ANEKSASI ZIONIS MEMBARA, NEW GAZA MENJADI LADANG BISNIS ASING


Oleh: Irma Suryani, S.T.
Penulis Lepas

Tanah Palestina bagai bunga yang kelopaknya dipetik paksa satu per satu, dikoyak demi ambisi yang tak pernah puas. Janji pembangunan di Gaza tampak bagai pelangi yang meneduhkan pandangan, namun di baliknya tersembunyi tangan asing yang memetik manfaat. Aneksasi bagai bara api yang merambat perlahan, melahap tanah leluhur tanpa sisa. Sementara kesepakatan perdamaian hanyalah tirai sutra yang menutupi wajah penjajah, menyembunyikan niat untuk terus merenggut dan menguasai di tengah tangis rakyat yang tak berdaya.

Tepi Barat kini berubah menjadi ladang darah yang terus basah oleh kekejaman permukim ilegal Zionis yang bergerak secara terkoordinasi dan dilindungi langsung oleh pasukan Israel. Rata-rata terjadi sekitar 190 serangan permukim setiap bulan pada empat bulan pertama tahun 2026, dan diproyeksikan melampaui 2.000 kasus hingga akhir tahun. Serangan itu bukan sekadar aksi kekerasan acak, melainkan pembakaran rumah, perusakan kebun zaitun, penyerangan warga, hingga pembakaran masjid-masjid di berbagai desa Palestina.

Di Qusra, Masjid Al-Rahma baru saja dibakar; di desa-desa lain, warga diusir paksa dari tanah leluhur mereka. Bersamaan dengan itu, Israel berencana membangun 2.300 unit permukiman ilegal baru di Yerusalem Timur, di atas tanah yang disita secara paksa dari pemiliknya yang tidak mampu membuktikan kepemilikan dengan dokumen resmi (RRI, 1/8/2026; Detik, 26/7/2026; CNN Indonesia, 6/8/2026).

Kekerasan itu makin diperparah oleh operasi militer Israel yang terus digencarkan. Pasukan secara rutin menggerebek kamp-kamp pengungsi, menangkap warga secara massal, menutup jalan, dan membatasi pergerakan. Di Kamp Qalandiya, puluhan warga ditangkap, jurnalis pun dipukuli saat meliput. Pejabat Palestina menuduh Israel sedang menerapkan strategi yang sama dengan yang dilakukan di Jalur Gaza (penghancuran dan pengusiran paksa) kini dipindahkan dan diperluas ke seluruh Tepi Barat. Sebanyak 56 pos permukiman ilegal baru telah berdiri sejak awal 2026, tersebar dari selatan hingga utara, dirancang untuk memutus akses antarwilayah dan mencaplok tanah sedikit demi sedikit (Detik, 5/8/2026; Spirit of Aqsa, 5/8/2026).

Sementara itu, kesepakatan yang dijuluki "New Gaza" melalui Dewan Perdamaian (Board of Peace) bentukan Amerika Serikat ternyata bukan membawa pembangunan untuk rakyat Gaza. Proyek pertamanya yang bernilai besar justru pembangunan pangkalan militer untuk pasukan asing, bukan rumah warga atau fasilitas kemanusiaan. Visi rekonstruksi yang sempat dipromosikan telah menyusut drastis menjadi sekadar pangkalan militer, yang menunjukkan bahwa Gaza sedang dijadikan ajang bisnis dan penguasaan asing, bukan dikembalikan kepada rakyatnya sendiri (CNBC Indonesia, 7/8/2026).


Tujuan Israel Raya dan Topeng Perdamaian yang Menipu

Aneksasi dan pengusiran terus berjalan di atas protes dunia yang tak berdaya. PBB telah berkali-kali menyatakan permukiman itu ilegal dan melanggar hukum internasional, namun Israel terus mempercepat pembangunannya. Ini membuktikan bahwa tujuan Zionis membangun "Israel Raya" dari Sungai Yordania hingga Laut Tengah adalah rencana yang sangat serius dan berjalan terus tanpa henti.

Kemerdekaan Palestina tidak akan pernah diberikan oleh Zionis, karena itu berarti membatalkan tujuan utama pendirian negara mereka. Oleh karena itu, two-state solution (solusi dua negara) yang terus didengungkan dunia adalah hal yang mustahil terwujud. Zionis tidak akan berhenti sebelum seluruh tanah Palestina dikuasai secara penuh.

Demikian pula kesepakatan New Gaza dan Dewan Perdamaian yang dipimpin Amerika Serikat. Tampaknya di permukaan dijual sebagai upaya rekonstruksi dan perdamaian, namun kenyataannya berubah menjadi ladang bisnis dan penguasaan militer asing. Rakyat Gaza tetap menderita di dalam reruntuhan, sementara yang berkuasa di atas mereka adalah pihak asing yang mengambil manfaat dari tanah yang dijajah. Inilah wajah sebenarnya: perdamaian yang dijual bukan untuk kemerdekaan Palestina, melainkan untuk membagi keuntungan di atas tanah yang masih dijajah.


Jihad dan Persatuan Umat di Bawah Khilafah

Kenyataan pahit ini menunjukkan bahwa Zionis Israel mustahil berdamai. Tidak ada negosiasi, tidak ada perjanjian, dan tidak ada solusi yang dapat diterima oleh pihak penjajah selain penyerahan seluruh tanah Palestina kepada mereka. Oleh karena itu, jalan satu-satunya yang tersisa adalah jihad fi sabilillah dan persatuan negara-negara muslim untuk berdiri bersama melawan penjajah Zionis. Kekuatan umat yang terpecah-pecah kini menjadi alasan mengapa Palestina terus terjajah tanpa daya.

Selain itu, umat Islam harus dibuka matanya terhadap kesepakatan-kesepakatan yang dijual sebagai "perdamaian" dan "pembangunan", namun nyatanya justru mengukuhkan penjajahan dan penguasaan asing. Setiap penguasa negeri muslim yang bergabung atau mendukung kesepakatan semacam Dewan Perdamaian tersebut sesungguhnya telah melakukan pengkhianatan terhadap Palestina dan terhadap umatnya sendiri.

Karena itu, perjuangan menegakkan persatuan seluruh negeri muslim di bawah sistem Khilafah harus makin masif diperjuangkan melalui dakwah politis. Hanya ketika umat bersatu di bawah satu kepemimpinan yang melaksanakan syariat Allah ï·», kekuatan umat akan kembali menjadi kekuatan yang ditakuti, dan saat itulah Palestina akan kembali dibebaskan dari cengkeraman penjajah Zionis.


Kesimpulan

Aneksasi yang terus berlanjut membuktikan bahwa tujuan "Israel Raya" adalah rencana nyata yang tak akan berhenti sebelum seluruh tanah Palestina dikuasai. Solusi dua negara maupun kesepakatan perdamaian hanyalah topeng penjajahan dan pembagian keuntungan. Kemerdekaan Palestina tidak akan pernah diberikan oleh penjajah, dan tak lahir dari perjanjian di atas penderitaan rakyat.

Jalan satu-satunya: membuka mata umat terhadap tipu daya, menolak pengkhianatan penguasa yang memihak penjajah, serta bersatu di bawah Khilafah untuk melancarkan jihad fi sabilillah. Hanya dengan persatuan di bawah syariat Allah ï·», kekuatan Zionis akan runtuh, dan Palestina kembali utuh serta merdeka.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar