ِ ÙˆَÙŠُتَّÙ‚َÙ‰ بِÙ‡ِ
“Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.” (HR. Bukhari nomor 2957 dan Muslim nomor 1841).
Tugas utama seorang Khalifah adalah melindungi eksistensi umat, bertindak bak perisai kokoh yang menahan setiap gempuran musuh agar rakyatnya aman. Setiap keputusan politik dan militer yang diambil negara digunakan sepenuhnya untuk menjaga lima perkara mendasar: agama, nyawa, akal, harta, dan keamanan kaum muslim. Islam meletakkan nilai yang sangat tinggi pada kesucian darah seorang mukmin. Rasulullah ï·º bersabda:
Ù„َزَÙˆَالُ الدُّÙ†ْÙŠَا Ø£َÙ‡ْÙˆَÙ†ُ عَÙ„َÙ‰ اللَّÙ‡ِ Ù…ِÙ†ْ Ù‚َتْÙ„ِ رَجُÙ„ٍ Ù…ُسْÙ„ِÙ…ٍ
“Hilangnya dunia itu lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang muslim.” (HR. Tirmidzi nomor 1455 dan An-Nasa'i nomor 3987. Dishahihkan oleh Al-Albani).
Darah satu orang muslim nilainya teramat besar di hadapan Allah ï·». Hancurnya seluruh isi dunia ini diposisikan lebih ringan dibandingkan dengan hilangnya satu nyawa muslim yang dibunuh secara zalim tanpa hak.
Kesimpulan
Dengan demikian, untuk mengembalikan kemerdekaan hakiki bagi Palestina, kita wajib mencampakkan proposal solusi palsu yang ditawarkan oleh Barat dan beralih pada solusi revolusioner Islam. Solusi ini hanya dapat dibangun di atas fondasi persatuan umat di bawah naungan kepemimpinan global yang menerapkan syariat Islam secara menyeluruh (kaffah).
Masa depan Palestina dan keselamatan generasi muda di Gaza berada di atas pundak kepedulian kita hari ini. Sudah saatnya kita bergerak bersama, terus memperdalam tsaqafah Islam, dan menyebarkan dakwah ideologis ini ke tengah masyarakat. Mari menjadi bagian penting dari perjuangan mulia mengembalikan perisai umat yang telah hilang.
Wallahu a'lam bish-shawab.

0 Komentar