
Oleh: Ai Ita
Komunitas Ibu Peduli Generasi
Benarkah negara kita sudah bebas? Benarkah kita benar-benar sudah merdeka?
Setiap tahun, kemerdekaan Indonesia diperingati dengan berbagai kegiatan, mulai dari upacara, perlombaan, hingga karnaval. Semua itu menjadi bentuk kegembiraan dan rasa syukur atas kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan.
Namun, di tengah semarak perayaan tersebut, sudahkah kita bertanya: Apakah kemerdekaan benar-benar telah menghadirkan kehidupan yang aman, sejahtera, dan terbebas dari berbagai persoalan?
Jangan sampai kemerdekaan hanya dimaknai sebatas seremonial dan hiburan sesaat, sementara berbagai persoalan kehidupan masih terus menghimpit masyarakat.
Kita tidak seharusnya menutup mata dan merasa bahwa keadaan baik-baik saja. Di sekitar kita masih begitu banyak persoalan yang membutuhkan perhatian. Ketika kita memilih diam, bungkam, dan tidak mau peduli, tanpa disadari kita ikut membiarkan berbagai bentuk kezaliman terus berlangsung.
Secara fisik mungkin bangsa ini telah terbebas dari penjajahan. Namun, apakah kita benar-benar telah merdeka dalam seluruh aspek kehidupan?
Ketika Rakyat Masih Tercekik
Berbagai persoalan terus datang silih berganti. Kondisi ekonomi makin berat. Lapangan pekerjaan terbatas, harga kebutuhan pokok meningkat, sementara daya beli masyarakat menurun. Bagi sebagian rakyat, memenuhi kebutuhan sehari-hari bahkan menjadi perjuangan hidup-mati.
Pendidikan dan masa depan anak-anak pun menjadi kekhawatiran besar. Persoalan akhlak dan adab makin memprihatinkan. Pelayanan kesehatan masih menghadapi berbagai tantangan. Di sisi lain, praktik riba, kekerasan seksual, perceraian, perselingkuhan, pembunuhan, korupsi, penipuan, dan berbagai bentuk kriminalitas terus terjadi.
Padahal, Indonesia merupakan negeri yang kaya akan sumber daya alam. Hutan, laut, tambang, dan berbagai kekayaan alam lainnya terbentang luas. Namun, mengapa kekayaan tersebut belum sepenuhnya menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat? Mengapa masih ada masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, bahkan masih ada yang menderita kelaparan?
Salah satu gambaran kecil tentang beratnya kehidupan rakyat terlihat dari kasus seorang pengemudi ojek daring (ojol) di Jakarta Timur.
Pada 17 Juni 2026, Sulis Agung Wibowo, seorang pengemudi ojol, menangis dan memohon ketika sepeda motornya diangkut oleh petugas Dinas Perhubungan (Dishub) karena parkir di atas trotoar saat menunggu pesanan makanan. Bagi Sulis, motor tersebut bukan sekadar kendaraan, melainkan alat utama untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan keluarganya. Kasus itu kemudian tular (viral) dan mendapat perhatian publik hingga akhirnya pihak Dishub melakukan evaluasi dan mengembalikan motor tersebut tanpa dipungut biaya (Kompas, 20/6/2026).
Kasus tersebut memang tidak bisa serta-merta disebut sebagai bentuk penjajahan, sebab pelanggaran aturan lalu lintas tetap harus dipertanggungjawabkan. Namun, kasus ini semestinya membuat kita berpikir lebih dalam: Ketika rakyat kecil begitu rentan kehilangan alat utama pencari nafkahnya, sudahkah sistem yang ada benar-benar menghadirkan perlindungan dan kesejahteraan bagi mereka?
Dan ini hanyalah satu contoh kecil. Masih banyak persoalan rakyat yang menunjukkan bahwa kemerdekaan secara fisik belum otomatis berarti terbebas dari berbagai belenggu kehidupan.
Bukan Sekadar Siapa yang Memerintah
Di sinilah kita perlu mulai berpikir lebih dalam. Apakah berbagai persoalan yang terjadi hanya disebabkan oleh siapa yang sedang memegang kekuasaan?
Jika pemerintah berganti berkali-kali, tetapi sistem yang digunakan tetap sama, apakah persoalan mendasar akan benar-benar berubah?
Persoalannya bukan semata-mata siapa yang memimpin, melainkan aturan seperti apa yang digunakan untuk mengatur kehidupan. Sebab, pemimpin hanya menjalankan aturan yang berlaku dalam sistem. Jika sistem yang digunakan memiliki paradigma yang keliru, pergantian pejabat tidak otomatis mengubah akar persoalan.
Ketika kehidupan diatur dengan sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, agama akhirnya hanya ditempatkan pada wilayah ibadah ritual pribadi. Sementara ekonomi, politik, pendidikan, hukum, pergaulan, dan berbagai urusan kehidupan publik lainnya diserahkan kepada aturan buatan manusia.
Padahal, manusia memiliki keterbatasan. Manusia bisa salah, memiliki kepentingan subjektif, dipengaruhi hawa nafsu, bahkan dapat membuat aturan yang menguntungkan sebagian pihak dan merugikan pihak lainnya.
Berbeda dengan Allah ﷻ. Allah adalah Al-Khaliq, Maha Pencipta manusia dan seluruh kehidupan. Karena itu, hanya Allah ﷻ yang paling mengetahui aturan yang sesuai dengan fitrah manusia dan mampu memberikan kemaslahatan secara hakiki. Allah ﷻ berfirman:
إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ
“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.” (QS. Yusuf: 40).
Merdeka dari Penjajahan Pemikiran
Kemerdekaan tidak cukup hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan secara fisik. Ada bentuk penjajahan yang jauh lebih halus, yaitu ketika manusia kehilangan kebebasan berpikir karena menerima suatu pemikiran sebagai kebenaran tanpa mengujinya dengan akidah Islam (ghazwul fikri).
Kita hidup di tengah arus pemikiran sekuler yang menganggap agama cukup mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya semata, sementara urusan kehidupan publik diserahkan sepenuhnya kepada akal dan kepentingan manusia. Lama-kelamaan umat menganggap wajar ketika aturan Allah ﷻ hanya diterapkan dalam urusan ibadah individual, sementara kehidupan bermasyarakat dan bernegara berjalan dengan aturan lain.
Inilah persoalan mendasar yang perlu disadari. Sebab ketika umat tidak lagi menjadikan wahyu sebagai standar benar dan salah, ukuran kehidupan akan mudah bergeser. Yang halal dan haram dapat ditentukan oleh kepentingan, azas manfaat, suara mayoritas, atau pertimbangan materi semata. Akibatnya, berbagai persoalan kehidupan terus bermunculan dan penyelesaiannya hanya bersifat tambal-sulam.
Karena itu, persoalan umat sesungguhnya bukan hanya persoalan ekonomi, pendidikan, kesehatan, kriminalitas, atau moralis. Ada persoalan yang lebih mendasar, yaitu persoalan akidah dan cara berpikir umat.
Maka, layak bagi kita untuk bertanya: Benarkah kita sudah merdeka jika kehidupan kita masih jauh dari aturan Allah ﷻ?
Islam Kaffah dan Kemerdekaan Hakiki
Oleh karena itu, sudah saatnya umat tidak hanya sibuk merayakan kemerdekaan secara seremonial, melainkan juga merenungkan makna kemerdekaan yang sesungguhnya.
Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana seseorang salat, berpuasa, dan beribadah secara pribadi. Islam adalah agama yang sempurna dan memiliki aturan bagi seluruh aspek kehidupan. Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah).” (QS. Al-Baqarah: 208).
Maka, mempelajari Islam secara menyeluruh (kaffah) berarti memahami Islam bukan hanya sebagai agama ritual, melainkan sebagai pedoman tatanan kehidupan. Umat perlu memahami bagaimana Islam memandang ekonomi, pendidikan, kesehatan, hukum, politik, pergaulan, keluarga, hingga bagaimana negara mengurus rakyatnya.
Dalam pandangan Islam, penguasa bukan sekadar pihak yang memiliki kekuasaan, melainkan raa'in, pengurus dan pelindung urusan rakyat. Rasulullah ﷺ bersabda:
الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Imam (pemimpin) adalah raa'in (pemelihara/pengurus) dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Maka, ukuran keberhasilan sebuah pemerintahan bukan sekadar banyaknya megaproyek pembangunan atau meriahnya perayaan kemerdekaan, melainkan sejauh mana kebutuhan rakyat terjamin, keadilan ditegakkan, dan kehidupan masyarakat diatur berdasarkan hukum Allah ﷻ.
Jangan sampai kita begitu meriah merayakan kemerdekaan dengan berbagai hiburan dan karnaval, tetapi lupa mengajukan pertanyaan yang jauh lebih penting:
- Sudahkah kita benar-benar merdeka?
- Sudahkah kita merdeka dari penjajahan pemikiran?
- Sudahkah kita terbebas dari penghambaan kepada selain Allah ﷻ?
- Sudahkah aturan Allah ﷻ menjadi pedoman dalam kehidupan?
Kemerdekaan hakiki bukan sekadar terbebas dari penjajahan fisik. Kemerdekaan hakiki adalah ketika manusia hanya tunduk dan menghamba kepada Allah ﷻ, bukan kepada hawa nafsu, kepentingan materi, maupun aturan yang bertentangan dengan syariat-Nya.
Karena itu, mari bangkit membangun kesadaran umat. Mari mempelajari Islam secara kafah, memahami akar persoalan kehidupan, dan berusaha mewujudkan kehidupan yang sesuai dengan tuntunan Allah ﷻ. Sebab, merdeka sejati bukanlah ketika manusia bebas melakukan apa saja, melainkan ketika manusia terbebas dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju ketaatan penuh kepada Allah ﷻ.
Wallahu a'lam bish-shawab.

0 Komentar